Tsunami 2004 Ubah Cara Pandang Jet Li soal Hidup, Jadi Fokus Beramal
·waktu baca 3 menit

Satu hal ini membuat hidup Jet Li berubah. Momen itu terjadi ketika ia selamat dari bencana tsunami Samudra Hindia 2004.
Dilansir PEOPLE, aktor laga berusia 63 tahun itu menceritakan hal tersebut saat membahas buku terbarunya berjudul Beyond Life and Death: The Way of True Freedom.
Saat bencana tsunami Samudra Hindia 2004, Jet Li dan keluarganya berada dalam kondisi bahaya. Kala itu, mereka sedang liburan bersama di Maladewa.
Sebelum merasakan pengalaman tersebut, Li mengatakan banyak orang yang memberikan dukungan terhadap karya-karyanya. Ia menghargai hal tersebut.
Namun, di sisi lain, Li memikirkan bagaimana caranya membalas semua kebaikan mereka.
"Aku berpikir, ‘Oke, mungkin suatu hari nanti saat aku pensiun, aku akan melakukan kegiatan amal. Aku akan membantu orang miskin dan mengambil tanggung jawab itu’," kata Li kepada PEOPLE.
Tsunami 2004 Ubah Cara Pandang Jet Li
Ketika bencana tsunami terjadi, Li baru berusia 41 tahun dan sangat dekat dengan kematian. Situasi itu membuatnya tersadar bahwa tidak ada seorang pun yang tahu mengenai umur seseorang.
"Kamu ingin pensiun? Bisa saja sebelum itu terjadi kamu sudah lebih dulu meninggal. Aku mungkin kuat, ahli kung fu, tapi di hadapan alam, ketika tsunami datang, kamu bukan apa-apa," tutur Li.
Begitu memastikan bahwa istri dan anak-anaknya selamat, Li menyadari betapa besar tragedi yang baru saja mereka lewati. Momen itu mengubah cara pandangnya tentang hidup.
“Aku berpikir, ‘Ini waktunya bagiku untuk berubah. Aku harus melakukan sesuatu untuk membantu orang lain.’ Jadi, aku mendirikan sebuah yayasan di China dan mengajak semua orang untuk berdonasi satu Yuan setiap bulan. Kalau dikumpulkan bersama-sama, kita bisa menciptakan perubahan, cara baru dalam beramal,” ucap Li.
Awalnya, ide Li untuk mendirikan One Foundation sempat diragukan banyak orang. Mereka menganggap itu bukan ide yang bagus.
Menurut Li, banyak yang merasa perusahaan besar atau orang kaya yang bisa menyumbang jutaan dolar jauh lebih berguna dibanding meminta masyarakat biasa menyumbang satu Yuan.
“Tapi ternyata kita bisa menciptakan perubahan. Kami berusaha keras dan setelah 15 tahun, seluruh keluarga ikut berpartisipasi, mengumpulkan sedikit demi sedikit uang mereka. Kami berhasil mengembalikan lebih dari sekitar USD 735 juta kepada masyarakat untuk membantu banyak orang. Jangan melihat jumlah kecilnya. Kalau semua orang mengumpulkan sedikit demi sedikit, kita bisa membangun gunung,” ucap Li.
Li juga menegaskan bahwa setiap orang harus ikut mengambil peran dalam menciptakan perubahan.
“Itulah yang saya yakini, bahwa kita harus berusaha semaksimal mungkin mengubah hidup kita. Kita tidak bisa hanya menunggu seseorang datang menyelamatkan kita. Kita harus melakukan sesuatu. Itulah perubahan terbesar dalam hidupku setelah tsunami," kata Li.
