Konten dari Pengguna

Taman Istri 1942: Ketika Perempuan Indonesia Dididik untuk "Asia Raya"

Elza Ramona

Elza Ramona

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elza Ramona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebuah rubrik perempuan dalam majalah Pandji Poestaka merekam bagaimana propaganda pendudukan Jepang menyusup ke ruang paling domestic, seperti dapur, jahitan, dan surat nasihat seorang kakak kepada adiknya.

Cover Majalah Pandji Poestaka edisi No. 20. Foto, Leiden University Libraries/Digital Collections
zoom-in-whitePerbesar
Cover Majalah Pandji Poestaka edisi No. 20. Foto, Leiden University Libraries/Digital Collections

Di tengah lembaran majalah tua terbitan Agustus 1942, terselip sebuah rubrik bernama Taman Isteri. Judulnya sederhana, terkesan hanya berisi resep masakan dan pola jahit baju anak. Begitu dibaca lebih saksama, rubrik tersebut menyingkap sesuatu yang jauh lebih besar, yakni bagaimana pemerintah pendudukan Jepang, hanya lima bulan setelah menaklukkan Hindia Belanda, sudah mulai menata ulang cara perempuan Indonesia berpikir, membaca, bahkan bermimpi.

Pandji Poestaka di Bawah Bayang Militer Jepang

Majalah yang memuat rubrik ini bernama Pandji Poestaka, edisi No. 20, terbit 22 Agustus 2602 (penanggalan tahun Jepang, setara 1942), “dengan izin Kantor Hodohan”, sebutan untuk kantor propaganda militer Jepang (Sendenbu). Pemimpin redaksinya adalah Armijn Pane, sastrawan pendiri Poedjangga Baroe yang juga menjabat Kepala Bagian Kesusastraan di Pusat Kebudayaan Jakarta (Keimin Bunka Shidosho) sepanjang masa pendudukan. Penerbitnya, Balai Pustaka, saat itu berganti nama menjadi “Kokoemin Tosjokjokoe”.

Pandji Poestaka sendiri bukan majalah baru, sudah terbit sejak 1923 pada masa kolonial Belanda. Pandji Poestaka sempat berhenti sesaat ketika Jepang menginvasi Jawa pada Maret 1942, lalu terbit kembali April pada tahun yang sama dengan misi yang telah berubah total. Dari majalah budaya umum menjadi corong propaganda “Asia Raya”. Rubrik Taman Isteri, kolom khusus perempuan yang memuat surat nasihat, pola busana, dan resep masakan, tetap dipertahankan, tetapi isinya kini diselipi pesan-pesan kebangsaan Jepang.

Surat dari “Kakanda” untuk “Adinda”

Bagian paling menonjol dari rubrik ini adalah “Soerat Pendidikan”, ditulis dalam format surat dari sosok bernama “Kakanda” kepada “Adinda”, sebuah konvensi umum kolom nasihat perempuan masa itu, di mana penulis memosisikan diri sebagai kakak yang membimbing adik perempuannya. Isinya menegur kebiasaan gadis-gadis terpelajar yang lebih suka membaca novel roman ketimbang karya sastra Nusantara seperti Hang Tuah, Bagawad Gita, atau Ardjoena Wiwaha. “Kakanda” mendesak agar “Adinda” memperbanyak bacaan yang menanamkan keberanian dan kepahlawanan, bukan sekadar hiburan.

Lebih jauh, surat ini juga mengajak perempuan muda untuk aktif dalam barisan pemuda yang tengah dibentuk saat itu dan menjadikan diri sebagai “petunjuk jalan” bagi masyarakat menuju cita-cita “Asia Raya”. Menariknya, organisasi massa resmi bentukan Jepang seperti Seinendan (barisan pemuda), Keibodan, dan Fujinkai (organisasi wanita) baru dibentuk secara resmi pada 1943, setahun setelah edisi ini terbit. Ini menunjukkan bahwa “Soerat Pendidikan” merekam fase paling awal dari upaya penataan ideologis oleh Jepang terhadap perempuan Indonesia, jauh sebelum mesin propaganda Jepang benar-benar terorganisasi penuh.

Pola ini konsisten dengan temuan penelitian akademik. Kajian Hanifa Widyas Sukma Ningrum yang dipublikasikan dalam Jurnal Sawerigading terhadap dua cerpen dalam Pandji Poestaka era Jepang, “Isteri Tabib” karya Teha dan “Poetri Pahlawan Indonesia” karya N. St. Iskandar, menemukan bahwa citra perempuan dalam majalah ini banyak dibentuk oleh intervensi kepentingan Jepang, menampilkan perempuan ideal sebagai sosok yang tabah, patuh, dan siap mendukung perjuangan “Asia Timur Raya”. Penelitian yang sama turut mencatat rubrik Taman Isteri edisi Oktober 1942 sebagai salah satu sumber primer yang merekam pembentukan citra tersebut.

Jahit Baju Sendiri, Masak Ala Jepang

Dua rubrik praktis melengkapi “Soerat Pendidikan” di halaman-halaman Taman Isteri, yakni pola jahit “Badjoe Rok Oentoek Anak Perempoean” oleh Nj. S. Moerdono, lengkap dengan diagram ukuran dan cara memotong kain, serta “Boleh Tjoba: Makanan Nippon”, kumpulan resep masakan bergaya Jepang seperti soemasi sjiroe (semacam sup ikan) yang dituliskan ulang menggunakan bahan-bahan lokal oleh kontributor perempuan seperti Soenarti B. dan Soejati.

Sekilas kedua rubrik di atas tampak netral, sekadar keterampilan rumah tangga. Berbeda Ketika itu diterbitkan dan dikonsumsi publik pada masat itu, keduanya justru menunjukkan fungsi ganda. Ekonom sejarah Aiko Kurasawa dalam Mobilisasi dan Kontrol: Studi tentang Perubahan Sosial di Pedesaan Jawa 1942-1945 mencatat bahwa kebijakan pendudukan Jepang memadukan “kontrol” dan “mobilisasi” yang mengguncang tatanan sosial-ekonomi Jawa, termasuk kelangkaan bahan sandang dan pangan akibat eksploitasi sumber daya untuk kepentingan perang. Dalam situasi seperti itu, mengajarkan perempuan menjahit baju sendiri dan memasak dengan bahan seadanya bukan sekadar tips rumah tangga, melainkan bagian dari cara rezim pendudukan menormalkan kelangkaan sembari tetap menanamkan citra budaya Jepang lewat menu masakan yang diperkenalkan.

Ruang Domestik sebagai Medan Propaganda

Setahun setelah edisi Pandji Poestaka terbit, Jepang secara resmi mendirikan Fujinkai (1943), organisasi wanita yang memobilisasi tenaga perempuan Indonesia untuk mengumpulkan dana, bahan pangan, hingga memproduksi perlengkapan perang. Kajian yang dipublikasikan di Lembaran Sejarah UGM mencatat bahwa kepemimpinan Fujinkai sengaja diberikan kepada perempuan dari kalangan elite agar jangkauannya luas, sementara aktivitas anggotanya diarahkan untuk “melayani negara dengan berfungsi baik di rumah”. Jauh sebelum Fujinkai berdiri, rubrik seperti Taman Isteri sudah menyiapkan lahan ideologis dengan menjadikan ruang domestik, dapur, mesin jahit, dan meja tulis surat nasihat, sebagai medan penanaman nilai.

Peristiwa sejarah jarang berjalan searah. Penelitian dari Universitas Gadjah Mada tentang mobilisasi perempuan masa pendudukan Jepang mencatat bahwa di balik pengerahan yang menekan itu, perempuan Indonesia juga melakukan berbagai bentuk adaptasi, dan pengalaman berorganisasi yang mereka peroleh, sekalipun di bawah kendali penjajah, kelak turut menjadi modal bagi pergerakan perempuan Indonesia pasca-kemerdekaan. Sejumlah mantan anggota Fujinkai kemudian meneruskan pengalaman itu ke dalam organisasi perempuan yang lebih mandiri setelah 1945.

Ada aspek lain yang membuat “Soerat Pendidikan” dan rubrik Taman Isteri begitu berharga bukan hanya isi propagandanya saja, melainkan justru karena keduanya ditulis dalam suara perempuan, ditujukan kepada perempuan, meski di bawah pengawasan ketat sensor Jepang. Nama-nama seperti Nj. S. Moerdono, Soenarti B., dan Soejati, adalah jejak tipis dari penulis-penulis perempuan yang nyaris tak tercatat dalam sejarah sastra dan pers Indonesia arus utama. Menelusuri rubrik semacam ini adalah salah satu cara untuk mengembalikan suara mereka ke permukaan, sekaligus memahami bagaimana kekuasaan, dalam bentuk apa pun, selalu berusaha menjangkau titik paling personal dalam kehidupan Perempuan terkait apa yang mereka baca, apa yang mereka jahit, dan apa yang mereka masak untuk keluarga.