Kumparan Logo

Kejar 1 Juta Penonton, Film Istimewa Bawa Misi Bangun Rumah Singgah

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Film Istimewa. Foto: Istimewa
zoom-in-whitePerbesar
Film Istimewa. Foto: Istimewa

Film Istimewa membawa misi yang lebih besar dari sekadar menghadirkan cerita tentang keluarga di layar lebar. Produsernya, Abdullah Mansuri atau Ayah Mansuri, berjanji membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia jika film tersebut berhasil mencapai satu juta penonton.

Janji tersebut disampaikan menjelang penayangan Istimewa di bioskop Indonesia pada 17 September 2026. Bagi Ayah Mansuri, pencapaian satu juta penonton nantinya diharapkan tidak hanya menjadi angka bagi sebuah film, tetapi juga membuka kesempatan untuk menghadirkan ruang yang aman bagi penyandang disabilitas di berbagai daerah.

“Buat saya, Istimewa bukan hanya tentang membuat sebuah film, tapi bagaimana kita bisa terus memberikan ruang bagi teman-teman Istimewa untuk tumbuh, berkarya, dan punya tempat yang aman untuk pulang,” ujar Abdullah Mansuri, Produser Istimewa.

“Karena itu, saya punya janji. Kalau Istimewa bisa mencapai satu juta penonton, saya ingin membangun Rumah Singgah Istimewa di setiap provinsi di Indonesia. Saya ingin film ini tidak berhenti sebagai cerita yang kita tonton, tetapi bisa menjadi langkah untuk menghadirkan ruang nyata bagi mereka,” lanjutnya.

Film Istimewa. Foto: Istimewa

Istimewa sendiri bercerita tentang lima anak di Rumah Istimewa, yakni Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul. Bagi mereka, Pak Mahendra yang mereka panggil Ayah bukan sekadar pengasuh, melainkan sosok yang memberikan rasa aman dan membuat mereka merasa diterima.

Namun, keadaan berubah ketika Ayah jatuh sakit. Ketakutan kehilangan sosok yang selama ini menjadi tempat mereka bergantung pun mulai muncul.

Potongan adegan terbaru yang dirilis Kairos Film memperlihatkan momen ketika kelima anak tersebut harus menghadapi kondisi sang Ayah. Tangis mereka menjadi bagian dari perjalanan yang kemudian membawa cerita pada persoalan tentang keluarga, kehilangan, dan penerimaan.

Mathias Muchus yang memerankan Pak Mahendra melihat hubungan antara karakter Ayah dan anak-anak tersebut sebagai gambaran tentang keluarga dalam arti yang lebih luas.

“Yang membuat saya jatuh hati pada Istimewa adalah ketulusannya. Film ini mengingatkan kita bahwa keluarga tidak selalu tentang hubungan darah, tetapi tentang siapa yang memilih untuk menerima, menjaga, dan tetap hadir ketika kita saling membutuhkan,” kata Mathias.

Sutradara Ruben Adrian juga ingin agar para karakter penyandang disabilitas dalam film ini tidak hanya dilihat dari kondisi mereka. Menurutnya, mereka tetap memiliki kepribadian, mimpi, pilihan, dan cerita masing-masing.

"Sejak awal kami ingin menghadirkan film yang bisa mengubah cara pandang seseorang dan dinikmati semua kalangan. Ada tawa, ada petualangan, ada momen-momen yang hangat, tetapi di saat yang sama penonton juga diajak mengenal anak-anak ini sebagai manusia yang utuh,” tutur Ruben.

Perjalanan Aldo, Bimo, Ken, Nita, dan Mul kemudian membawa mereka pada berbagai pengalaman tentang persahabatan, keluarga, keberanian, kehilangan, hingga penerimaan.

Lewat cerita tersebut, Istimewa mencoba menunjukkan bahwa keluarga tidak selalu terbentuk karena hubungan darah. Rumah juga bisa hadir melalui orang-orang yang memilih untuk tetap ada, menjaga, dan menerima satu sama lain.

Film produksi Kairos Film tersebut sudah tayang serentak di bioskop Indonesia pada Kamis (17/9).