Kumparan Logo

Nelayan Indonesia Rugi Rp 200 T per Tahun Akibat Pencurian Ikan

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan keterangan pers usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan keterangan pers usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto, di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (15/7/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengungkapkan Indonesia mengalami kerugian besar akibat praktik pencurian ikan oleh nelayan asing di wilayah perairan nasional. Berdasarkan informasi dari Menteri Kelautan dan Perikanan (KKP), nilai ikan Indonesia yang dicuri nelayan asing mencapai lebih dari Rp 200 triliun per tahun.

"Ikan kita menurut Menteri Kelautan Rp 200 triliun lebih per tahun dicuri karena nelayan negara lain punya kemampuan, kapalnya besar," ujar Zulhas di Kantor Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH), Rabu (12/8).

Menurut Zulhas, persoalan ini erat kaitannya dengan keterbatasan armada nelayan Indonesia. Sebagian besar nelayan tanah air masih menggunakan kapal berukuran kecil, sehingga sulit menjangkau wilayah laut yang lebih jauh. Kondisi ini membuat nelayan Indonesia kalah bersaing dengan nelayan negara lain yang memiliki kapal berkapasitas lebih besar.

"Nelayan negara lain punya kemampuan kapalnya besar. Negara-negara lain banyak masuk ke tempat kita, karena nelayan kita tadi miskin, tidak berdaya punya kapalnya yang kecil, gak bisa ke tengah," ujarnya.

NTN Nelayan Masih Tertinggal, Ditarget Naik ke 120

Nelayan mengangkat ikan hasil tangkapan di Pelabuhan Dadap, Juntinyuat, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (11/1/2023). Foto: Dedhez Anggara/Antara Foto

Di sisi lain, pemerintah juga menyoroti kesejahteraan nelayan yang tercermin dari Nilai Tukar Nelayan (NTN), yang saat ini masih berada di level 103. Zulhas menargetkan NTN dapat meningkat hingga level 120 dalam waktu dekat.

"Tahun ini kita akan fokus nelayan dari 103, doakan mudah-mudahan kita bisa kejar sampai 120. Saya kawal tahun ini dan tahun depan," kata Zulhas.

Ia menjelaskan, kesejahteraan nelayan masih tertinggal dibandingkan petani. Dalam beberapa tahun terakhir, nilai tukar petani padi tercatat meningkat dari 116 menjadi 127. Sementara itu, nelayan yang masih berada di level 103 dinilai masih membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah, bahkan sebagian di antaranya masih memerlukan bantuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti pangan dan biaya pendidikan anak.

"Kalau petani padi nilai tukar dari 116 sudah kita naik 127, sudah jauh. Tapi yang nelayan ukuran jelas 103 masih. Dia kalau tidak dibantu beras, tidak dibantu dana cash, tidak bisa sekolah anaknya,” ujar Zulhas.

Zulhas menegaskan, upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan pemerintah, tetapi juga perlu didukung dengan peningkatan produktivitas serta kemampuan nelayan dalam menangkap ikan di wilayah perairan Indonesia.

Ia menambahkan, pemerintah akan terus melakukan pembenahan terhadap berbagai program yang selama ini belum berjalan optimal, termasuk dalam upaya meningkatkan kesejahteraan nelayan yang masih menjadi salah satu kelompok masyarakat dengan tingkat kesejahteraan rendah.

"Kalau terdengar rasanya kok lama, heboh, ya memang mendasar. Mendasar, berbeda sekali dengan yang 28 tahun yang lalu-lalu. Yang tidak berhasil kita minta maaf, kita bekerja keras, kita perbaiki," kata Zulhas.

instagram embed