Bonus Demografi dan Wacana Pendidikan Tan Malaka

Pengajar di Sekolah Dasar Universitas Muhammadiyah Purwokerto. Seorang pembelajar penuh waktu.
Konten dari Pengguna
31 Mei 2022 12:53
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Eri Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Tan Malaka / Ilustrasi pribadi : Eri Nugroho
zoom-in-whitePerbesar
Tan Malaka / Ilustrasi pribadi : Eri Nugroho

Berita Pendidikan - Indonesia, dalam 20 tahun kedepan diprediksi akan mengalami masa bonus demografi. Bonus demografi ini merupakan kondisi saat penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan dengan penduduk usia non produktif. Menurut pengamat, bonus demografi ini merupakan sebuah momentum penting untuk meningkatkan kemajuan sebuah bangsa dan dapat menjadi sebuah landasan yang strategis bagi negara untuk merumuskan tindakan selanjutnya.

ADVERTISEMENT
Saya tertarik untuk membahas tentang bonus demografi dan kebutuhannya dalam perspektif dunia pendidikan. Hal ini dikarenakan, minimnya ulasan mengenai peran pendidikan pada masa bonus demografi.
ADVERTISEMENT
Pendidikan Indonesia membawa cita cita besar yaitu “mencerdaskan kehidupan bangsa” sebagaimana tertuang dalam pembukaan UUD 1945 alinea 4. Tujuan tersebut merupakan cita-cita luhur, disertai harapan besar Indonesia dalam membangun sumber daya manusia yang unggul. Upaya 'mencerdaskan kehidupan bangsa' telah dan akan terus dilakukan oleh pemerintah dengan tujuan meningkatkan kualitas dan mutu Pendidikan, dalam berbagai jalur, dari peningkatan kualitas guru hingga penyesuaian materi pembelajaran.
Lebih jauh, saya teringat dengan perkataan seorang guru yang mengambil jalan revolusi, Ibrahim datuk tan malaka. Tan malaka mengatakan bahwa, Pendidikan adalah sebuah usaha manusia dari kesengsara-an, ketidaktahuan yang menjadikan hidup menjadi lebih bermanfaat bagi diri dan sekitarnya. Tan malaka bermaksud, pendidikan harus di posisikan sebagai jalan pembebasan manusia dari berbagai hal yang menjeratnya, serta mampu hidup baik (bermanfaat) dalam kehidupan sosial masyarakat.
ADVERTISEMENT
Tan malaka, sebagai salah satu bapak pendidikan Indonesia, Saya tertarik untuk membaca landasan pendidikan yang tan malaka letakan, kemudian meninjau mengenai relevansinya pada masa bonus demografi yang akan dihadapi oleh Indonesia selama 20 tahun kedepan.
Bonus Demografi dan Pendidikan di Indonesia Saat Ini
Bonus demografi merupakan peristiwa ketika proporsi jumlah penduduk usia produktif (15 sampai 64 tahun) lebih tinggi dibandingkan dengan usia yang tidak produktif. Menurut Badan Pusat Statistik, peristiwa ini tengah berlangsung dan mulai berakhir pada 2036.
Salah satu tantangan utama terkait bonus demografi, yakni Pendidikan. Pendidikan melalui sekolah-sekolahnya dituntut untuk menghasilkan manusia muda(produktif) yang berkualitas, agar nantinya masa bonus demografi ini tidak menjadi 'bola api' yang malah menghasilkan masalah sosial baru dengan banyaknya manusia muda (produktif) yang tidak memiliki kualitas.
ADVERTISEMENT
Maka dari itu, pendidikan Indonesia dalam menghadapi masa bonus demografi ini perlu berorientasi dan bergerak menjadikan pembangunan sumber daya manusia sebagai fokus utama. Masifikasi pembangunan di bidang pendidikan harus tetap dilaksanakan untuk meningkatkan kompetensi SDM Indonesia agar menciptakan manusia-manusia yang produktif, mandiri dan berdaya saing.
Pemerintah telah dan terus melakukan perbaikan-perbaikan pada bidang Pendidikan. Berbagai kurikulum telah dicoba, ditawarkan dan diterapkan, dengan hasil pendidikan saat ini mengalami kemajuan bila dibandingkan dengan 20-30 tahun yang lalu, namun apakah pembenahan yang dilakukan pemerintah pada bidang pendidikan melalui berbagai jalur dan jenjang sudah cukup baik? Apakah kurikulum yang ditawarkan sudah memadai dalam menciptakan sumber daya manusia yang memiliki kemandirian, produktif dan berdaya saing?
ADVERTISEMENT
Tan Malaka dan Pendidikan
(free to use) group of childern sitting on the ground. Yannis via unsplash.com
zoom-in-whitePerbesar
(free to use) group of childern sitting on the ground. Yannis via unsplash.com
Ibrahim Datuk Tan malaka menggaris bawahi mengenai tujuan Pendidikan. Menurutnya, tujuan Pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan dan memperhalus perasaan. Berdasarkan tujuan yang diterangkan Tan, maka jika kita seorang guru maka tugas kita dikelas untuk mempertajam kecerdasan siswa, memperkukuh kemauan (motivasi) belajar siswa, dan mengajarkan tentang adab, atau berperilaku baik antar sesama manusia.
Menurut Tan, pendidik memiliki peran dan tanggung jawab untuk membentuk pola pikir, motivasi belajar dan moral peserta didik. Selanjutnya menurut Tan, Siswa itu sebagai manusia, sebagai benda hidup, dan tumbuh melalui kodratnya sendiri. Pendidik membimbing dan mengembangkan potensi anak sesuai dengan kodratnya, namun tidak memaksa dalam menggapai cita-cita luhur siswa itu sendiri.
ADVERTISEMENT
Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tersebut, Tan membangun arah pembangunan pendidikan bangsa melalui 3 program :
  1. Wajib belajar bagi semua warga Indonesia sampai umur 17 tahun dengan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pengantar dan bahasa inggris sebagai Bahasa asing yang terutama.
  2. Menghapus system pelajaran sekarang dan menyusun system yang langsung berdasarkan atas kepentingan-kepentingann Indonesia yang sudah ada dan akan dibangun.
  3. Memperbanyak dan memperbaiki sekolah-sekolah kejuruan, pertanian, perdagangan dan sebagainya.
Tan Malaka mempersiapkan Pendidikan dengan sangat serius. Karena bagi Tan, mendidik bangsa Indonesia adalah salah satu hal yang penting untuk mencapai kemajuan bangsa pada masa depan. Tan Malaka, juga menekankan materi mendidikan, dan menyimpulkannya menjadi tiga bagian, yaitu :
  1. Memberi senjata yang cukup buat mencari kehidupan (Pendidikan Keterampilan) yaitu dengan ilmu berhitung, meembaca, menulis, ilmu bumi, Bahasa asing, Indonesia dan daerah.
  2. Memberi hak terhadap murid melalui jalan pergaulan, ilmu untuk bergaul dan berorganisasi untuk mengembangkan kepribadidan yang tangguh, percaya diri dan memiliki harga diri.
  3. Meenunjukan kewajiban terhadap berjuta-juta kaum kromo (rakyat jelata) Pendidikan yang tidak melahirkan kecongkaan karena merasa lebih tinggi dalam kehidupan sosial.
ADVERTISEMENT
Relevansi Wacana Pendidikan Tan Malaka dalam menghadapi bonus demografi
Dalam menyongsong masa bonus demografi yang akan terjadi di Indonesia selama 20 tahun mendatang, pendidikan melalui sekolahnya harus dapat menjawab tantangan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang mandiri, kompeten, produktif dan memiliki daya saing. Pendidikan dan segala sistemnya harus dapat memastikan Lembaga Pendidikan menghasilkan lebih banyak siswa yang dapat menyelesaikan sekolah sesuai dengan standar yang ditentukan, dan memberi keterampilan pada siswa didikannya agar bisa memiliki nilai (value) dan dapat beradaptasi di dunia global.
Berkaitan dengan bonus demografi, seorang yang bernama Tan Malaka meletakan sebuah tujuan, prinsip dan konsep Pendidikan yang masih memiliki kecakapan di dunia modern.
Secara sederhana, dalam rangka mencapai kemajuan bangsa dimasa depan serta menyukseskan bonus demografi, Lembaga Pendidikan harus memiliki prioritas materi pendidikan.
ADVERTISEMENT
Prioritas antara lain, (1) Lembaga Pendidikan harus memberikan ilmu menghitung, ilmu membaca, ilmu menulis, ilmu kecakapan dalam bahasa asing, Indonesia dan daerah. Ilmu tersebut merupakan ilmu praktikal yang berfungsi sebagai bekal penghidupan dalam masyarakat. (2) Lembaga Pendidikan, dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia yang unggul perlu membekali peserta didiknya dengan ilmu berorganisasi, ilmu bergaul (networking), ilmu untuk berdemokrasi serta sarananya, agar tumbuh kepribadian yang tangguh, pantang menyerah dan memiliki harga diri. (3) Ilmu yang mengajarkan tentang moral dan adab, tanpa membeda-bedakan. Pendidikan yang dekat dengan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia yang luhur.
Terakhir, izinkan saya untuk mengutip salah satu tokoh besar dalam sejarah amerika, Abraham Lincoln :

“We must first know what we are, where we are and where we are going, before saying what to do and how to do it”

“Pertama-tama, kita mengetahui kita sebenarnya, dimana kita berada dan kemana kita akan pergi, sebelum mengatakan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya”.

ADVERTISEMENT
Tokoh, Berita Terkini Tokoh, Berita Terbaru Tokoh, Berita Hari Ini Tokoh
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020