Konten dari Pengguna

Merantau Tanpa Kehilangan Akar

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari SURYA PRAJA SENAPATI TRIANGGARA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

 Felix-Mittermeier. (2018). Beech Tree Roots. Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Felix-Mittermeier. (2018). Beech Tree Roots. Pixabay

Setiap tahun ribuan anak muda meninggalkan kampung halamannya untuk menempuh pendidikan atau mencari pekerjaan di kota lain. Mereka datang dengan mimpi besar, tetapi juga membawa satu tantangan yang tidak kalah penting, yaitu belajar hidup di lingkungan yang memiliki kebiasaan, aturan, dan budaya yang berbeda. Tidak sedikit anak rantau yang mengalami gegar budaya karena cara berbicara, cara bergaul, hingga kebiasaan sehari-hari ternyata tidak selalu sama dengan tempat asal mereka.

Dalam budaya Jawa terdapat sebuah falsafah yang masih sangat relevan hingga saat ini, yaitu nerimo ing pandum. Banyak orang keliru menganggap falsafah ini sebagai ajaran untuk pasrah dan menyerah pada keadaan. Padahal, makna nerimo ing pandum jauh lebih dalam. Falsafah ini mengajarkan seseorang untuk menerima setiap keadaan dengan hati yang lapang setelah berusaha semaksimal mungkin. Menerima bukan berarti berhenti berjuang, melainkan menghindarkan diri dari sifat serakah, iri hati, dan terus-menerus mengeluhkan apa yang tidak dimiliki.

Nilai tersebut menjadi bekal yang berharga bagi anak rantau. Ketika pertama kali tinggal jauh dari keluarga, mereka sering kali harus menghadapi berbagai keterbatasan. Mulai dari hidup dengan uang saku yang terbatas, tinggal di tempat sederhana, hingga beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru. Dalam kondisi seperti ini, nerimo ing pandum mengajarkan untuk tetap bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa kehilangan semangat untuk terus berkembang.

Namun, menjadi perantau bukan hanya tentang belajar menerima keadaan. Seseorang juga harus mampu menghormati tempat yang menjadi rumah barunya. Orang Jawa mengenal ungkapan desa mawa cara, negara mawa tata. Artinya, setiap daerah memiliki cara hidup, adat, dan tata aturan yang perlu dihormati oleh siapa pun yang datang ke sana.

Ungkapan ini mengingatkan bahwa keberhasilan merantau tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan atau kemampuan akademik, tetapi juga oleh kemampuan menyesuaikan diri. Cara berbicara yang dianggap biasa di daerah asal belum tentu diterima di daerah lain. Kebiasaan yang lazim dilakukan di kampung halaman bisa saja memiliki makna berbeda di tempat baru. Karena itu, sikap terbuka untuk terus belajar menjadi kunci agar seseorang dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya.

Sayangnya, perkembangan teknologi membuat sebagian orang merasa tidak perlu mengenal lingkungan tempat tinggalnya. Lingkaran pertemanan sering kali hanya terbatas pada teman satu daerah atau komunitas yang sama. Akibatnya, kesempatan memahami budaya lokal menjadi semakin kecil. Padahal, salah satu kekayaan Indonesia justru terletak pada keberagaman adat dan kebiasaan yang dimiliki setiap daerah. Semakin banyak seseorang mengenal budaya baru, semakin luas pula cara pandangnya dalam menghargai perbedaan dan membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat sekitar.

Anak rantau memiliki kesempatan istimewa untuk menjadi jembatan antarbudaya. Mereka dapat membawa nilai-nilai baik dari kampung halaman sekaligus mempelajari kebijaksanaan yang hidup di tempat baru. Proses ini bukan berarti menghilangkan identitas diri, melainkan memperkaya cara pandang sehingga lebih mampu menghargai perbedaan.

Pada akhirnya, nerimo ing pandum dan desa mawa cara, negara mawa tata saling melengkapi. Yang pertama mengajarkan ketenangan hati dalam menghadapi berbagai keadaan, sedangkan yang kedua mengajarkan kebijaksanaan dalam bersikap terhadap lingkungan baru. Keduanya mengingatkan bahwa merantau bukan sekadar berpindah tempat, tetapi juga proses membentuk karakter menjadi pribadi yang rendah hati, mudah beradaptasi, dan mampu menghormati keberagaman. Sebab, sejauh apa pun seseorang melangkah meninggalkan kampung halaman, karakter yang baik akan selalu menjadi bekal terbaik di mana pun ia berada.