Konten dari Pengguna
Standar Kecantikan yang Menjerat Gen Z
13 Juli 2025 0:51 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Standar Kecantikan yang Menjerat Gen Z
Standar kecantikan yang dibentuk oleh media dan industri kecantikan. Hal ini menjadi sebuah tekanan bagi remaja, khususnya Generasi Z. Elsa Wulandari
Tulisan dari Elsa Wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ADVERTISEMENT
Di era digital yang serba visual ini, definisi cantik seolah semakin menyempit. Tubuh yang langsing, kulit glowing, mulus, dan hidung mancung menjadi standar yang dibentuk oleh media dan industri kecantikan. Hal ini menjadi sebuah tekanan bagi remaja, khususnya Generasi Z. Tak sedikit yang mulai mempertanyakan: apakah definisi cantik ini masih masuk akal, atau justru menjadi jebakan yang membahayakan kesehatan mental?
ADVERTISEMENT
Standar kecantikan bukan hal baru. Di era 90-an, tubuh kurus seperti model atau idol K-Pop menjadi tolok ukur utama. Standar kecantikan bergeser menjadi kombinasi sempurna yakni dengan kulit mulus tanpa pori, tubuh langsing tapi berisi, wajah simetris, glowing alami, dan bebas jerawat. Semua ini diperkuat dengan filter, editing, dan algoritma yang hanya menampilkan “wajah sempurna”.
Di sisi lain, budaya pop melalui drama, film, dan media visual kerap merepresentasikan karakter "cantik" dengan standar serupa. Representasi yang minim terhadap keberagaman bentuk tubuh dan warna kulit membuat persepsi publik semakin sempit.
Tekanan untuk memenuhi standar kecantikan ini membawa dampak psikologis Gen Z. Studi dari Mental Health Foundation UK menunjukkan bahwa lebih dari 40% remaja merasa tidak puas terhadap tubuh mereka sendiri, dan media sosial disebut sebagai salah satu penyebab utamanya.
ADVERTISEMENT
Banyak dari mereka mulai mengalami gangguan makan, hingga menarik diri dari lingkungan sosial karena merasa tidak cukup “cantik”. Insecurity ini sering kali muncul sejak usia sangat muda, diperparah dengan komentar negatif di media sosial seperti body shaming dan perbandingan visual.
Namun, tidak semua Gen Z tunduk pada standar tersebut. Justru banyak dari mereka yang mulai melawan narasi kecantikan sempit ini. Melalui kampanye body positivity dan gerakan self-love, mereka memperjuangkan keberagaman bentuk tubuh, warna kulit, dan definisi cantik yang lebih inklusif.
Influencer dengan tubuh non-standar, kulit bertekstur, dan konten no-filter mulai mendapat tempat di media sosial. Mereka menyuarakan bahwa cantik bukan hanya soal fisik, tetapi tentang bagaimana seseorang merasa nyaman dan percaya diri dengan dirinya sendiri.
ADVERTISEMENT
Standar kecantikan memang akan terus berubah seiring waktu. Namun, saatnya kita – terutama Gen Z – menyadari bahwa mengejar versi ideal yang diciptakan oleh industri hanya akan menjerumuskan pada rasa tidak cukup.
Cantik tidak harus langsing, glowing, atau tampil sempurna. Cantik bisa hadir dalam bentuk keberanian menerima diri, mencintai tubuh apa adanya, dan menolak tunduk pada tekanan sosial yang merugikan kesehatan mental.

