Perbanyak Angkutan Barang Rendah Emisi, KAI Logistik Bidik Pendapatan Rp 568,4 Miliar

PT Kereta Api Logistik (KAI Logistik) memperkuat bisnis angkutan kereta api kontainer dengan mengembangkan layanan pengiriman barang rendah emisi. Strategi ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja bisnis sekaligus menjawab kebutuhan pelanggan terhadap pengelolaan dan pelaporan emisi karbon dalam rantai pasok.
Pengembangan layanan tersebut menjadi salah satu bagian dari strategi pertumbuhan bisnis angkutan multikomoditas KAI Logistik. Selain itu, perusahaan juga mengoptimalkan layanan angkutan ekspor-impor dan mengakuisisi pelanggan baru untuk memperluas pasar serta meningkatkan pemanfaatan layanan kereta api kontainer.
Sejalan dengan strategi tersebut, pendapatan angkutan multikomoditas KAI Logistik diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk atau compound annual growth rate (CAGR) sebesar 8,5%. Pendapatan segmen ini ditargetkan mencapai Rp 568,4 miliar pada 2029, dengan sebagian besar pertumbuhan didukung pengembangan layanan pengiriman barang rendah emisi.
Direktur Utama KAI Logistik, Yuskal Setiawan, mengatakan pengembangan layanan tersebut merupakan langkah strategis perusahaan untuk merespons meningkatnya kebutuhan industri terhadap transparansi emisi dan pelaporan keberlanjutan.
“Pelanggan membutuhkan data emisi dari penyedia jasa logistik untuk mendukung pengukuran jejak karbon, penyusunan laporan keberlanjutan, serta pencapaian target dekarbonisasi perusahaan,” ujar Yuskal dalam keterangannya, Rabu (4/11).
Melalui layanan ini, KAI Logistik menghitung emisi karbon dari berbagai aktivitas transportasi, mulai dari perjalanan kereta api, operasional terminal, hingga distribusi awal dan akhir menggunakan truk (first mile dan last mile). Penghitungan tersebut mengacu pada metodologi yang relevan, termasuk standar ISO 14083 untuk penghitungan dan pelaporan emisi gas rumah kaca dari operasi rantai transportasi.
Layanan ini juga mencakup pelaporan emisi terintegrasi, konsultasi dan rekomendasi mitigasi emisi, serta dokumentasi upaya keberlanjutan pelanggan berdasarkan kriteria yang terukur.
Untuk memperkuat layanan, KAI Logistik mengembangkan konsep carbon-labelled freight, yakni informasi atau sertifikat emisi untuk setiap pengiriman. Saat ini, perusahaan telah memiliki kalkulator emisi untuk layanan pengiriman ant stasiun.
Ke depan, pengukuran emisi akan dikembangkan agar mencakup seluruh rantai pasok, mulai dari aktivitas transportasi truk, operasional terminal, hingga angkutan kereta api. Dengan demikian, pelanggan dapat memperoleh gambaran emisi yang lebih menyeluruh dari proses distribusi barang.
Integrasi data tersebut diharapkan membantu pelanggan mengidentifikasi peluang pengurangan emisi dan mengevaluasi alternatif transportasi yang lebih efisien. Data emisi yang konsisten dan terukur juga dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan logistik dan pengelolaan rantai pasok.
Yuskal menambahkan, pengembangan layanan tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menyelaraskan pertumbuhan bisnis dengan kebutuhan pelanggan terhadap layanan logistik yang lebih transparan dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.
“Ke depan, perusahaan akan terus memperkuat inovasi layanan, memperluas kemitraan, meningkatkan akuisisi pelanggan, serta mengembangkan angkutan multikomoditas sebagai salah satu pilar pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan,” tutup Yuskal.
Dari sisi kinerja, layanan kereta api kontainer KAI Logistik mengangkut 2,5 juta ton barang sepanjang 2025, tumbuh 8% secara tahunan (year on year/yoy) dibandingkan 2024 yang mencapai 2,3 juta ton. Sementara itu, hingga triwulan III 2026, volume angkutan kereta api kontainer KAI Logistik tercatat sekitar 2,3 juta ton.
