Konten dari Pengguna

Menyambut Tahun Baru 1448 H: Menakar Ulang Makna Hijrah di Tengah Arus Disrupsi

Ilustrasi menyambut tahun baru Islam. Foto: Pixabay/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi menyambut tahun baru Islam. Foto: Pixabay/pexels.

Setiap kali kalender Hijriah berganti, memori kolektif kita secara otomatis memutar kembali fragmen sejarah empat belas abad silam. Kafilah yang membelah padang pasir, pelarian sunyi nabi Muhammad dari Makkah, hingga penyambutan penuh air mata di Madinah. Romantisme historis ini begitu lekat, melahirkan narasi kenyamanan spiritual yang sering kali berhenti pada perayaan seremonial.

Namun, saat fajar tahun baru Islam 1448 H menyingsing hari ini, bentangan ruang geopolitik dan lanskap sosial kita telah berubah total. Kita tidak lagi berhadapan dengan jarak geografis yang harus ditempuh berminggu-minggu, melainkan kecepatan arus disrupsi digital yang mampu menjungkirbalikkan tatanan hidup hanya dalam hitungan detik.

Menjebak makna hijrah dalam batas ruang masa lalu adalah sebuah anakronisme yang merugikan. Hari ini, esensi perpindahan tersebut menuntut jawaban instan atas badai kecerdasan buatan, pergeseran ekonomi, dan kerentanan eksistensial manusia modern. Profesional muda Indonesia tidak bisa lagi sekadar menjadi penonton pasif yang meratapi perubahan zaman sambil berharap keajaiban datang tanpa adaptasi.

Hijrah di abad ke-21 adalah manifesto transformasi kesalehan ritual menjadi gerakan adaptasi sosial-intelektual yang berdampak berkelanjutan (sustainable impact). Ia adalah sebuah panggilan darurat untuk menggeser episentrum perjuangan kita dari transisi fisik menuju lompatan paradigma keilmuan, teknologi, dan kemanusiaan.

Hijrah Pikiran: Keluar dari Zona Nyaman Keilmuan

Dalam struktur masyarakat modern, stagnasi intelektual adalah bentuk kemunduran yang nyata. Konsep hijrah dalam menyongsong tahun 1448 H ini harus dimulai dari wilayah paling mendasar, yaitu cara berpikir kita sendiri. Al-Qur'an secara eksplisit telah memberikan skema pembagian kerja intelektual ini dalam QS. At-Taubah/9: 122 yang menegaskan bahwa tidak sepatutnya semua orang mukmin pergi ke medan perang, melainkan harus ada sebagian yang memperdalam pengetahuan agama (liyatafaqqahū fiddīn).

Jika kita membuka Tafsir Al-Misbah karya Quraish Shihab, beliau menjelaskan bahwa kata tafaqquh bukan sekadar tahu atau paham, melainkan upaya mendalam yang melahirkan kecerdasan emosional dan intelektual untuk mengantisipasi masalah umat. Ketika "medan perang" hari ini telah bergeser menjadi perang algoritma dan kedaulatan data, maka tafaqquh harus kita perluas pada penguasaan literasi keilmuan baru demi menjaga hajat hidup publik.

Ilustrasi orang berpikir. Foto: Venessa/pexels.

Tuntutan teologis ini terasa makin benderang saat kita membaca karya psikolog Carol Dweck melalui bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success. Dweck, ilmuwan yang lahir di New York pada tahun 1946, menulis bahwa orang-orang dengan growth mindset tidak melihat keterbatasan sebagai takdir mati, melainkan sebagai kapasitas yang bisa terus diregangkan melalui latihan dan kegigihan.

Menguasai kecerdasan buatan, analisis data makro, maupun arsitektur digital bukan lagi sekadar keahlian pilihan bagi profesional muslim, melainkan telah menjelma menjadi fardhu kifayah zaman. Hijrah pikiran berarti membuang jauh-jauh mentalitas inferioritas intelektual dan kemalasan belajar, lalu menggantinya dengan kelenturan kognitif demi menjaga martabat umat di panggung global.

Menjinakkan AI, Menginstitusikan Etika Digital

Ketika teknologi berkembang tanpa kendali moral, ia berpotensi menjadi berhala baru yang mendikte kemanusiaan. Di sinilah letak urgensi bagaimana kita melakukan hijrah dari sekadar pengguna pasif menjadi arsitek yang menjinakkan teknologi tersebut demi kemaslahatan bersama. Saya teringat gagasan brilian Imam As-Shatibi (w. 1388 M) dalam adikaryanya, Al-Muwāfaqāt.

Melalui konsep Maqāshid Syarī’ah, As-Shathibi menekankan pentingnya ḥifzh al-'aql (menjaga akal). Di era limpahan informasi digital saat ini, menjaga akal berarti menyaring hoaks, memitigasi bias algoritma, dan memastikan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan tidak justru mereduksi kapasitas berpikir kritis serta keluhuran moralitas kita sebagai manusia.

Ilustrasi AI. Foto: Markus/pexels.

Kekhawatiran ini sejalan dengan apa yang pernah ditulis oleh pakar teori komunikasi asal Kanada, Marshall McLuhan (1911–1980), dalam bukunya yang sangat monumental, Understanding Media: The Extensions of Man. McLuhan memperingatkan bahwa medium teknologi secara inheren membentuk cara manusia berpikir dan berperilaku. Tanpanya disadari, kita dibentuk oleh alat yang kita ciptakan sendiri.

Tanpa adanya intervensi nilai moral yang kuat, manusia urban akan terdikte sepenuhnya oleh kepentingan kapital di balik layar digital. Oleh karena itu, tugas profesional muda hari ini adalah melakukan penetrasi moral ke dalam baris-baris kode pemrograman. Hijrah etika digital berarti menginstitusikan nilai-nilai keadilan universal, transparansi, dan kemanusiaan ke dalam sistem teknologi yang kita bangun agar ia melayani keluhuran manusia, bukan sebaliknya.

Ekosistem Madinah: Skema Kolaborasi Masa Kini

Langkah strategis pertama yang dilakukan oleh Rasulullah SAW setibanya di Madinah adalah membangun ekosistem sosial-ekonomi yang kokoh melalui persaudaraan. Sebagaimana terekam dalam HR. Al-Bukhari No. 3937, peristiwa dipersaudarakannya Kaum Muhajirin yang kehilangan aset fana mereka dengan Kaum Ansar yang menguasai sumber daya lokal, tidak berakhir sebagai aksi karitatif belaka.

Peristiwa itu adalah sebuah rancang bangun ekonomi berbasis kolaborasi yang tangguh dan mandiri. Di era disrupsi, narasi sejarah ini memberikan pelajaran mahal bahwa hijrah sejati berarti meninggalkan ego sektoral, kompetisi yang saling mematikan, dan silo-silo organisasi, lalu beranjak menuju penguatan jaringan bersama yang inklusif.

Ilustrasi orang berkolaborasi. Foto: Rasyidah/pexels.

Realitas historis ini menemukan resonansinya yang sangat pas dalam buku The Rise of the Network Society karya Manuel Castells, sosiolog kontemporer kelahiran Hellín, Spanyol, pada tahun 1942. Castells memaparkan bahwa struktur sosial modern saat ini tidak lagi digerakkan oleh kekuatan terpusat yang kaku, melainkan oleh kekuatan jaringan global (networks) yang saling terhubung melalui teknologi informasi.

Siapa pun yang memilih untuk mengisolasi diri dalam cara-cara kerja konvensional akan tersisih dengan sendirinya. Merayakan 1448 Hijriah berarti mereplikasi semangat Madinah ke dalam ekosistem digital. Membangun platform kolaborasi antar-profesional, mengintegrasikan potensi lintas disiplin ilmu, dan mengonsolidasikan kekuatan ekonomi umat agar menjadi jaring pengaman sosial yang tangguh menghadapi resesi global.

Melawan 'Alienasi' Urban Lewat Kesalehan Sosial

Kehidupan urban di tengah derasnya arus modernisasi sering kali menyisakan ruang gelap berupa kesepian yang akut dan kerapuhan mental. Profesional muda di kota-kota besar kerap terjebak dalam rutinitas kerja mekanis yang menguras energi, namun kering akan makna spiritualitas sejati akibat tuntutan produktivitas yang eksploitatif. Al-Qur'an menawarkan proyeksi penyeimbang (work-life-spiritual balance) yang presisi terhadap kekosongan batin ini melalui QS. Al-Qashash/28: 77:

"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu..."

Jika kita menilik Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, beliau menguraikan bahwa ayat ini adalah perintah untuk tidak menjadi hamba materi. Hamka menekankan bahwa kesuksesan finansial dan karier di dunia urban hanyalah alat, sedangkan tujuan hakisinya adalah mengalirkan kembali anugerah tersebut dalam bentuk kebajikan (ihsan) yang nyata kepada sesama manusia.

Ilustrasi orang berdoa. Foto: Abdul Aziz/pexels.

Sisi kelam dari keterasingan masyarakat modern yang kehilangan keseimbangan hidup ini pernah dibedah secara apik oleh sosiolog asal Épinal, Prancis, Émile Durkheim (1858–1917) dalam bukunya yang berjudul Suicide. Durkheim memperkenalkan konsep anomie, sebuah keadaan neurotik di mana individu kehilangan jangkar moral dan merasa teralienasi dari komunitasnya akibat pusaran perubahan sosial-ekonomi yang bergerak terlalu cepat tanpa sempat dimaknai.

Ketika profesional urban mengejar target duniawi secara membabi buta hingga melupakan dimensi spiritual dan sosial, mereka sedang berjalan menuju jurang anomie tersebut. Di sinilah esensi hijrah hadir sebagai sebuah gerakan penyembuhan sosial yang sangat humanis; sebuah seruan bagi profesional muda untuk berani mendobrak sekat individualisme, mengalokasikan sebagian waktu serta kapasitas intelektualnya demi merajut kembali solidaritas yang retak, dan memposisikan diri sebagai pelipur lara bagi kemanusiaan.

Kesadaran Waktu dan Pemaknaan Hidup

Pada akhirnya, seluruh akumulasi gagasan, ulasan buku, dan refleksi historis di atas akan kehilangan taji jika hanya berakhir menjadi tumpukan teks yang mati di ujung jari. Momentum perubahan tidak pernah berpihak pada mereka yang hobi menunda transisi dengan seribu satu alasan.

Kejelasan definisi dan urgensi waktu ini telah dipatok secara lugas oleh Rasulullah SAW dalam HR. Al-Bukhari No. 10: "...orang yang berhijrah (al-muhajir) adalah orang yang meninggalkan semua larangan Allah." Ketika larangan Allah di era modern mencakup kemalasan berpikir, pengabaian terhadap nasib sesama, dan pembiaran terhadap ketidakadilan sosial, maka diam dalam kenyamanan status quo adalah sebuah bentuk kelalaian eksistensial.

Ilustrasi orang yang mengingatkan waktu. Foto: Mikhail/pexels

Menunda transisi di tengah dunia yang berubah setiap mili-detik ini sama saja dengan mengajukan diri untuk punah secara relevansi intelektual dan kontribusi sosial. Ketika lembaran baru tahun 1448 Hijriah ini resmi dibuka dan laptop kembali dinyalakan, sebuah gugatan sunyi layak kita layangkan ke dalam lubuk hati terdalam.

Apakah kapasitas intelektual, keahlian digital, dan sisa usia produktif yang kita miliki saat ini akan terus dihabiskan hanya untuk memutar roda mesin kapitalisme global demi pemenuhan validasi materi yang fana? Ataukah kita sudah cukup berani mengambil langkah awal yang konkret untuk mulai mengonversi talenta kita menjadi warisan peradaban yang abadi, serta membiarkan semangat hijrah kali ini benar-benar melompat melampaui sekat-sekat zaman?