Konten dari Pengguna

Feminisme Bukan Tentang Menjadi Ratu: Memaknai Kembali Kesetaraan Gender

Yulinda Nurul Setianti

Yulinda Nurul Setianti

Mahasiswa universitas Pamulang ilmu komunikasi

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Yulinda Nurul Setianti tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di media sosial, istilah “treat me like a queen”, princess treatment, dan provider semakin sering muncul dalam pembahasan hubungan antara laki-laki dan perempuan. Tidak sedikit perempuan yang menganggap bahwa laki-laki seharusnya menjadi pihak yang membayar, menanggung kebutuhan, atau memberikan perlakuan khusus dalam hubungan. Di saat yang sama, mereka juga menggunakan gagasan feminisme dan kesetaraan gender.

sumber : pribadi
zoom-in-whitePerbesar
sumber : pribadi

Fenomena tersebut kemudian memunculkan perdebatan mengenai bagaimana feminisme sebenarnya dipahami. Apakah memperjuangkan kesetaraan berarti perempuan tidak boleh mendapatkan perlakuan khusus? Atau justru keinginan untuk selalu mendapatkan lebih dari pasangan bertentangan dengan semangat kesetaraan?

Menurut UN Women, kesetaraan gender berarti perempuan dan laki-laki memiliki hak, tanggung jawab, serta kesempatan yang setara. Kesetaraan bukan berarti keduanya harus menjalani kehidupan dengan cara yang sama, tetapi kesempatan dan hak seseorang tidak seharusnya dibatasi hanya karena gendernya.

Dengan begitu, feminisme sebenarnya bukan tentang perempuan harus menjadi “ratu” yang selalu mendapatkan lebih banyak. Seorang perempuan tentu boleh menyukai princess treatment, ingin dibayari ketika berkencan, atau memilih pasangan yang berperan sebagai provider. Namun, hal tersebut merupakan preferensi dalam hubungan, bukan kewajiban yang secara otomatis harus dilakukan oleh laki-laki karena mereka laki-laki.

Sebaliknya, laki-laki juga tidak seharusnya dianggap kurang romantis atau kurang bertanggung jawab hanya karena tidak selalu membayar semuanya. Dalam hubungan yang sehat, pembagian peran dapat disesuaikan dengan kondisi ekonomi, pekerjaan, dan kesepakatan kedua pihak.

Hal ini menjadi penting karena kesetaraan gender sendiri masih menjadi persoalan nyata. World Economic Forum dalam Global Gender Gap Report 2026 mencatat bahwa belum ada negara yang berhasil menutup kesenjangan gender sepenuhnya. Indonesia sendiri tercatat telah menutup 68,7% kesenjangan gender berdasarkan indikator yang digunakan dalam laporan tersebut.

Data tersebut menunjukkan bahwa pembahasan feminisme masih memiliki ruang yang jauh lebih luas daripada sekadar siapa yang membayar saat kencan atau siapa yang harus menjadi provider. Ada persoalan mengenai kesempatan, pekerjaan, pendidikan, pembagian tanggung jawab, hingga kebebasan menentukan pilihan hidup.

Feminisme bukan tentang perempuan menjadi lebih tinggi dari laki-laki, melainkan tentang kesempatan dan penghargaan yang setara. Dalam sebuah hubungan, seseorang boleh memberi lebih banyak jika memang itu menjadi pilihannya. Namun, kesetaraan seharusnya tetap menjadi dasar agar hubungan tidak berubah menjadi situasi ketika satu pihak hanya dituntut untuk memberi, sementara pihak lainnya hanya dituntut untuk menerima.