Ketika Bahasa Non-Verbal Bersuara lebih Lantang dalam Hear Me: Our Summer (2024)

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Atma Jaya Yogyakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elysia Vania tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagaimana jika film romantis berjalan tanpa deretan kalimat manis yang keluar langsung dari mulut para pemainnya? Itulah yang dihadirkan film Korea Hear Me: Our Summer (2024). Film ini membuktikan bahwa cerita cinta bisa tersampaikan dengan gestur dan ekspresi.
Film ini digarap oleh sutradara Cho Sun-ho dan merupakan adaptasi dari film Taiwan dengan judul serupa, Hear Me (2009). Cerita mengisahkan Yong-jun, seorang pemuda yang baru saja lulus kuliah dan belum memiliki arah masa depan yang pasti, serta Yeo-reum, seorang wanita yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Keduanya tidak sengaja bertemu di sebuah kolam renang saat Yong-jun mengantarkan pesanan katering restoran kedua orang tuanya. Yeo-reum sendiri adalah sosok mandiri yang memilih menaruh perhatiannya untuk mendukung sang adik, Ga-eul, seorang atlet renang tunarungu yang bermimpi meraih medali emas di ajang Olimpiade. Yong-jun pun tetap berusaha mendekati Yeo-reum dengan mempelajari bahasa isyarat demi bisa berkomunikasi dengannya. Dengan latar musim panas yang hangat, hubungan mereka perlahan berkembang menjadi perjalanan emosional tentang cinta, impian, dan pengorbanan.
Lebih dari sekadar film romansa, Hear Me: Our Summer (2024) menarik untuk dilihat dari kacamata genre dan bahasa film. Hal yang paling mencolok dari film ini adalah bahasa nonverbal yang dimanfaatkan dalam penceritaannya. Berbeda dari film drama pada umumnya yang bergantung pada dialog romantis antar-pemain, Hear Me: Our Summer (2024) menjadikan bahasa isyarat, ekspresi, serta gestur sebagai alat komunikasi utama. Lewat pengambilan gambar medium shot, kamera menangkap setiap gerak tangan hingga ekspresi mikro yang menegaskan emosi antarkarakternya.
Pemanfaatan bahasa nonverbal semakin terasa saat alur cerita memberi kejutan. Yong-jun sejak awal mengira Yeo-reum adalah seorang tunarungu karena selalu terlihat menggunakan bahasa isyarat dengan Ga-eul. Ia baru menyadari bahwa Yeo-reum sebenarnya bisa mendengar setelah membawanya bertemu dengan orang tuanya. Adanya ikatan cinta yang telah lebih dulu terjalin sebelum Yong-jun mengetahui kebenaran tersebut menjadi bukti bahwa bahasa nonverbal punya kekuatan untuk melintasi batas komunikasi verbal.
Hal ini semakin didukung dengan musik latar yang terukur serta beberapa adegan yang sengaja dibuat hening, seolah mengajak kita sebagai penonton untuk masuk ke dalam dunia mereka.
Selain itu, hal menarik lain dari film ini adalah representasinya terhadap isu disabilitas yang inklusif. Jika kebanyakan film hingga sekarang menempatkan karakter disabilitas sebagai sosok yang memiliki kekurangan sebagai penghalang atau pemicu rasa iba, film Hear Me: Our Summer (2024) melakukan kebalikannya. Karakter Ga-eul ditampilkan sebagai sosok yang mandiri, berdaya, punya ambisi pribadi, serta menghadapi konflik hidup sehari-hari; sama seperti orang lain.
Akhir kata, Hear Me: Our Summer (2024) menjadi pengingat bahwa tidak semua hal harus diucapkan. Film ini mengajak kita untuk lebih memperhatikan hal-hal kecil di tengah dunia yang semakin bising untuk menyadari bahwa terkadang, sesuatu bisa lebih bermakna dan lebih terdengar tanpa menggunakan kata-kata.
