Monster Pabrik Rambut Raih 2 Penghargaan di Fantasia International Film Festival

Film karya sutradara Edwin, Monster Pabrik Rambut (Sleep No More), sukses menorehkan prestasi gemilang di kancah internasional. Produksi Palari Films ini membawa pulang dua penghargaan dari ajang bergengsi Fantasia International Film Festival ke-30 yang digelar di Montreal, Kanada.
Festival ini dikenal sebagai salah satu kiblat terbesar bagi film-film bergenre horor dan fantasi di dunia. Dalam kompetisi Cheval Noir, film ini dinobatkan sebagai peraih Best Screenplay. Penghargaan ini diberikan kepada tim penulis yang terdiri dari Edwin, penulis Eka Kurniawan, dan Daishi Matsunaga.
Dewan juri memuji keberanian film ini dalam meramu berbagai elemen unik ke dalam satu narasi yang utuh dan segar.
"Untuk visi storytelling yang orisinal, ada cerita rakyat, humor, isu hak pekerja, serta body horror (horor tubuh) yang ekstrem, ke dalam sebuah kisah keluarga yang bersatu kembali," demikian pernyataan dewan juri Fantasia.
Tak hanya soal naskah, aspek visual film ini juga mendapat apresiasi melalui penghargaan Special Jury Mention untuk kategori Special Practical Effects. Penghargaan ini diberikan kepada Jabrik Hellworker, AAT, dan Issei Oda atas efek visual di Monster Pabrik Rambut.
"Sebuah film yang memukau berkat penggunaan efek praktikal handmade yang orisinal, dengan integrasi VFX yang apik—dari Monster Rambut yang rakus, hingga karakter 'Bona' yang mampu menumbuhkan kembali anggota tubuhnya yang hilang. Semuanya dengan indah membangun nuansa mimpi buruk nan surealis," ungkap para juri.
Kejayaan film ini tidak berhenti di Kanada. Di Swiss, Monster Pabrik Rambut juga menyabet penghargaan Best Production Design Award di Neuchâtel International Fantastic Film Festival (NIFFF).
Penghargaan ini jatuh kepada para penata artistik, Menfo Tantono dan Guntur Mupak, yang berhasil menciptakan atmosfer pabrik yang mencekam dan absurd.
Sutradara soal Ide Film Monster Pabrik Rambut
Sutradara Edwin mengungkap, ide di balik film ini berakar dari keresahannya melihat kondisi dunia kerja modern.
"Dunia kita makin sakit dan semakin dinormalisasi sampai titik yang absurd dan mengerikan. Orang-orang dituntut menumbuhkan kembali bagian tubuh mereka demi bertahan dari kerja paksa berjam-jam. Untuk apa, dan untuk siapa?" tutur Edwin.
Film yang menyuarakan isu hak pekerja melalui balutan horor ini diperkuat oleh jajaran aktor papan atas Indonesia, mulai dari Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, hingga Didik Nini Thowok, Sal Priadi, dan Luqman "Kev" Hakim.
Prestasi internasional mengukuhkan posisi Palari Films dan Edwin di kancah global. Sebelumnya pada 2021, film Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Edwin memenangkan Golden Leopard di ajang bergengsi 74th Locarno Film Festival.
