Konten dari Pengguna
Sampah Plastik di Sungai Indonesia: Ancaman Nyata bagi Lingkungan dan Kesehatan
11 Juli 2025 22:30 WIB
·
waktu baca 2 menitTulisan dari Endang Zalukhu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
ADVERTISEMENT
Oleh: Endang Zalukhu

Jakarta, 10 Juli 2025 — Sampah plastik di sungai-sungai Indonesia kini menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan kesehatan masyarakat. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan justru berubah menjadi tempat pembuangan limbah, terutama sampah plastik rumah tangga.
ADVERTISEMENT
Data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) mencatat bahwa Indonesia menghasilkan lebih dari 7,8 juta ton sampah plastik setiap tahun, dan sebagian besar di antaranya berakhir di aliran sungai. Sungai Citarum di Jawa Barat, misalnya, dikenal sebagai salah satu sungai paling tercemar di dunia.
Masalahnya tidak hanya berhenti di pencemaran air. Sampah plastik yang terbawa arus sungai menuju laut akan terurai menjadi mikroplastik, yang kemudian masuk ke rantai makanan laut. Mikroplastik ini telah ditemukan dalam ikan, kerang, bahkan garam dapur yang dikonsumsi manusia setiap hari.
“Ini bukan hanya masalah lingkungan, tapi juga masalah kesehatan. Mikroplastik bisa masuk ke tubuh kita dan memicu berbagai penyakit,” kata Dr. Hendra Kusuma, peneliti lingkungan dari Universitas Indonesia.
ADVERTISEMENT
Beberapa faktor utama penyebab pencemaran ini antara lain:
Minimnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempatnya
Kurangnya sistem pengelolaan sampah yang efektif
Tidak meratanya fasilitas daur ulang di berbagai daerah
Meski demikian, berbagai inisiatif mulai muncul dari masyarakat. Komunitas seperti Bank Sampah Sungai Bersih di Surabaya berhasil mengajak warga sekitar untuk menukar sampah plastik dengan kebutuhan pokok, sekaligus menjaga kebersihan sungai di wilayah mereka.
Pemerintah sendiri telah mencanangkan target pengurangan sampah plastik hingga 70% pada tahun 2025 melalui program Indonesia Bersih. Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada partisipasi aktif masyarakat dan dunia usaha.
Tanpa langkah konkret dan kesadaran bersama, sampah plastik di sungai akan terus menjadi bom waktu yang mengancam generasi mendatang.
ADVERTISEMENT

