Tentang KamiPedoman Media SiberKetentuan & Kebijakan PrivasiPanduan KomunitasPeringkat PenulisCara Menulis di kumparanInformasi Kerja SamaBantuanIklanKarir
2025 © PT Dynamo Media Network
Version 1.100.8
29 Ramadhan 1446 HSabtu, 29 Maret 2025
Jakarta
imsak04:10
subuh04:25
terbit05:30
dzuhur11:30
ashar14:45
maghrib17:30
isya18:45
Konten dari Pengguna
Ketidakprofesionalan dalam Proses Rekrutmen: Pengalaman yang Mengecewakan
15 Februari 2025 19:02 WIB
·
waktu baca 3 menitTulisan dari Elisabet hana Kartika lana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Dalam dunia kerja, proses rekrutmen seharusnya dilakukan dengan transparansi dan profesionalisme. Namun, kenyataannya, masih banyak perusahaan atau agensi yang menjalankan seleksi tenaga kerja dengan cara yang tidak adil dan merugikan para pelamar.
Salah satu contoh nyata adalah ketika perusahaan mengumumkan kebutuhan tenaga kerja dengan jumlah tertentu, tetapi pada akhirnya hanya memilih lebih sedikit dari yang diumumkan tanpa alasan yang jelas. Lebih buruk lagi, setelah proses seleksi selesai dan kandidat yang sudah diwawancarai merasa memiliki peluang, tiba-tiba perusahaan kembali membuka lowongan untuk posisi yang sama. Hal ini tentu menimbulkan tanda tanya besar: apakah perusahaan benar-benar membutuhkan tenaga kerja atau hanya melakukan rekrutmen sebagai formalitas?
Kurangnya Transparansi dalam Wawancara
Salah satu indikasi ketidakprofesionalan adalah ketika wawancara dilakukan oleh pihak agensi tanpa kehadiran perwakilan dari perusahaan utama. Dalam situasi seperti ini, pelamar sering kali merasa tidak mendapatkan gambaran jelas tentang pekerjaan yang ditawarkan, budaya kerja, serta ekspektasi dari perusahaan tersebut. Padahal, wawancara seharusnya menjadi momen bagi kedua belah pihak untuk saling mengenal, bukan hanya sekadar formalitas yang dijalankan oleh pihak ketiga.
Rekrutmen yang Tidak Jelas dan Tidak Konsisten
Ketika sebuah perusahaan atau agensi membuka lowongan untuk posisi tertentu, biasanya ada harapan bahwa proses seleksi dilakukan secara profesional dan sesuai dengan kebutuhan. Namun, jika setelah wawancara jumlah kebutuhan yang diumumkan tiba-tiba berubah, atau perusahaan kembali membuka lowongan untuk posisi yang sama tak lama setelah mengumumkan kandidat terpilih, hal ini menciptakan kesan bahwa ada faktor lain yang memengaruhi keputusan mereka.
Beberapa kemungkinan alasan di balik praktik ini meliputi:
1. Formalitas semata : Perusahaan sebenarnya sudah memiliki kandidat internal atau pilihan mereka sendiri, tetapi tetap membuka lowongan untuk memenuhi persyaratan administratif.
2. Pengumpulan database kandidat : Beberapa agensi hanya mencari kandidat untuk dimasukkan ke dalam daftar mereka tanpa niat langsung merekrut.
3. Perubahan keputusan mendadak : Bisa jadi perusahaan memang mengalami perubahan kebutuhan, tetapi mereka tidak mengomunikasikannya dengan baik kepada para pelamar.
Dampak bagi Para Pelamar
Ketidakprofesionalan seperti ini dapat berdampak negatif pada para pelamar, terutama dalam hal waktu, tenaga, dan harapan yang telah mereka investasikan. Kandidat yang serius mencari pekerjaan merasa dipermainkan, kehilangan kesempatan lain, dan meragukan kredibilitas perusahaan yang melakukan rekrutmen seperti ini.
Untuk menghindari kekecewaan, para pencari kerja sebaiknya lebih selektif dalam melamar pekerjaan dan memperhatikan rekam jejak perusahaan atau agensi yang membuka lowongan. Jika menemukan tanda-tanda ketidaktransparanan dalam proses seleksi, jangan ragu untuk mencari alternatif lain yang lebih jelas dan profesional.
Pada akhirnya, perusahaan yang menghargai transparansi dan profesionalisme dalam rekrutmen akan mendapatkan karyawan yang lebih loyal dan termotivasi. Sementara itu, perusahaan yang bermain-main dengan proses seleksi hanya akan kehilangan kepercayaan dari para pekerja berbakat di masa depan.
ADVERTISEMENT