Kumparan Logo

Menikmati Masakan Rumahan Jogja di Tengah Kota Jakarta: Warung Bu Ageng

kumparanFOODverified-green

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Buat kamu yang sedang rindu suasana dan masakan khas Yogyakarta, tetapi belum sempat bepergian ke Kota Gudeg, ada satu tempat di Jakarta yang bisa menjadi pilihan, namanya Warung Bu Ageng.

Warung yang sebelumnya hanya bisa ditemui di Jalan Tirtodipuran, Yogyakarta, kini membuka cabang pertamanya di Jakarta. Lokasinya berada di Jalan Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta Pusat, tak jauh dari Halte Transjakarta Pasar Cempaka Putih.

kumparanFOOD berkesempatan mencicipi langsung sejumlah menu andalan Warung Bu Ageng Jakarta pada Minggu (9/8). Kesan pertama yang terasa bukan hanya dari makanannya, tetapi juga suasana tempatnya.

Suasana Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Bangunan bergaya rumah Jawa, dinding gebyok, furnitur kayu, hingga deretan lukisan tokoh-tokoh membuat suasana warung terasa seperti sedang bertamu ke rumah keluarga di Yogyakarta. Konsep tersebut memang sengaja dipertahankan agar Warung Bu Ageng di Jakarta tidak terasa jauh berbeda dari rumah makan pertamanya di Jogja.

“Kami satu keluarga itu menginginkan tidak jauh, jangan berbeda banget dari yang Jogja,” kata Rulyani Isfihana atau yang akrab disapa Bu Ageng saat ditemui kumparanFOOD di lokasi, Minggu (9/8).

Bedanya, Warung Bu Ageng Jakarta menyesuaikan dengan kondisi ibu kota. Salah satunya adalah adanya pendingin ruangan di salah satu bilik. “Di Jakarta kalau nggak pakai AC memang luar biasa panas,” ujar Bu Ageng sambil tertawa.

Menjajal Menu yang Bikin Kangen Jogja

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Setelah menikmati suasananya, saatnya masuk ke bagian yang paling penting, yaitu makanan. kumparanFOOD mencoba beberapa menu, mulai dari eyem pengeng, nasi campur paru ketumbar, terong barendam dengan telur dadar, es setup jambu, hingga teh teko.

Menu pertama yang dicicipi adalah eyem pengeng. Namanya mungkin terdengar unik, tetapi hidangan ini sebenarnya merupakan ayam kampung yang dimasak dengan bumbu tradisional dan santan kelapa.

Kuah arehnya dibuat hingga mengental, menghasilkan rasa gurih yang berpadu dengan karakter bumbu yang cenderung manis. Sekilas, hidangan ini sebenarnya lebih tepat disebut ayam panggang. Namun, ada cerita di balik nama “eyem pengeng”.

Menurut Butet Kartaredjasa, suami dari Bu Ageng, nama tersebut berasal dari cara seorang penjual menjajakan ayam panggang secara berkeliling dengan suara sengau. Istilah itu kemudian dipopulerkan oleh budayawan Umar Kayam dalam tulisannya di kolom Kedaulatan Rakyat.

Dari namanya yang unik, cerita di baliknya, hingga rasanya, eyem pengeng terasa seperti salah satu menu yang membawa jejak kuliner Jawa ke meja makan.

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Berikutnya ada nasi campur paru ketumbar. Seporsi nasi ini disajikan dengan abon ikan tuna, keripik kentang, areh, sambal kutai, kerupuk legendar, serta lauk utama sesuai pilihan.

Untuk lauknya, tersedia sejumlah pilihan seperti ayam bakar suwiran, paru ketumbar, lele njingkrung, lidah masak semur, baceman kambing, hingga terik daging sapi.

Pilihan kumparanFOOD jatuh pada paru ketumbar. Tekstur parunya empuk dengan bumbu ketumbar yang terasa cukup kuat. Perpaduan nasi, areh, sambal, dan lauk membuat satu porsi ini terasa komplet tanpa harus mencari tambahan menu lain.

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Ada pula terong barendam dan telur dadar. Terong yang lembut berpadu dengan bumbu bercita rasa gurih-manis. Sementara telur dadarnya menjadi pelengkap sederhana yang justru cocok disantap bersama nasi dan lauk lainnya.

Secara umum, karakter rasa di Warung Bu Ageng memang cenderung manis. Namun, rasa manisnya tidak sampai menutupi gurih dan rempah dari masing-masing masakan.

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Bu Ageng mengatakan rasa makanan di Jakarta pada dasarnya tetap dibuat sama seperti di Jogja. Hanya saja, kadar manisnya sedikit dikurangi untuk menyesuaikan lidah warga Jakarta. “Prinsipnya sama, cuma kadar manisnya dikurangi. Karena kalau di Jogja manis, cenderung manis,” kata Butet.

Ditutup Teh Teko dan Es Setup Jambu

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Setelah menyantap makanan yang cukup mengenyangkan, pengalaman makan di Warung Bu Ageng ditutup dengan minuman. Ada teh teko yang disajikan menggunakan teko. Minuman ini merupakan teh tubruk berisi campuran beberapa jenis teh Jawa, diseduh dengan air mendidih dan disajikan bersama gula batu.

Karakter rasanya nasgitel alias panas, legi, dan kenthel. Tehnya terasa pekat, manis, dan hangat, sehingga cocok menjadi penutup setelah menyantap makanan dengan bumbu yang cukup kuat.

Selain teh, ada es setup Jambu. Minuman ini memberikan sensasi yang lebih segar dan menjadi pilihan menarik bagi yang ingin menutup makan dengan sesuatu yang dingin.

Kombinasi keduanya sekaligus memperlihatkan karakter Warung Bu Ageng yakni sederhana, rumahan, tetapi punya cerita di balik setiap menu.

Dari Masakan Rumahan di Jogja ke Jakarta

Rulyani Isfihana "Bu Ageng", pemilik Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Warung Bu Ageng pertama kali berdiri di Yogyakarta pada 2011. Setelah sekitar 15 tahun berjalan, keluarga Bu Ageng dan Butet Kartaredjasa akhirnya memberanikan diri membuka cabang di luar Jogja.

Jakarta pun dipilih sebagai kota pertama.

Menurut Bu Ageng, salah satu alasannya adalah melihat banyak orang Jakarta yang merindukan makanan khas Jogja. Meski membawa konsep dan sebagian besar menu yang sama, ada beberapa perbedaan antara Warung Bu Ageng Jogja dan Jakarta.

Di Jogja, misalnya, tersedia lebih banyak menu lauk yang diasap seperti kambing, sapi, ayam, hingga lele. Lele asap tersebut juga dapat diolah menjadi mangut. Sementara di Jakarta, menu asap tersebut belum tersedia.

Suasana Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Sebagai gantinya, Warung Bu Ageng Jakarta memiliki beberapa menu yang disesuaikan dengan selera dan bahan yang dianggap cocok untuk warga ibu kota, seperti ikan patin dari Kalimantan, terong barendam, dan ikan asin petai.

“Banyak juga orang Jakarta suka makan petai. Makanya kita buat petai. Terus asin-asin juga kayaknya orang Jakarta lebih suka,” kata Bu Ageng.

Butet Kartaredjasa, pemilik Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Bagi Butet, Warung Bu Ageng sejak awal memang bukan sekadar restoran. Ide mendirikannya muncul dari kehidupan rumah tangga mereka. “Saya tidak ingin meninggalkan janda yang sengsara,” ujar Butet sambil tertawa kecil.

Saat ini, ia mengaku sudah mengalami kondisi kesehatan yang membuatnya menyadari kemungkinan tidak lagi produktif. Karena itu, ia ingin menyiapkan kemandirian ekonomi untuk istrinya.

“Saya sudah sakit-sakitan, saya bisa mati setiap saat, bisa tidak produktif, maka seluruh aset saya, saya dedikasikan kepada istri saya. Membeli tanah, bikin warung, bikin usaha, supaya istri saya punya kemandirian ekonomi,” tuturnya.

Menu dari Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Resep-resep yang disajikan pun berasal dari masakan rumahan Bu Ageng. Awalnya, sejumlah kawan mereka yang sering datang ke rumah saat berada di Jogja justru mendorong agar masakan tersebut dijadikan usaha.

Kini, setelah 15 tahun, masakan rumahan itu akhirnya bisa dicicipi di Jakarta.

Bukan Sekadar Restoran Jawa

Suasana Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Salah satu hal yang membuat Warung Bu Ageng menarik adalah bagaimana mereka mempertahankan atmosfer Jogja tanpa membuatnya terasa seperti tempat wisata.

Di dinding terdapat lukisan dan ornamen yang memiliki cerita. Jika di Warung Bu Ageng Jogja terdapat lukisan tokoh-tokoh yang tumbuh dari Jogja dan kemudian dikenal secara nasional, di cabang Jakarta, tokoh-tokoh yang dipilih merupakan sosok Jakarta yang tumbuh menjadi tokoh nasional.

“Kita model rumah kampung, ada dinding gebyok, ada lukisan-lukisan tokoh-tokoh,” ujar Butet.

Suasana Warung Bu Ageng di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat, Minggu (9/8/2026). Foto: Nauval Pratama/kumparan

Menariknya, Warung Bu Ageng tidak menghadirkan live music Jawa untuk semakin memperkuat suasana tersebut. “Orang datang ke sini karena produk makanannya, bukan karena musik. Sengaja saya enggak ada musik,” ujar Butet.

Warung Bu Ageng Jakarta resmi dibuka, setelah sebelumnya melakukan soft opening sejak 5 Agustus 2026. Warung ini buka setiap hari mulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 23.00 WIB.

Jadi, kalau sedang ingin makan masakan Jawa dengan suasana yang mengingatkan pada Jogja tanpa harus naik kereta atau pesawat, Warung Bu Ageng bisa menjadi salah satu tempat yang menarik untuk dicoba.

Warung Bu Ageng Jakarta

Alamat: Jl. Letjen Suprapto, Cemp. Putih Bar. Kec. Cemp. Putih, Kota Jakarta Pusat

Reporter Nauval Pratama