Kumparan Logo

Menyusuri Jejak Tradisi Sumba di Kampung Adat Prai Ijing, Desa Bakti BCA

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Menyusuri Kekayaan Budaya Sumba di Desa Bakti BCA Prai Ijing – Berlatar deretan rumah adat beratap menjulang (Umma Kalada). Foto: Bakti BCA
zoom-in-whitePerbesar
Menyusuri Kekayaan Budaya Sumba di Desa Bakti BCA Prai Ijing – Berlatar deretan rumah adat beratap menjulang (Umma Kalada). Foto: Bakti BCA

Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur, menyimpan beragam destinasi yang menawarkan pengalaman lebih dari sekadar menikmati pemandangan. Salah satunya Kampung Adat Prai Ijing, salah satu Desa Bakti BCA yang mempertemukan wisatawan dengan tradisi, budaya, dan kehidupan masyarakat Sumba secara langsung.

Berada di tengah hamparan perbukitan Sumba Barat, Kampung Adat Prai Ijing memiliki lanskap yang khas dengan deretan rumah adat beratap menjulang yang disebut Umma Kalada. Suasana kampung semakin terasa autentik dengan aktivitas warga, termasuk para perajin yang masih menenun kain khas Sumba menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Melalui pengembangan pariwisata berbasis masyarakat, Kampung Adat Prai Ijing berupaya mengoptimalkan potensi lokal sekaligus menjaga keberlangsungan budaya setempat. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat kehidupan kampung adat, tetapi juga dapat terlibat langsung dalam berbagai aktivitas bersama masyarakat.

Desa Bakti BCA Kampung Adat Prai Ijing menyajikan pengalaman budaya imersif yang mengajak pengunjung mempelajari seni tenun tradisional, mencoba permainan ketangkasan Kagorokana Alu, hingga menyelami kearifan lokal setempat. Foto: Bakti BCA

Kampung Prai Ijing telah mendapat pendampingan Bakti BCA sejak 2024. Pendampingan tersebut berfokus pada penguatan sumber daya manusia dan kelembagaan desa, serta pengembangan potensi pariwisata yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

Hasilnya, Kampung Prai Ijing mencatatkan pertumbuhan pendapatan hingga 26 persen pada akhir 2025.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn mengatakan setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan.

“Setiap desa memiliki kekayaan dan keunikan yang dapat menjadi kekuatan untuk tumbuh secara berkelanjutan. Melalui pendampingan dan pengembangan potensi lokal, BCA ingin mendorong masyarakat untuk menjadi pelaku utama dalam mengelola desanya. Harapannya, potensi budaya dan pariwisata yang dimiliki Kampung Adat Prai Ijing dapat terus memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus tetap terjaga untuk generasi mendatang,” kata Hera.

Menikmati Tradisi Sumba dari Dekat

Ada berbagai aktivitas yang dapat dilakukan wisatawan ketika berkunjung ke Kampung Adat Prai Ijing. Salah satunya mencoba Kagorokana Alu, permainan tradisional menggunakan bambu yang mengandalkan ketangkasan sekaligus menjadi bagian dari keceriaan dan kebersamaan masyarakat setempat.

Wisatawan juga dapat melihat langsung proses pembuatan kain khas Sumba. Dalam workshop tenun, pengunjung diperkenalkan pada proses penataan benang hingga menjadi lembaran kain yang tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga sarat dengan nilai filosofis.

Aktivitas tersebut sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat sekitar. Kehadiran wisatawan turut melibatkan pelaku UMKM desa, mulai dari penyedia kuliner lokal, penyewa busana adat, perajin cenderamata, hingga pemandu wisata.

Pendampingan Bakti BCA berfokus pada penguatan kapasitas SDM dan kelembagaan desa untuk mengoptimalkan potensi lokal serta menggerakkan perekonomian warga secara berkelanjutan. Foto: Bakti BCA

Bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi Prai Ijing, tersedia dua pilihan paket wisata yang dapat disesuaikan dengan waktu kunjungan.

Prai Ijing Full Day Tour menawarkan pengalaman selama 6–8 jam dengan biaya Rp430 ribu per orang. Dalam paket ini, wisatawan dapat mengikuti tur kampung bersama pemandu lokal, mempelajari arsitektur dan sejarah desa, mencoba permainan tradisional, menikmati makan siang hidangan khas lokal, mengikuti workshop tenun, hingga mengenakan pakaian adat Sumba untuk sesi foto.

EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn berdiskusi bersama pengurus Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Prai Ijing saat meninjau pengembangan Desa Bakti BCA Kampung Adat Prai Ijing di Sumba Barat. Foto: Bakti BCA

Paket tersebut sudah mencakup tiket retribusi, pemandu lokal, snack dan makan siang, workshop tenun, sewa pakaian adat, serta cenderamata khas.

Sementara bagi wisatawan yang memiliki waktu terbatas, tersedia Prai Ijing Heritage Tour dengan durasi maksimal tiga jam dan biaya Rp250 ribu per orang. Paket ini mencakup tur sejarah kampung adat, workshop pembuatan kain tenun, snack lokal, sesi foto menggunakan pakaian adat, pendampingan pemandu lokal, serta cenderamata.

Wisatawan yang ingin merasakan kehidupan masyarakat secara lebih dekat juga dapat memilih paket homestay dengan biaya Rp300 ribu per orang per malam, termasuk tiga kali makan.

Untuk mendapatkan pengalaman yang lebih maksimal, penggunaan pemandu lokal bisa menjadi pilihan. Selain membantu wisatawan mengenal sejarah dan tradisi Prai Ijing, pemandu juga dapat menjelaskan berbagai aktivitas masyarakat yang ditemui selama perjalanan.

Dengan perpaduan lanskap alam, rumah adat, tradisi menenun, permainan tradisional, serta interaksi langsung dengan masyarakat, Kampung Adat Prai Ijing menawarkan cara berbeda untuk mengenal Sumba.

Melalui pendampingan Bakti BCA, pengembangan pariwisata di Prai Ijing diharapkan tidak hanya membuka kesempatan bagi wisatawan untuk mengenal kekayaan budaya Sumba, tetapi juga ikut mendukung masyarakat lokal dalam menjaga tradisi sekaligus mengembangkan potensi ekonomi desanya.