Ketika Tidak Dipilih: Belajar Mencintai dan Memilih Diri Sendiri
Tulisan dari Elfi Suryati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tidak dipilih bukan berarti tidak berharga menjadi seseorang yang tidak dipilih oleh orang yang kita sayangi adalah hal yang menyakitkan.sebagai seorang wanita, tentu ada keinginan untuk menjadi pilihan satu-satunya bagi seseorang. Menjadi orang yang diyakini, diperjuangkan, dan dipilih tanpa keraguan tentu menjadi harapan.
Namun, ketika kita tidak dipilih, ada luka yang sulit dijelaskan. Tidak terlihat, tetapi terasa begitu dalam. Terkadang, kenyataan mengajarkan bahwa tidak dipilih bukan berarti kita tidak berharga.
Ada begitu banyak hal yang tidak diketahui oleh orang lain. Ada perasaan yang sengaja disimpan, ada kecewa yang ditahan, dan ada pertanyaan yang berkali-kali muncul di dalam kepala. Namun, demi menjaga harga diri, tidak semua hal harus diceritakan. Ada beberapa luka yang cukup diri sendiri yang tahu.
Meski berusaha terlihat baik-baik saja, terkadang mata tidak bisa berbohong. Senyum mungkin masih bisa dipaksakan, kata-kata mungkin masih bisa mengatakan “aku tidak apa-apa”, tetapi mata sering kali menunjukkan apa yang sebenarnya dirasakan hati.
Yang paling menyakitkan bukan hanya ketika mengetahui bahwa kita bukan satu-satunya pilihan. Lebih dari itu, yang menyakitkan adalah ketika kita sudah memberikan ketulusan, waktu, perhatian, dan perasaan, tetapi pada akhirnya masih harus bertanya-tanya tentang posisi kita dalam hidup seseorang.
Ada saatnya kita ingin bertanya, “Sebenarnya aku ini siapa?” Namun, pertanyaan itu sering kali berhenti karena takut mendengar jawabannya. Kita memilih diam bukan karena tidak peduli, tetapi karena terkadang mengetahui kenyataan jauh lebih menyakitkan daripada hidup dalam ketidakpastian.
Pada akhirnya, saya mulai memahami bahwa menjadi pilihan bukanlah sesuatu yang harus dipaksakan. Seseorang yang benar-benar menginginkan kita tidak akan membuat kita terus-menerus merasa harus bersaing untuk mendapatkan tempat di hatinya.
Mungkin mencintai seseorang berarti memberikan yang terbaik, tetapi mencintai diri sendiri berarti tahu kapan harus berhenti meminta kepastian dari seseorang yang tidak pernah benar-benar memberikannya.
Tidak semua kehilangan berarti kegagalan. Terkadang, kehilangan seseorang justru menjadi cara untuk menemukan kembali diri sendiri. Menemukan bahwa kita pantas mendapatkan seseorang yang memilih kita dengan yakin, bukan seseorang yang menjadikan kita sekadar salah satu pilihan.
Dan jika suatu hari nanti saya kembali mencintai seseorang, saya hanya ingin satu hal: tidak perlu lagi menebak-nebak apakah saya cukup berarti. Karena saya ingin dicintai dengan pasti, dipilih dengan tulus, dan diperjuangkan tanpa harus meminta.
Sudah banyak sekali hal yang saya lewati. Saya sering menyalahkan diri sendiri dan bertanya-tanya, apakah memang saya tidak cukup pantas untuk diperjuangkan? Apakah saya memang layak diperlakukan seolah-olah tidak berarti?
Pertanyaan-pertanyaan itu terkadang datang tanpa diundang. Membuat saya kembali mengingat hal-hal yang sebenarnya ingin saya lupakan. Dari sana muncul rasa takut dan trauma yang membuat saya bertanya, lelaki mana lagi yang harus saya percaya setelah beberapa kali merasa dikecewakan?
Bukan berarti saya membenci semua lelaki atau tidak ingin kembali percaya. Hanya saja, ada bagian dalam diri saya yang kini menjadi lebih berhati-hati. Saya takut kembali memberikan kepercayaan, lalu berakhir dengan perasaan yang sama. Takut kembali membuka hati, kemudian harus menutupnya sendiri karena seseorang memilih untuk pergi.
Karena itu, saya mencoba menyibukkan diri. Mengisi hari dengan berbagai kegiatan, bertemu dengan orang-orang, melakukan hal-hal yang saya sukai, dan perlahan belajar untuk tidak terlalu larut dalam pikiran sendiri. Bukan karena saya sudah sepenuhnya baik-baik saja, tetapi karena saya sadar bahwa terus menyalahkan diri sendiri tidak akan mengubah apa pun.
Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mempertanyakan mengapa seseorang tidak memilih saya, sampai lupa bertanya kepada diri sendiri: apakah saya sudah memilih diri saya sendiri?
Saya mulai belajar bahwa nilai diri saya tidak ditentukan oleh siapa yang memilih atau meninggalkan saya. Saya tetap berharga, bahkan ketika seseorang tidak mampu melihatnya. Saya tetap pantas dicintai dengan tulus, meskipun pernah mendapatkan cinta yang membuat saya meragukan diri sendiri.
Mungkin luka ini tidak akan sembuh dalam satu malam. Akan ada hari ketika saya merasa sudah baik-baik saja, lalu tiba-tiba kembali teringat dan merasa sedih. Namun, tidak apa-apa. Saya sedang belajar berdamai dengan sesuatu yang pernah begitu saya perjuangkan.
Dan mungkin, suatu hari nanti saya tidak lagi bertanya, “Mengapa dia tidak memilih saya?”
Saya hanya akan tersenyum dan berkata dalam hati, “Tidak apa-apa. Karena akhirnya, saya memilih diri saya sendiri.
mari untuk terus melangkah kita tidak tau akan seperti apa kejutan yang ada didepan sana tersenyumlah sekalipun kita tidak sama sekali dipilih.
Jadi, mari tinggalkan apa yang terus membuat kita terluka. Mari berhenti mengejar seseorang yang tidak yakin dengan kita, dan mulai mengejar kehidupan yang membuat kita bahagia. Pilih diri sendiri, rawat hati sendiri, dan terus berjalan. Karena hidup terlalu berharga untuk dihabiskan hanya dengan menunggu seseorang memilih kita.
Percayalah, tidak dipilih bukan berarti kita tidak pantas dicintai. Terkadang, kita hanya sedang diarahkan untuk menemukan tempat di mana kita tidak perlu meminta untuk dihargai, karena kita memang sudah dihargai sejak awal.

