Harmoni dalam Syukur, Musisi Zendhy Kusuma Rayakan Ultah dengan Musik

Musisi sekaligus pendidik musik Zendhy Kusuma punya cara berbeda dalam merayakan pertambahan usianya. Alih-alih menggelar pesta ulang tahun biasa, Zendhy menggabungkan doa, musik, apresiasi, hingga jam session dalam acara bertajuk Harmoni dalam Syukur.
Digelar di BATI Group, Jakarta, perayaan tersebut dihadiri sekitar 150 orang yang terdiri dari keluarga, sahabat, guru, murid, hingga sesama musisi.
Salah satu momen unik dalam acara tersebut terjadi saat prosesi tiup lilin. Kalau biasanya kue ulang tahun menjadi pusat perhatian, Zendhy justru menggunakan martabak sebagai kue ulang tahunnya.
Momen tersebut menjadi bagian dari rangkaian perayaan yang mengusung tema “Apresiasi, Doa, dan Persembahan Kebaikan” dengan pesan “Ketika Syukur Tidak Hanya Dirayakan, Tetapi Dibagikan.”
Bukan cuma tiup lilin, sesi doa bersama juga dibuat bernuansa musik. Doa dilakukan melalui nyanyian dan medley tiga lagu populer.
“Bertambah usia bagi saya bukan hanya tentang merayakan satu angka, tetapi tentang melihat kembali perjalanan, orang-orang yang sudah berjalan bersama, dan apa yang bisa terus saya kontribusikan,” kata Zendhy.
Menurut Zendhy, musik bukan sekadar soal tampil atau menghasilkan karya. Baginya, musik juga berkaitan dengan pendidikan, proses, disiplin, dan kesempatan untuk membantu generasi berikutnya berkembang.
Setelah sesi refleksi dan doa, suasana perayaan berlanjut lewat Music Appreciation & Fellowship. Guru, murid, musisi, dan para kolaborator tampil dalam rangkaian pertunjukan musik.
Acara kemudian ditutup dengan kolaborasi dan open jam session “Music Without Boundaries”, yang membuat perayaan ulang tahun Zendhy semakin terasa seperti ajang kumpul para musisi.
Dari Jepang hingga “Goes to Nusantara”
Di tengah perayaan ulang tahunnya, perjalanan Zendhy sebagai musisi juga turut menjadi bagian dari refleksi. Ia selama ini mengembangkan karya dan jejaring musik, termasuk ke ranah internasional.
Salah satunya melalui album ketiganya yang direkam di Jepang.
Zendhy juga menjalankan program Goes to Nusantara, yang membawanya bertemu komunitas musik dan gitar serta musisi lokal di berbagai daerah. Selain bertukar pengalaman, perjalanan tersebut menjadi ruang untuk membangun jejaring dan membuka peluang kolaborasi.
Di bidang pendidikan, Zendhy aktif menjadi mentor dan edukator musik. Ia memberikan perhatian terhadap perkembangan murid, mulai dari kemampuan bermusik hingga performa dan kesiapan tampil.
Hal tersebut juga diterapkan dalam pengembangan guru-guru musik. Menurut Zendhy, profesi musisi membutuhkan pendidikan, profesionalisme, disiplin, dan dedikasi seperti profesi lainnya.
Perayaan ulang tahun itu pun menjadi kesempatan bagi Zendhy untuk kembali berkumpul dengan orang-orang yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan musiknya.
Dengan martabak sebagai kue ulang tahun, doa dalam bentuk medley lagu, dan penutup berupa jam session, “Harmoni dalam Syukur” menjadi cara Zendhy merayakan pertambahan usia sekaligus berbagi kecintaannya terhadap musik.
