Benarkah Stigma Standard Kecantikan Sebabkan Hilangnya Jati Diri?

Mahasiswa Semester 2, Universitas Airlangga. Hobby : Berandai - andai dan berangan - angan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Erika Rahmaningtyas tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menurut Ashad Kusuma Djaya (2007), Kecantikan adalah total, mencakup ukuran-ukuran tubuh (fisik), dan mental atau kepribadian (inner beauty) dengan ukuran standard pula, sehingga secara keseluruhan melahirkan kecantikan sejati.
Kecantikan atau keindahan sebenarnya merupakan hal yang identik dengan perempuan. Semua perempuan berhak memiliki predikat cantik. Pemberian predikat cantik ini pun dianggap sesuatu hal yang penting bagi perempuan.
Padahal jika kita merujuk pada karya Naomi Wolf, dengan judul The Beauty Myth, kecantikan hanyalah mitos belaka.
Menurut Wolf, kecantikan itu bersifat tidak tetap dan tidak universal, artinya predikat “cantik” ini bersifat subjektif artinya tergantung dari siapa yang menilai dan siapa yang dinilai.
Kecantikan itu bentuknya beragam ditiap wilayah bisa berbeda-beda standard kecantikannya, bisa berubah-ubah (berevolusi) dan subjektif (tiap individu memiliki selera cantik yang berbeda-beda). Sebagai contoh, orang asing yang notabenenya memiliki kulit putih berlomba – lomba untuk mencari kulit yang coklat atau sawo matang dengan berjemur di pantai karena menurut mereka kulit sawo matang itu eksotik sedangkan orang Indonesia yang sudah memiliki kulit sawo matang justru berlomba – lomba untuk memutihkan kulit mereka. Padahal tubuh yang sudah Tuhan ciptakan ini memiliki tujuan dan fungsinya masing – masing termasuk warna kulit, kulit sawo matang yang kita miliki pasti sudah sesuai dengan suhu tropis di Indonesia. Namun selama ini standard kecantikan yang berkembang di masyarakat telah menjadi mitos dan telah mandarah daging.
Setiap masing - masing individu memiliki preferensi tersendiri dalam memandang individu yang menarik bagi dirinya. Adanya Standard kecantikan terkadang menjadi acuan seseorang untuk menilai penampilan orang lain sudah sesuai atau belumkah dengan standard kecantikan yang berkembang. Standard kecantikan di Indonesia umumnya adalah berkulit putih dan bersih, rambut lurus, hitam dan panjang, berbadan ramping ideal dan lain sebagainya. Padahal pada intinya setiap perempuan cantik dimata orang yang tepat.
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas dapat ditarik perumusan masalah sebagai berikut: Bagaimana pengaruh atau dampak dari adanya stigma standard kecantikan yang berkembang di masyarakat?
Pernahkah mendengar istilah toxic beauty standard?
Toxic beauty standard adalah standard kecantikan yang membuat orang rela melakukan hal – hal berbahaya agar terlihat menarik dan demi mewujudkan penampilan fisik yang memenuhi standar.
Pada dasarnya Toxic beauty standard tidak memandang gender laki – laki maupun perempuan memiliki potensi yang sama dalam terdampak Toxic beauty standard ini, tetapi memang mayoritas yang rentan secara langsung terdampak Toxic beauty standard adalah perempuan.
Banyak yang rela mengorbankan tenaga, waktu, materi (uang) yang tidak sedikit demi memenuhi standard kecantikan ini. Ada yang rela diet ketat demi mendapatkan tubuh ramping, ada juga yang sampai menghabiskan banyak uang untuk biaya perawatan wajah, bahkan ada yang sampai melakukan operasi plastik demi memenuhi standard tersebut. Ada banyak kasus juga orang – orang yang demi memenuhi standard kecantikan itu tanpa sengaja membahayakan dirinya sendiri seperti kasus yang pernah saya baca seorang perempuan hampir meregang nyawa dikarenakan terlalu banyak meminum pil diet dan menjalani treatment diet ketat hal ini tentu memberikan dampak yang negatif. Bahkan dengan adanya toxic beauty standard dapat menghilangkan jati diri kecantikan sebenarnya (inner beauty) yang ada dalam diri perempuan Indonesia.
Ada beberapa tips yang dapat diterapkan untuk menghadapi toxic beauty standard ini diantaranya :
Mengenali sinyal atau stimulus di diri kita, artinya adalah kita dapat mengenali sinyal atau stimulus Ketika kita mulai merasa terganggu dengan standard kecantikan ketika sinyal atau stimulus ini sudah memberikan sinyal terganggu maka kita bisa lebih membatasi diri dan tidak perlu terlalu banyak mendengarkan orang lain jika hal tersebut dirasa terlalu mempengaruhi kita dan menggangu fokus kita.
Fokus pada diri sendiri. Mulailah dengan fokus membenahi diri bukan dengan melihat kekurangan pada diri kita yang tidak memenuhi standar.
Jika standard kecantikan ini dirasa membuat stress dan menggangu kesehatan mental, mulailah untuk melakukan recovery Kesehatan mental. Dalam proses recovery isu kesehatan mental, penting untuk mengenali diri lebih dalam. Bukan hanya tentang tubuh, tapi kualitas yang ada di diri kita. Karena setiap manusia diciptakan dari dua sisi, jadi kita perlu gali lebih dalam.
Tumbuhkan rasa kepercayaan diri, yakinlah bahwa setiap orang memiliki keunikan dan keistimewaannya tersendiri maka cobalah untuk membangun selflove, mencintai diri sendiri karena sebenarnya tidak ada yang paling mencintai diri kita selain diri kita sendiri.
Kenyataan pahitnya adalah beauty standard tidak akan ada habisnya, ia akan terus berputar dan berubah-ubah tergantung pada masanya. Namun, beauty standard hanyalah sesuatu yang dibentuk dan diciptakan oleh masyarakat. Jika kita tidak sesuai dengan beauty standard yang ada bukan berarti kita tidak cantik karena definisi cantik itu berbeda-beda. Kita bisa cantik meskipun kita tidak berkulit putih, tidak ramping, atau tidak tinggi karena bagaimanapun juga hal terpenting yang membuat kita terlihat cantik adalah value yang ada pada diri kita. Dengan memperlihatkan bagaimana cara kita bersikap, percaya diri, dan dapat memberikan energi positif ke sekitar menjadikan kita cantik dari dalam sehingga lama kelamaan orang sekitar juga akan menyadari bahwa kita cantik meskipun tidak sesuai dengan beauty standard yang ada.
Always remember that you’re beautiful on your own way
Referensi :
Anastasia, Melliana. (2006). Menjelajah Tubuh: Perempuan dan Mitos Kecantikan. Yogyakarta: LKis.
Ashad Kusuma Djaya; Otto Sukatno. (2007). Natural beauty inner beauty: manajemen diri meraih kecantikan sejati. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Islamey, Ghela. (2020). Wacana StandardKecantikan Perempuan Indonesia pada Sampul Majalah Femina. Semarang: PIKMA.
Pahlawani, Putri. (2020). 6 Alasan Mengapa StandardKecantikan Itu Gak Perlu Ada di Dunia Ini. Jakarta: IDNTIMES.
Sulaiman, Reza. (2022). Tertekan Karena StandardKecantikan yang Tidak Realistis? Ini Tips Psikolog Agar Percaya Diri. Jakarta: Suara.com.
https://samsaranews.com/wp-content/uploads/2018/10/Twisted-Beauty-Standards-in-Indonesia.jpg
