Kumparan Logo

Warteg Ngeluh Harga Cabai dan Bawang Meroket, BPS Ungkap Penyebabnya

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Kantor Pusat BPS, Selasa (2/6/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini di Kantor Pusat BPS, Selasa (2/6/2026). Foto: Ave Airiza Gunanto/kumparan

Keluhan pedagang warung tegal (warteg) soal kenaikan harga sayuran belakangan ini dibenarkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga tersebut mencatat harga sejumlah komoditas hortikultura, seperti cabai, bawang merah, tomat, sawi hijau, cabai rawit, dan timun, mengalami kenaikan pada Mei 2026 dan menjadi penyumbang inflasi pangan menjelang Idul Adha.

Kenaikan harga tersebut tercermin dalam data inflasi Mei 2026. Kelompok pengeluaran makanan, minuman, dan tembakau mencatat inflasi sebesar 0,39 persen secara bulanan. Kelompok ini menjadi penyumbang terbesar terhadap inflasi nasional yang mencapai 0,28 persen month to month (mtm), dengan andil sebesar 0,28 persen.

BPS mencatat, kenaikan harga sayuran turut mendorong inflasi pada komponen harga pangan bergejolak (volatile food). Setelah mengalami deflasi 0,88 persen pada April 2026, kelompok volatile food kembali mencatat inflasi sebesar 0,22 persen pada Mei 2026.

Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan kenaikan harga berbagai komoditas sayuran dipengaruhi faktor musiman. Salah satunya adalah meningkatnya kebutuhan masyarakat menjelang hari besar keagamaan nasional, termasuk Idul Adha.

Ilustrasi Warteg. Foto: Adimas Herdian/kumparan

“Jadi memang komoditas ini masuk ke kelompok harga barang yang bergejolak. Jadi ini bersifat musiman karena adanya hari besar keagamaan di antaranya ini menjadi salah satu pemicu adanya perubahan permintaan di masyarakat,” kata Pudji dalam konferensi pers, Selasa (2/6).

Selain faktor permintaan, kenaikan harga juga dipengaruhi oleh gangguan produksi di sejumlah daerah sentra. Untuk cabai, misalnya, BPS mencatat adanya penurunan produksi pada April 2026 di beberapa wilayah seperti Garut, Temanggung, dan Malang.

Sementara itu, produksi bawang merah juga mengalami tekanan akibat penurunan panen pada Mei 2026 di sejumlah daerah sentra produksi. Kondisi tersebut terjadi di Sampang, Enrekang, Bojonegoro, Pati, dan Demak. Penurunan produksi dipicu oleh cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tumbuhan, hingga kondisi kekeringan.

Di sisi lain, harga tomat juga mengalami kenaikan. Namun, menurut Pudji, faktor pendorong utamanya berasal dari meningkatnya permintaan produk hortikultura di sejumlah daerah menjelang perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.

“Itu jadi salah satu peristiwa yang terjadi yang menyebabkan adanya fenomena kenaikan harga sayuran tadi,” kata dia.

Kenaikan harga berbagai komoditas tersebut akhirnya memberikan andil terhadap inflasi Mei 2026. Cabai merah menjadi penyumbang terbesar dari kelompok sayuran, disusul bawang merah dan tomat.

“Kalau cabai merah 0,08 persen, kemudian bawang merah 0,04 persen, kemudian tomat 0,03 persen, kemudian sawi hijau 0,01 persen. Kemudian cabai rawit 0,01 persen, dan timun 0,01 persen ya,” tegasnya.

instagram embed