Kumparan Logo

Sisi Lain Reuni Oasis dalam Dokumenter Don't Look Back in Anger

kumparanHITSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Penampilan Grup Musik Oasis saat lakukan konser reuni. Foto: Suzanne Plunkett/ REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Penampilan Grup Musik Oasis saat lakukan konser reuni. Foto: Suzanne Plunkett/ REUTERS

Sutradara dokumenter musik terbaru dari Oasis: Don’t Look Back in Anger, Will Lovelace dan Dylan Southern, membagikan kisah di balik layar pembuatan film tersebut. Dokumenter yang akan tayang di platform Disney+ ini menyoroti momen bersejarah saat Liam Gallagher dan Noel Gallagher akhirnya kembali berkumpul setelah 15 tahun berselisih.

Kedua sutradara mendapatkan akses langka untuk merekam proses latihan awal mereka menjelang tur dunia yang sangat dinantikan. Menariknya, pertemuan kembali duo bersaudara yang terkenal dengan perseteruan sengitnya ini jauh dari kesan melodrama atau air mata haru.

Proses Reuni Tanpa Drama Air Mata

Banyak penggemar membayangkan reuni ini akan dipenuhi dengan momen emosional yang mengharukan. Namun, Southern menegaskan bahwa realitasnya sangat berbeda dan jauh dari kesan drama televisi. Pertemuan tersebut berjalan sangat profesional dan fokus pada pekerjaan.

“Ini adalah keluarga Gallagher, bukan Dawson’s Creek. Mereka tidak akan duduk dan membicarakan emosi mereka,” jelas Southern kepada Variety.

Ia menambahkan bahwa kejutan terbesar justru melihat seberapa serius mereka mempersiapkan aransemen lagu-lagu ikonik seperti Wonderwall dan Champagne Supernova. Begitu Liam tiba di studio, mereka langsung fokus menyelesaikan daftar lagu latihan tanpa banyak basa-basi.

Untuk menjaga kenyamanan dan keintiman proses reuni yang sensitif ini, tim produksi memutuskan tidak menempatkan kru kamera secara langsung di dalam ruangan studio. Lovelace dan Southern memilih memasang kamera jarak jauh dan memantau seluruh proses dari sebuah kabin kecil tanpa pendingin udara di dekat studio selama gelombang panas berlangsung. Langkah ini diambil agar interaksi kedua saudara tersebut dapat berjalan sealami mungkin tanpa merasa diawasi oleh orang asing.

Ketegangan yang Mencair di Atas Panggung

Meski proses latihan berjalan lancar, atmosfer ketegangan tidak sepenuhnya hilang begitu saja. Lovelace mengungkapkan bahwa suasana canggung masih sangat terasa di antara keduanya selama masa persiapan. Ketegangan tersebut baru benar-benar mencair ketika mereka melangkah ke atas panggung untuk penampilan perdana mereka di Cardiff.

“Ada ketegangan yang nyata,” ungkap Lovelace. “Dari sudut pandang kami sebagai pengamat, ketegangan itu baru mencair ketika energi penonton yang begitu besar bertemu dengan kegugupan para personel band. Itu adalah momen alkimia yang sangat spesial.”

Penggemar Grup Musik Oasis saat lakukan konser reuni. Foto: Suzanne Plunkett/ REUTERS

Mengenai spekulasi bahwa reuni ini hanya didorong oleh motif finansial semata, kedua sutradara menepis anggapan tersebut. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Liam dan Noel memikul tanggung jawab besar untuk memberikan performa terbaik bagi para penggemar setianya yang telah menunggu selama belasan tahun. Menurut Lovelace, fokus utama mereka adalah menyajikan performa Oasis terbaik, bukan sekadar datang untuk mengambil bayaran.

Pendekatan Sinematik yang Menghindari Tayangan Standar

Untuk menangkap esensi tur dunia ini secara visual, Lovelace dan Southern menggunakan pendekatan sinematik yang tidak biasa dengan melibatkan sejumlah penata kamera kelas dunia di setiap negara yang mereka kunjungi. Nama-nama besar seperti Haris Zambarloukos, Lol Crawley, hingga James Laxton turut andil dalam mendokumentasikan perjalanan tur ini.

Para penata kamera diberikan kebebasan penuh untuk merekam pengalaman mereka sendiri selama konser berlangsung daripada sekadar mengikuti panduan pengambilan gambar standar. Arahan yang diberikan sangat spesifik: fokus pada cerita yang terjadi di lapangan, termasuk interaksi emosional di antara penonton.

Hasilnya adalah sebuah rekaman konser yang imersif dan emosional. Penonton dokumenter ini nantinya akan diajak merasakan kembali atmosfer musim panas tahun 2025 yang dipenuhi lagu-lagu legendaris lewat layar IMAX. Dengan fokus pada detail interaksi manusia dan energi penonton, film ini diharapkan mampu membawa penonton sedekat mungkin dengan pengalaman berada di tengah kerumunan konser tersebut.