Penangkapan Presiden Maduro oleh AS: Kenangan di Ekuador hingga Monroe Doctrine

Seorang WNI - yang juga merupakan ilmuwan Ilmu Politik dan Hubungan Internasional - yang sedang meniti karir di Belgia dan pernah merasakan tinggal di Amerika Selatan.
·waktu baca 8 menit
Tulisan dari Rafi Eranda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sabtu, 3 Desember 2026 jam 10 pagi Central European Time--saat itu, saya sedang berada dalam perjalanan menuju luar kota Brussels, Belgia dan baru setengah jam dalam perjalanan, tiba-tiba… jeng-jeng, alamak kagetnya ada reels berita dari salah satu kantor berita di Instagram yang nunjukkin kalau ada serangan Amerika Serikat (AS) di beberapa tempat di Venezuela, termasuk di ibukotanya, Caracas.
Setelah beberapa konten scrolled down, gebrakan baru datang lagi. Kali ini ada berita baru kalau Presiden Venezuela, Nicolás Maduro ditangkap pasukan khusus Amerika Serikat. Saya kirim reels tentang penangkapan tersebut ke sahabat yang tinggal di Caracas, dan saya bertanya kalau ini apakah hoax apa bukan, dan dia bilang, “confirm bro”.
Alhamdulillah sahabat saya tidak tertimpa atau terdampak serangan AS tersebut, namun dia bilang juga bahwa tidak lama berita penangkapan tersebut tersebar, masyarakat Venezuela turun ke jalan malah ngerayain peristiwa itu. Hal ini jujur, bikin ingatan saya kembali pada masa-masa sewaktu masih bekerja dan tinggal di Ekuador.
Penangkapan Maduro ini secara tidak langsung membuat saya lega, mengingat masa-masa sewaktu tinggal dan bekerja di Ekuador, tepatnya di Kota Quito - sang ibukota dari tahun 2016 hingga 2019, yang mana kala itu saya adalah salah satu dari 60-an WNI yang tinggal di Ekuador. Kala itu, saya tepat mendarat di Quito bertepatan dengan ambruknya negara dengan penghasil migas terbesar di dunia tersebut.
Saya masih ingat betapa amannya Quito pada tahun 2016-2017, bahkan ketika kita pulang malam sekalipun. Namun, pada tahun 2017, saya memantau berita setempat dan melihat adanya gelombang orang Venezuela yang mengungsi ke Ekuador dalam jumlah yang masif di salah satu terminal bus di kota Quito. Venezuela kala itu diterpa inflasi dengan angka yang cukup gokil, yakni sekitar 2600%. Hal ini membuat Venezuela menjadi negara yang sangat-sangat krisis, di mana mata uangnya juga sudah tidak bernilai lagi.
Krisis Venezuela ini juga berdampak pada hubungan multilateral benua Amerika, yakni bubarnya UNASUR (La Unión de Naciones Suramericanas / Union of South American Nations - organisasi regional negara-negara Amerika Selatan) pada tahun 2018. Untuk melihat penjelasan krisis Venezuela tersebut, ada baiknya bisa melihat liputan dari media AS, Vox pada video berikut:
Setelah krisis terjadi, ditambah dengan kekacauan pemilu Venezuela pada tahun 2018, Quito sudah tidak sama lagi. Banyak begal terjadi di berbagai distrik di Quito yang bikin kita merasa horror buat jalan di malam hari. Kami yang bertugas malam pun harus menggunakan taksi resmi ataupun daring untuk pergi ke mana-mana. Bahkan 2 (dua) mobil dinas kantor kami pun tidak luput jadi sasaran pembobolan yang berakibat hilangnya beberapa tas dan dompet teman-teman kantor kami dan hilangnya headunit mobil. Teman-teman kami juga mengalami kehilangan smartphone-nya sewaktu melaksanakan tugas pameran yang membutuhkan interaksi dengan orang sekitar.
Soal krisis di Venezuela di tahun itu, ada sahabat saya seorang WNI yang tinggal di Caracas di tahun 2017 juga menceritakan bahwa dia bisa jadi orang kaya dengan hanya menukar 20 USD dan membawa pulang tumpukan uang Bolivar (mata uang Venezuela) seukuran tas travel, yang tentunya menukar uang tersebut di pasar gelap.
Sahabat saya tersebut juga cerita bahwa kantornya di Caracas berstatus waspada tinggi, mengingat kepala kantornya dan orang keuangan juga mengalami kejadian kekerasan kriminal di tempat yang tidak seharusnya kejadian kekerasan kriminal terjadi: di lapangan golf - yang seharusnya dijaga ketat dan exclusive hanya untuk member untuk masuk ke situ, yang ternyata, peristiwa tersebut terjadi karena ada sekelompok orang dengan bersenjata api laras pendek berhasil membobol pagar tinggi kawasan lapangan golf tersebut.
Dirinya dan rekan-rekan kerjanya juga kesusahan mendapatkan bahan-bahan pokok ketika berbelanja - seperti telur, daging, hingga peralatan mandi di mana terjadi kelangkaan dahsyat dan harus rebutan dengan orang-orang, dan sering terjadi mati lampu dalam jangka waktu yang lama yang mengakibatkan rusaknya stok makanan yang disimpan.
Saya bertemu dengan sahabat saya yang tinggal di Caracas tersebut di Los Angeles, AS ketika kami sedang mengikuti bimbingan teknis dari kantor pusat. Peristiwa kekacauan di Venezuela itu pun sangat berdampak sangat psikologis baginya, salah satunya sahabat saya selalu dalam mode waspada (celingak-celinguk kanan-kiri dengan gelagat cemas) ketika berjalan di downtown Los Angeles dan bahkan ketika kami sedang mendaki menuju spot untuk berfoto dekat dengan Hollywood sign.
Di Quito, saya berteman dan bersahabat dengan beberapa WNI yang selalu ke mana-mana ketika akhir pekan. Tinggal di Quito, bukan berarti kami hanya berkawan dengan orang-orang Ekuador, tapi juga di antaranya dengan orang-orang Venezuela - dengan logat Spanyol-nya yang super lain yang kental akan aksen orang pantai (costa), sementara orang Quito kental akan logat orang dari pegunungan (serrano). Namun, perbedaan logat tersebut tidak menghalangi kami WNI untuk haha-hihi dengan mereka, sejatinya orang-orang Venezuela kurang lebih mempunyai selera humor yang sama dengan Indonesia.
Saya ingat bahwa salah seorang teman Venezuela berinisial E, bercerita bagaimana dia harus keluar dari negaranya dari tahun 2016 untuk mendapatkan penghasilan yang jauh lebih baik dibanding di negaranya. Salah satu tujuannya dalam jangka pendek adalah bekerja di Ekuador untuk mendapatkan gaji dalam USD - Ya, Ekuador adalah negara yang menggunakan mata uang USD setelah mengalami krisis di tahun 1998. Banyak saudara-saudaranya yang sarjana, tapi sudah tidak tertampung untuk pekerjaan formal akibat dari krisis tersebut. Dirinya juga bercerita, bahwa banyak juga saudara dan kenalannya yang mengungsi di negara tetangganya: Kolombia, namun banyak juga yang terus mencari tempat hingga Perú atau langsung loncat ke Amerika Serikat. Beruntung dirinya sekarang bisa bekerja secara sah di Ekuador. Namun, beda nasib dengan salah seorang teman Venezuela kami yang lain berinisial O, di mana dia harus bekerja secara serabutan - menjadi freelance model hingga menjadi sales mobil dan pekerjaan kasar lainnya. O harus lari dari Venezuela mengingat harus putus kuliah karena krisis finansial keluarganya dan sekitarnya dan mencari peruntungan sebisanya.
AS di Bawah Trump yang (akan) Terus Beraksi: Monroe Doctrine
Pengalaman saya di Ekuador tersebut cukup membuat saya lega ketika melihat berita penangkapan Maduro oleh special ops AS tersebut. Meskipun di sisi lain, sebagai lulusan Ilmu Politik dan Hubungan Internasional, ada kekhawatiran di dalam diri saya. Perisitiwa penangkapan ini layaknya old nemesis returned to the battle. Trump sebenarnya sudah mengutuk dan memberikan sanksi berat kepada Maduro pada masa jabatannya yang pertama, tepatnya pada tahun 2018 setelah Pemilu Venezuela yang sangat kontroversial.
Pemerintah AS sempat mengakui Juan Guaidó - pemimpin oposisi pemerintah Venezuela - sebagai pemimpin Venezuela yang sah dan bahkan sempat mengundang dirinya ke Gedung Putih, yang pada akhirnya Guaidó berhenti diakui sebagai pemimpin Venezuela baik de jure atau de facto. Serangan Trump terhadap Maduro pun sudah beberapa kali terjadi, sempat pada tahun 2019 ada peristiwia sejumlah prajurit AS tertangkap dalam usaha penggulingan dan sempat ada serangan drone terhadap Maduro pada perayaan militer pada tahun 2018.
Namun, pada penangkapan Maduro ini, ada hal unik yang saya tangkap ketika Trump mengadakan konferensi pers: Pertama, Trump menyinggung secara tidak langsung bahwa kejadian penangkapan ini akan tetap berlanjut hingga ke Kolombia, di mana Trump menyinggung agar Gustavo Petro waspada dikarenakan Kolombia yang dinilai Trump terus memasok narkoba ke dalam AS.
Petro adalah kawan bagi Maduro ketika dirinya mulai menjabat sebagai Presiden Kolombia dan menormalisasi hubungan diplomatik kedua negara pada tahun 2022. Keduanya memiliki ideologi kiri yang sama dan inilah yang membuat Kolombia - yang biasanya menjalankan politik luar negeri berkiblatkan AS - harus berseberangan total. Bahkan Trump sendiri kembali mengultimatum Petro dalam kampanye anti narkobanya di akhir tahun 2025.
Hal Kedua adalah ketika Trump menyebutkan Monroe Doctrine yang harus dijaga. Monroe Doctrine atau Doktrin Monroe pada masanya di tahun 1823 - yang dicanangkan Presiden AS kala itu, James Monroe dan dirangkum oleh Menteri Luar Negeri AS kala itu, John Quincy Adams - kurang lebih, berprinsip pada AS yang menghormati negara-negara Eropa, AS yang menghormati negara-negara jajahannya Eropa, prinsip perlindungan kolonialisme AS di Benua Amerika.
Mendengar Trump menyebut hal tersebut, di kepala saya seperti ada tombol lampu on - bahwa AS di bawah Trump akan terus coba meluncurkan sejumlah actions di kawasan benua Amerika, terutama Amerika Selatan dengan berdalih anti narkoba dan apalagi dengan America First-nya atau mungkin kita mengetahuinya sebagai MAGA (Make America Great Again). Masih segar di awal tahun 2025, Trump menyinggung Panama pada pidato pelantikannya untuk masa jabatan kedua, ketika itu Trump menuduh Panama yang menggunakan jasa perusahaan-perusahaan dari Tiongkok.
Di Amerika Tengah, Trump pun juga merangkul El Salvador dalam pengaruhnya dengan memuji Nayib Bukele, Presiden El Salvador yang memberantas kelompok narkoba tingkat tinggi, MS-13. Dalam waktu yang singkat sebelum Maduro ditangkap, Trump mengeluarkan pengampunan terhadap Juan Orlando Hernández, politisi Honduras yang ditangkap di AS atas kasus narkoba dan senjata ilegal yang dihukum 45 tahun penjara dan di waktu yang sama, Trump nge-backing Nasry Asfura untuk menjadi Presiden Honduras pada pemilu yang baru saja berlangsung.
Hal-hal tersebut sangat sejalan dengan prinsip Doktrin Monroe yang mana juga sejalan dengan kampanye MAGA oleh Trump. Jika hal ini terus berlangsung, maka sangat mungkin Trump merambah pengaruhnya hingga ke kawasan Asia Tenggara layaknya Doktrin Monroe di benua Amerika, yang mana ini sudah berlangsung kok, lihat saja bagaimana usaha Trump dalam konflik Thailand dan Kamboja.
Rafi Eranda
“Seorang WNI biasa yang lagi meniti karir di Belgia”
