Kumparan Logo

Nostalgia Rambut Nenek di Blok M, Jajanan Jadul yang Masih Eksis

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Jajanan rambut nenek milik Oca. Foto: Nur Pangesti/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Jajanan rambut nenek milik Oca. Foto: Nur Pangesti/kumparan

Di tengah ramainya jajanan kekinian dengan berbagai bentuk dan rasa, jajanan zaman dulu atau yang kini lebih sering disebut jajanan jadul masih punya tempat tersendiri bagi sebagian orang.

Salah satunya rambut nenek. Jajanan berbahan dasar gula ini masih dapat ditemui di kawasan Blok M, Jakarta Selatan. Bentuknya sederhana, berupa helaian gula yang telah diproses menyerupai rambut tipis.

Bagi sebagian pembeli, rambut nenek bukan sekadar makanan ringan. Jajanan tersebut membawa mereka kembali mengingat masa lalu.

Salah satu pedagang rambut nenek di Blok M, Oca mengatakan pembelinya datang dari berbagai usia. Mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa, hingga orang yang sudah lanjut usia.

“Kayak anak kecil yang biasa beli. Seumuran (remaja-dewasa) kadang-kadang nenek-nenek. Kadang yang bawa anak tiga, empat,” kata Oca kepada kumparan, Rabu (9/9).

Menurut dia, alasan pembeli membeli rambut nenek biasanya bukan karena sekadar ingin mencicipi jajanan tersebut. Ada kenangan yang ikut terbawa ketika mereka kembali menemukan makanan yang pernah mereka kenal sejak dulu.

“Ingat masa lalu. Bukan masa kecil, masa lalu bilangnya,” ujarnya.

Jajanan rambut nenek milik Oca. Foto: Nur Pangesti/kumparan

Nostalgia itu bahkan membuat pembeli yang awalnya hanya berniat membeli satu bungkus justru membawa pulang lebih banyak.

Oca menyebut pernah mendapat pembeli dari luar daerah yang sengaja membeli rambut nenek. Salah satunya berasal dari Bali dan Surabaya.

“Beli satu bungkus dulu. Pas pulang dia beli tiga, empat. Bahkan ada orang Bali gitu ya,” ujarnya.

Di balik bentuknya yang sederhana, membuat rambut nenek ternyata membutuhkan proses yang cukup panjang. Oca mengatakan proses pembuatannya membutuhkan beberapa peralatan, mulai dari katel, ember berisi air, hingga meja khusus untuk menarik adonan gula.

Gula pasir yang menjadi bahan utama terlebih dahulu dimasak hingga benar-benar matang. Menurut Oca, tahap ini penting karena gula tidak bisa sekadar direbus sebentar.

“Di sini rebus, sudah benar-benar matang. Jangan asal gerbiuk aja. Harus benar-benar matang,” katanya.

Setelah matang, gula kemudian dituangkan ke katel kosong. Adonan tersebut digoyang dan diratakan hingga menipis, sebelum akhirnya didiamkan sampai mulai mengeras dan dapat ditarik.

Proses berikutnya dilakukan di atas meja khusus. Di meja tersebut terdapat bagian seperti pancung dengan panjang sekitar 20 sentimeter yang digunakan untuk membantu memutar adonan gula.

Sebelumnya, tepung terigu juga harus dimasak. Tepung ini kemudian digunakan agar gula tidak lengket ketika proses penarikan dilakukan.

“Terigu sudah matang. Asal matang doang. Kocok-kocok, sudah matang. Biar enggak lengket,” ujar Oca.

Ilustrasi Rambut Nenek. Foto: Nawal Karimi/Shutterstock

Dari proses tersebut, gula yang awalnya berbentuk adonan kemudian ditarik berulang kali hingga menghasilkan helaian-helaian tipis yang menjadi ciri khas rambut nenek.

Meski jajanan kekinian terus bermunculan, Oca masih mempertahankan rambut nenek sebagai dagangannya. Jumlah yang dibawa setiap hari pun menyesuaikan dengan kondisi pasar. Ia biasanya membawa sekitar 1-2 kilogram rambut nenek untuk dijual. Jika sedang ramai, stok tersebut bisa habis.

“Kadang bawa 1 sampai 2 kg. Kalau bawa 2 kg abis ya lumayan buat jajan anak Rp 100 ribu mah dapet,” ujarnya.

instagram embed