Konten dari Pengguna

Hadir secara Fisik, Absen secara Emosional: Mengapa Kehangatan Ayah Begitu Krusi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erika tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hening yang menyimpan rindu akan pelukan seorang ayah.

Foto ini merupakan contoh ilustrasi dari AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto ini merupakan contoh ilustrasi dari AI

Di dalam sebuah keluarga, figur seorang ayah sering kali dibayangkan sebagai pilar yang kokoh, sosok pelindung yang tangguh, tempat berlindung, sekaligus pemberi rasa aman di rumah. Namun, jika kita melipir sejenak melihat kolom komentar di salah satu unggahan keluarga publik figur di media sosial, kita akan menemukan pemandangan yang menarik. Di tengah pujian warganet yang menyebut momen kekeluargaan tersebut sebagai “family dreams”, terselip komentar reflektif seperti, "Ini baru namanya rumah. Bukan soal rumahnya, tapi orang-orang di dalamnya."

Foto ini merupakan hasil tangkapan layar nyata dari seorang warganet di media sosial instagram dalam sebuah kolom komentar

Tanpa disadari, komentar-komentar tersebut membuka mata kita pada realita bahwa ada banyak orang di luar sana yang, di balik rumah tangganya yang tampak lengkap, ternyata tidak pernah benar-benar merasakan kehangatan dari figur seorang ayah.

Kondisi tersebut tentu bukan hal yang bisa dianggap sepele. Meski sering kali hanya berawal dari obrolan ringan atau curhatan santai di media sosial, isu ini mencerminkan sebuah pola asuh tradisional yang masih mengakar di masyarakat. Selama ini, tugas seorang ayah kerap direduksi sebatas penyedia nafkah, sementara urusan emosional anak diserahkan sepenuhnya kepada ibu. Padahal, studi psikologi perkembangan anak selalu menegaskan bahwa absennya keterlibatan emosional dari seorang ayah meninggalkan ruang kosong yang berdampak besar pada mental anak perempuan.

Di balik kemegahan rumah, banyak anak perempuan merana akibat haus akan validasi ayah sendiri. Fenomena father hunger ini berdampak langsung pada self-worth mereka. Karena ayah adalah tolak ukur pertama bagaimana pria memperlakukan wanita, ketiadaan kehangatan tersebut membuat mereka kesulitan mengenali standar kasih sayang yang sehat.

Dampak jangka panjangnya pun nyata dan terukur dalam dinamika sosial kita. Anak perempuan yang mengalami kekosongan emosional dari figur ayah rentan tumbuh menjadi pribadi yang haus akan pengakuan, memiliki kecemasan berlebih dalam membina hubungan atau anxious attachment, hingga berisiko salah melangkah dalam memilih pasangan hidup demi menambal rasa lapar akan validasi tersebut.

Sudah saatnya kita berhenti menganggap remeh absennya kehangatan emosional seorang ayah di dalam rumah. Pemenuhan materi dan fasilitas yang megah tidak akan pernah bisa menggantikan arti dari sebuah pelukan hangat dan telinga yang sabar mendengarkan. Bagi para ayah, ini adalah pengingat bahwa anak perempuan tidak hanya butuh pencari nafkah, tetapi juga sosok pelindung yang hadir secara utuh. Dan bagi para anak perempuan yang tumbuh dalam kehampaan tersebut, menyadari luka ini adalah langkah awal untuk berdamai dengan masa lalu bahwa harga dirimu tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar validasi yang gagal diberikan oleh ayahmu.