Kenapa Al-Qur'an Bicara Alam Semesta? Pesan Ekologis yang Kerap Terlewatkan
Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Al-Qur'an memuat ratusan ayat yang secara eksplisit membentangkan narasi tentang gunung-gunung yang kokoh, bentangan cakrawala, pergerakan angin, hingga siklus hidrologi air yang menghidupkan tanah mati.
Sepanjang sejarah, bentangan ayat-ayat ini kerap diposisikan sebatas bukti teologis untuk memverifikasi kemahakuasaan Sang Pencipta dalam perdebatan akidah. Pembacaan yang semata-mata dogmatis ini membuat pesan moral-ekologis yang inheren di dalamnya kerap terabaikan.
Di balik hamparan narasi kosmis tersebut, Al-Qur'an sejatinya sedang mengonstruksi tatanan etika biosentris dan ekosentris: menegaskan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak biosfer, melainkan hanya satu simpul di dalam jejaring ciptaan yang setara di hadapan Sang Khalik.
Dari Antroposentrisme Menuju Kesadaran Kosmis
Krisis ekologis global hari ini—mulai dari krisis iklim, deforestasi masif, hingga pencemaran air bersih—berakar pada cara pandang antroposentrisme modern. Paradigma ini menempatkan manusia sebagai pusat alam semesta.
Di mana alam non-manusia dinilai sebatas komoditas, instrumen ekonomi, dan objek eksploitasi tanpa hak moral independen. Cara pandang eksploitatif ini kerap bersembunyi di balik kekeliruan tafsir atas doktrin penundukan alam (taskhir).
Konsep taskhir dalam Al-Qur'an kerap disalahartikan sebagai lisensi bagi manusia untuk bertindak semena-mena menaklukkan alam. Padahal secara semantik, sakh-khara bermakna menyediakan fasilitas agar sistem kosmis berjalan harmonis melayani kebutuhan eksistensial makhluk hidup, bukan penyerahan kepemilikan mutlak.
Hubungan manusia dengan alam bukanlah hubungan tuan dengan budak, melainkan relasi pemanfaatan yang terikat pada tanggung jawab etis.
Al-Qur'an mendekonstruksi superioritas antroposentris tersebut secara tegas dalam Surat Al-An'am ayat 38:
"Dan tidak ada seekor binatang pun di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat seperti kamu...."
Frasa umat-umat seperti kamu (umamun amtsalukum) adalah lompatan paradigma ekologis yang revolusioner. Satwa liar, pepohonan, mikroorganisme, dan bentang ekosistem diakui sebagai entitas komunitas tersendiri yang setara dalam status ontologisnya sebagai ciptaan Tuhan.
Mereka memiliki hak hidup, fungsi ekologis yang berdaulat, serta ritme komunikasi dan tasbih transendentalnya sendiri yang mandiri, lepas dari ada atau tidaknya manfaat material bagi manusia. Mengabaikan kesadaran kosmis ini adalah awal mula dari ketidakseimbangan tatanan bumi.
Alam Semesta sebagai Ayat yang Terbentang
Tradisi keilmuan Islam membedakan tanda-tanda kebesaran Tuhan menjadi dua matra: ayat qur'aniyyah (firman tertulis yang terhimpun dalam mushaf) dan ayat kauniyyah (hukum keteraturan alam yang terbentang di jagat raya).
Keduanya berasal dari sumber ontologis yang tunggal dan menuntut penghormatan yang setara. Jika merobek dan menodai lembaran mushaf dianggap sebagai penistaan agama, maka mencemari sungai, membabat hutan hujan tropis, dan merusak lapisan atmosfer pada hakikatnya adalah penistaan terhadap ayat-ayat Tuhan yang berwujud kosmis.
Dalam narasi penciptaan, Al-Qur'an menegaskan bahwa semesta dibangun di atas fondasi keteraturan, proporsi, dan timbangan yang sangat presisi. Dalam Surat Ar-Rahman ayat 7–9, perintah menjaga keadilan timbangan moral dirangkaikan secara intim dengan kestabilan langit dan bumi. Kerakusan ekonomi ekstraktif mengganggu neraca keseimbangan ekologis tersebut, memicu efek domino kehancuran yang ditegaskan sebagai kerusakan:
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia..." (QS. Ar-Rum: 41).
Kerusakan ini tampak nyata pada degradasi elemen paling fundamental bagi kehidupan, yaitu air dan tanah. Al-Qur'an menempatkan air sebagai poros hidrosentris vital bagi seluruh metabolisme biologis: "Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup" (QS. Al-Anbiya: 30).
Ketika air bersih diprivatisasi, dicemari limbah beracun, dan dieksploitasi secara serakah hingga akuifer tanah ambles, manusia telah meruntuhkan tatanan mizan yang dirancang Tuhan, menuai malapetaka ekologis bagi generasinya sendiri.
Mandat Kekhalifahan: Tanggung Jawab Ekologis, Bukan Dominasi
Untuk memulihkan krisis ini, teologi Islam kontemporer menuntut rekonstruksi makna khalifah fil-ardh. Kekhalifahan bukanlah legitimasi teologis bagi hegemoni politik atau dominasi teknologis yang destruktif.
Khalifah adalah sebuah amanah, mandat perlindungan moral, dan representasi peran fungsional manusia untuk memelihara keberlanjutan bumi, bukan menjadi agen perusak.
Tanggung jawab kepemimpinan kosmis menuntut dekonstruksi praksis beragama. Keberagamaan tidak boleh tereduksi menjadi ritualisme individual yang tercerabut dari realitas sosial-ekologis. Ibadah personal harus mewujud dalam praksis etis yang konkret:
Tindakan Konservasi Air: Menginternalisasi teladan Nabi Muhammad SAW yang melarang berlebih-lebihan menggunakan air saat bersuci, kendati seseorang berwudu di tepi sungai yang mengalir deras.
Restorasi Ruang Terbuka Hijau: Mengamalkan visi eskatologis profetik: jika kiamat tiba dan di tangan seseorang masih ada bibit pohon, ia tetap diperintahkan untuk menanamnya.
Asketisme Konsumsi (Zuhud Ekologis): Melawan budaya konsumerisme ugal-ugalan dengan pola hidup yang ugahari, membatasi jejak karbon, dan menghentikan pemborosan sumber daya alam.
Kesalehan seorang hamba tidak lagi diukur semata-mata dari frekuensi liturgis di dalam dinding rumah ibadah, melainkan diuji dari seberapa ramah langkah kakinya memperlakukan bumi tempat ia bersujud.
Menjaga kelestarian lingkungan hidup adalah panggilan iman yang setara dengan penegakan keadilan sosial.

