Konten dari Pengguna

Darah Bukan Dosa: Mengapa Menstruasi Masih Dianggap Tabu?

Eliana Ratmawati

Eliana Ratmawati

Mahasiswi Manajemen, Universitas Pembangunan Jaya

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Eliana Ratmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Pexels.com

Haid pada perempuan adalah hal yang normal pada setiap perempuan, namun banyak orang-orang yang menganggap menstruasi adalah hal yang memalukan dan sering menutup-nutupi saat sedang menstruasi.

Menstruasi (Nainar, A., Amalia N., Komariyah, 2024) adalah perdarahan yang teratur dari uterus sebagai tanda bahwa organ kandungannya telah berfungsi dengan matang. Biasanya menstruasi terjadi pada saat remaja dan akan mengalami menarche pada usia 12 sampai dengan 16 tahun. Walaupun itu adalah hal yang normal, namun menurut laporan UNICEF pada tahun 2018 memberikan fakta bahwa perempuan menunjukkan bahwa ada rasa, malu, takut, dan takut dianggap aneh saat mengalami menstruasi, dan hal tersebut berdampak buruk pada hak asasi perempuan dalam hak bekerja, kesetaraan, sanitasi, edukasi, kebebasan beragama, dan ada diskriminasi pada saat menstruasi. Ada beberapa dampak yang didapatkan dari stigma perempuan saat menstruasi

Dampak Stigma terhadap Perempuan

Kesehatan dan Sanitasi

Salah satu dampak dari stigma terhadap perempuan adalah kurangnya akses terhadap produk menstruasi yang layak dan fasilitas sanitasi yang memadai dan sering kali membuat perempuan kesulitan untuk menjaga kebersihan selama menstruasi. Di beberapa daerah, bahkan perempuan terpaksa menggunakan bahan yang tidak higienis yang dapat meningkatkan risiko infeksi dan penyakit lainnya.

Edukasi

Perempuan juga sering merasa malu dan karena kurangnya pengetahuan tentang menstruasi banyak anak anak yang tidak ingin bertanya mengenai menstruasi di sekolah maupun di keluarga. Bahkan di beberapa negara banyak anak yang tidak masuk sekolah karena kurangnya edukasi tentang menstruasi.

Hak Bekerja dan Kesetaraan

Selain di lingkungan sekolah, dampak dari stigma negatif pada perempuan adalah adanya stigma yang berkembang yang dapat menghambat perempuan beraktivitas dengan normal di lingkungan kerja. Beberapa perempuan bahkan merasa tidak enak untuk mengambil cuti saat mengalami nyeri menstruasi karena takut dianggap lemah dan tidak produktif,

Diskriminasi Sosial

Perempuan yang sedang menstruasi sering kali dianggap tidak layak untuk melakukan tugas tertentu, baik di rumah maupun di masyarakat. Di beberapa komunitas, perempuan yang sedang menstruasi dilarang memasak, menyentuh makanan tertentu, atau berinteraksi dengan orang lain, yang semakin memperkuat ketidaksetaraan gender.

Upaya Menghapus Stigma Menstruasi

Edukasi Menstruasi Sejak Dini

Maka perlu adanya pendidikan tentang menstruasi yang dimulai sejak usia dini, baik di lingkungan sekolah, komunitas, dan lingkungan kerja. Edukasi bukan hanya diberikan pada anak perempuan tetapi juga kepada anak laki-laki agar mereka memahami bahwa menstruasi adalah hal yang alami dialami oleh setiap perempuan.

Dengan meningkatkan kesadaran sejak dini, kita dapat mengurangi stigma dan membangun generasi yang lebih terbuka dan mendukung kesehatan menstruasi pada perempuan. Selain itu juga pentingnya edukasi di kurikulum sekolah yang harus mencakup informasi yang akurat dan komprehensif tentang menstruasi, termasuk memahami siklus menstruasi, menjaga kebersihan. Para guru juga perlu mendapatkan pelatihan agar dapat memberikan edukasi yang tepat dan menghindari penyebaran informasi yang salah.

Kebijakan yang Mendukung Perempuan

Selain edukasi menjadi kunci utama dalam menghilangkan stigma yang salah mengenai menstruasi, pemerintah juga harus menciptakan kebijakan yang mendukung perempuan saat menstruasi. Hal ini mencakup penyediaan fasilitas sanitasi yang layak, seperti toilet bersih, air bersih, dan tempat pembuangan pembalut yang memadai di sekolah dan tempat kerja. Untungnya di Indonesia sudah ada Undang-undang untuk perempuan yang sedang haid hari pertama dan kedua, yang diatur dalam Undang-Undang (UU) Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, Pasal 81 ayat (1). Peraturan ini menetapkan bahwa pekerja perempuan yang mengalami nyeri saat haid tidak diwajibkan bekerja pada hari pertama dan kedua menstruasi.

Menghapus Mitos dan Kepercayaan yang Keliru

Kampanye kesadaran masyarakat sangat penting untuk menghilangkan mitos dan kepercayaan yang keliru tentang menstruasi. Banyak budaya masih menganggap menstruasi sebagai sesuatu yang tabu, kotor, atau memalukan, sehingga perempuan yang sedang menstruasi seringkali dikucilkan atau dilarang melakukan aktivitas tertentu. Kampanye ini harus dilakukan melalui berbagai media, seperti media sosial, televisi, seminar, dan diskusi komunitas, agar informasi yang benar dapat tersebar luas. Selain itu, tokoh masyarakat, influencer, dan selebritas dapat berperan dalam menyuarakan pentingnya memahami menstruasi dengan cara yang positif dan mendukung perempuan untuk tidak lagi merasa malu atau terdiskriminasi. Kampanye kesadaran masyarakat perlu dilakukan untuk menghilangkan mitos yang membuat menstruasi dianggap sebagai sesuatu yang tabu atau memalukan.

Mendorong Peran Laki-laki dalam Edukasi Menstruasi

Laki-laki juga harus diberikan pemahaman yang cukup tentang menstruasi agar mereka tidak memperkuat stigma negatif yang ada. Selama ini, menstruasi sering dianggap sebagai 'urusan perempuan' saja, padahal pemahaman yang baik dari laki-laki dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi perempuan. Dalam keluarga, ayah dan saudara laki-laki perlu memahami bagaimana cara mendukung anggota keluarga perempuan yang sedang menstruasi. Di sekolah, guru laki-laki juga harus memiliki pemahaman yang baik agar dapat memberikan dukungan kepada siswa perempuan tanpa mempermalukan mereka. Selain itu, di tempat kerja, rekan kerja laki-laki perlu memahami bahwa menstruasi bukanlah sesuatu yang harus disembunyikan atau dianggap sebagai kelemahan, melainkan bagian alami dari kehidupan perempuan yang membutuhkan dukungan dan pemahaman.

Menstruasi adalah proses alami yang seharusnya tidak lagi dianggap tabu atau memalukan. Dengan meningkatkan edukasi, menyediakan akses ke fasilitas dan produk sanitasi yang memadai, serta menghapus stigma sosial, perempuan dapat menjalani menstruasi tanpa hambatan dan diskriminasi. Langkah-langkah ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan perempuan, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan adil bagi semua.

Daftar pustaka

Nainar, A., Amalia N., Komariyah, (2024). Hubungan antara Pengetahuan tentang Menstruasi dan Kesiapan Menghadapi menarche pada Siswi Sekolah Dasar di Kota Tangerang Selatan