Konten dari Pengguna

Tokoh Filsuf Confucius dan Ajarannya dalam Filsafat

Elisabeth Clara Lovensia

Elisabeth Clara Lovensia

Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya

·waktu baca 4 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elisabeth Clara Lovensia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Filsafat" merupakan kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun apakah arti dari filsafat itu sendiri? Menurut KBBI, filsafat adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya. Ada banyak sekali tokoh dalam bidang filsafat, salah satunya adalah Confucius. Siapakah dia? Apa sajakah ajaran dan sumbangan pemikirannya untuk dunia filsafat?

Patung Confucius di Cina (www.istockphoto.com/naqiewei)
zoom-in-whitePerbesar
Patung Confucius di Cina (www.istockphoto.com/naqiewei)

Mengenal Confucius

Confucius adalah seorang filsuf, guru, dan politikus Tiongkok yang hidup dari tahun 551 hingga 479 SM. Dia secara tradisional dianggap sebagai teladan orang bijak Tiongkok, dan pelajaran yang dia ajarkan tentang pendidikan, moral, dan politik sangat memengaruhi pemikiran orang di Korea, Jepang, dan Vietnam. Confucius sendiri terkenal karena keahliannya dalam praktik ritual Zhou seremonial dan klasik.

Confucius lahir di Ch'u-fu, negara feodal kecil Lu di Provinsi Shantung modern, yang terkenal karena mempertahankan ritual dan musik peradaban Chou. Nama keluarganya adalah K'ung dan nama pribadinya adalah Ch'iu, tetapi dia juga disebut sebagai "K'ung Tzu" atau "K'ung Fu-tzu" di masa lalu Tiongkok. Seperti istilah "Confucianisme", yang baru muncul di Eropa pada abad kedelapan belas, kata sifat Confucianisme", yang berasal dari kata Latin "Confucius", tidak memiliki arti dalam bahasa Cina.

Confucius memiliki pengaruh besar di Asia Timur dan bahkan di dunia barat. Banyak sistem nilai tradisional di Jepang, Korea, dan Vietnam berasal dari prinsip moral dan etika yang dia ajarkan. Pemikiran Confucius digunakan oleh banyak lembaga pendidikan di Tiongkok dan di seluruh dunia.

Patung Batu Tua Confucius (www.istockphoto.com/sewebel)

Definisi Tujuan Hidup Ideal menurut Confucius

Menurut Confucianisme, tujuan hidup yang ideal adalah menjadi manusia yang berbudi pekerti luhur, peka, dan peduli terhadap masyarakat dan lingkungannya. Untuk menjadi manusia yang ideal, yaitu manusia yang bijaksana dan dapat diterima oleh masyarakat tempat mereka hidup, bidang moral adalah faktor utama yang harus ditekankan. Confucius berusaha membawa manusia ke dalam kesempurnaan jiwanya. Ia mendefinisikan etika individu sebagai etika sosial. Dia juga menekankan gagasan bahwa orang harus menjadi yang terbaik bagi masyarakat sebelum menjadi yang terbaik bagi dirinya sendiri.

Patung Confucius di Kuil Confucianisme di Shanghai (www.istockphoto.com/typhoonski)

Prinsip Etika Individu menurut Filsafat Confucius

Filsafat Confucius menyebutkan beberapa prinsip etika individu sebagai berikut:

  • Yi (kelayakan): Menurut Confucius, agar seseorang dapat membantu orang lain dan masyarakat, seseorang harus memiliki kemampuan untuk membangun diri dan kekayaan yang baik.

  • Li (sopan santun): Menurut Confucius, untuk dapat membantu masyarakat, seseorang harus bersikap sopan terhadap orang lain.

  • Chi (kebijaksanaan): Menurut Confucius, seseorang harus memiliki kemampuan untuk membangun diri sendiri dan membantu orang lain agar dapat membangun masyarakat yang baik.

  • Tao (jalan): Confucius percaya bahwa orang harus mampu membangun masyarakat yang baik agar mereka dapat membantu masyarakat. Komponen moral ini disebut jalan.

Patung Confucius di Kuil Confucius di Suzhou (www.istockphoto.com/gautier075)

Prinsip Etika Sosial menurut Filsafat Confucius

Sedangkan dari tinjauan etika sosial, beberapa prinsip etika sosial menurut filsafat Confucius adalah sebagai berikut:

  • Jen (prikemanusiaan): Jen adalah aspek etika yang menggambarkan bahwa setiap orang harus tumbuh dan memiliki kemampuan yang baik. Confucius mengatakan bahwa seseorang harus memiliki kemampuan untuk membangun diri dan kemampuan yang baik agar mereka dapat membantu orang lain dan masyarakat.

  • Hsiao (bakti anak pada ayah dan ibu): aspek etika Hsiao menyatakan bahwa setiap orang harus membangun hubungan yang baik dengan semua orang, mulai dari orang tua mereka. Confucius mengatakan bahwa untuk dapat membantu masyarakat, seseorang harus bersikap baik terhadap orang lain.

  • Cheng Ming (pembenaran nama-nama): Cheng Ming menekankan aspek etika bahwa setiap orang harus membangun diri sendiri dan membantu orang lain. Confucius berpendapat bahwa seseorang harus memiliki kemampuan untuk membantu orang lain dan masyarakat, sehingga mereka dapat membangun masyarakat yang baik.

  • Wu Lun (lima hubungan kemanusiaan): Confucius percaya bahwa jika seseorang ingin membantu masyarakat, mereka harus memiliki hubungan yang baik dengan orang lain. Wu Lun terdiri dari lima hubungan yang penting, yaitu:

    • Hubungan antara individu dan orang tua

    • Hubungan antara individu dan orang lain

    • Hubungan antara individu dan orang yang lebih tua

    • Hubungan antara individu dan orang yang lebih muda

    • Hubungan antara individu dan orang yang sama usia

Dari uraian di atas, jelas bahwa Confucianisme tidak hanya bersifat idealis untuk mencapai tujuan yang diinginkan, tetapi juga bersifat realis, yaitu bergantung pada kenyataan. Oleh karena itu, kehidupan dan pemikiran Confucius memiliki dampak yang signifikan terhadap filsafat dan budaya Tiongkok serta di seluruh dunia.

Referensi

Budisutrisna. (2003, April). Historisitas dalam Filsafat Confucius dan Relevansinya Bagi Kebudayaan Indonesia. https://jurnal.ugm.ac.id/wisdom/article/view/31038

Csikszentmihalyi, M. (2020, Maret 31). Confucius (Stanford Encyclopedia of Philosophy). Stanford Encyclopedia of Philosophy. https://plato.stanford.edu/entries/confucius/

Darus Riadi. (2019, Agustus 16). Konsep manusia sempurna dalam pandangan Confucius dan Muhammad Iqbal - Institutional Repository UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Digilib UIN-SUKA. https://digilib.uin-suka.ac.id/id/eprint/36361/

Khairiah Husin. (2014, Desember 1). Agama Konghuchu. Repository UIN Suska. https://repository.uin-suska.ac.id/10381/1/Agama%20Kong%20Hu%20Cu.pdf

Lasiyo. (1997, Maret). Pemikiran filsafat timur dan barat (Studi Komparatif). UGM Journals, OAI Repository. https://core.ac.uk/reader/298720650

Slote, W. H., & De Vos, G. A.. (1998). Confucianism and the Family. State University of New York Press.