Konten dari Pengguna

Melihat Peran Mahasiswa Dalam Mengenalkan Bahaya Judol Pada Remaja

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Erniwati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ini bukan pertama kalinya saya di dampuk menjadi pemateri terkait Bahaya Judi online (judol). Namun ada yang menarik dari kegiatan kemarin (Selasa, 12/08), karena panitianya bukanlah kepala desa/lurah, melainkan mahasiswa.

Sosialisasi Hukum Bahaya Judol bagi Remaja desa Golong. Dok. Mahasiswa KKN Unram dan UNW
zoom-in-whitePerbesar
Sosialisasi Hukum Bahaya Judol bagi Remaja desa Golong. Dok. Mahasiswa KKN Unram dan UNW

Iya, mahasiswa yang sedang menjalani KKN dalam rangka pengabdian kepada masyarakat. Bagi saya pribadi, mereka cukup pintar melihat peluang. Wajar saja, hampir selama beberapa minggu mereka sudah melakukan analisa lapangan.

Bahaya Judol Bagi Remaja

Bahaya Judi online sebenarnya tidak hanya bagi remaja, namun kondisi saat ini memang cukup memprihatinkan. Dimana akses ke platform judol justru lebih banyak diakses oleh para kaum remaja.

Wajar, karena memang kondisi psikologis mereka yang dalam tahap senang mencoba banyak hal, punya rasa keingintahuan yang tinggi.

Padahal realitanya, judol sangat berbahaya bagi remaja. Bagaimana tidak, bukankah mereka ini para generasi calon penerus bangsa. Nah berikut ini beberapa bahaya judol bagi remaja yang perlu diketahui antara lain :

1. Kerusakan Mental & Emosional

Remaja akan lebih cepat kecanduan karena otak remaja belum matang dalam mengontrol dorongan (impuls). Rasa keingintahuan mereka sulit dikendalikan.

Selain itu, mereka cenderung akan mengalami stress dan depresi saat kalah, tetapi sulit berhenti karena terdorong untuk “balik modal” atau harapan muluk akan kemenangan.

Rasa percaya dirinya juga masih bergantung pada menang-kalah, yang membuat harga diri mudah hancur. Karena faktanya, tidak ada judi yang membuat kaya secara instan. Disinilah kerusakan mental dan emosional dimulai.

2. Dampak Keuangan atau Finansial

Realitanya, para remaja biasanya belum punya penghasilan atau mata pencaharian layaknya orang dewasa, sehingga cenderung mengambil jalan pintas. Terutama ketika uang untuk bermain judi sudah habis.

Adapun jalan pintas yang biasanya terjadi adalah dengan mengambil uang orang tua tanpa izin (mencuri dalam rumah sendiri), Meminjam ke teman atau bahkan ke pinjaman online ilegal.

Hal ini akan membentuk satu pola pikir yang buruk, yaitu bagaimana mendapatkan "uang instan" dengan cara-cara yang tidak baik. Tentu saja ini juga yang akan membentuk kebiasaan finansial buruk seumur hidupnya.

3. Gangguan Pendidikan

Remaja yang kecanduan judol cenderung memiliki ciri fokus belajar yang terus menurun karena pikiran secara konsisten akan memikirkan taruhan.

Gangguan ini akan mengakibatkan mereka mengorbankan waktu belajar dan kegiatan positif lainnya demi bermain judi. Sudah pasti nilai akademik pun akan turun, bahkan sampai drop out jika sudah kecanduan berat.

Hal ini akan berujung mereka kehilangan cita-cita yang ingin diraih, dan harapan tentang masa depan yang cerah.

4. Masalah Sosial & Hukum

Para remaja yang kecanduan judol juga cenderung menjadi tertutup atau berbohong demi menutupi kebiasaan berjudinya.

Kebiasaan ini lambat laun tanpa sadar justru menyebabkan mereka bisa terjerat hukum jika terlibat dalam situs ilegal atau penipuan. Seperti penjelasan sebelumnya, mereka bahkan bisa menjadi pelaku pencurian atau tindakan kriminal lainnya, hanya untuk mendapatkan modal berjudi.

Selain itu, mereka pun akan bermasalah dengan lingkungan keluarga dan sekitarnya, karena kehilangan kepercayaan. Tentunya keluarga dan masyarakat akan resah dengan kehadiran remaja-remaja pecandu judol ini.

Pentingnya Sosialisasi Bahaya Judi Online Bagi Remaja dan Anak-anak

Sosialisasi terkait bahaya judi online memang tak bisa dilakukan sekali dua kali. Mengingat kerusakan yang ditimbulkan tidak hanya menyentuh aspek hukum, tapi juga ekonomi, sosial, dan kesehatan mental masyarakat.

Sosialisasi tentang bahaya judi online terlebih kepada remaja dan anak-anak sangat penting karena kelompok usia ini adalah yang paling rentan terpengaruh oleh rayuan “cepat kaya” yang ditawarkan judi.

Berikut beberapa alasan mengapa sosiasisasi bahaya judol jadi penting:

1. Antisipasi Remaja & Anak-anak Agar Tidak Mudah Terpengaruh

Faktanya, otak usia anak dan remaja masih dalam tahap berkembang, khususnya di bagian pengendalian emosi dan pengambilan keputusan.

Rasa ingin tahu mereka yang tinggi dan sifat mudah penasaran membuat mereka begitu mudah mencoba hal baru tanpa mempertimbangkan risikonya. Seakan-akan itu adalah sebuah tantangan.

Apalagi, saat ini iklan atau promosi judi online sering dikemas seperti game atau permainan. Sehingga mereka tidak sadar sedang terlibat dalam aktivitas perjudian yang akan menyebabkan kecanduan.

Oleh sebab itu, sosialisasi bahaya judol jadi penting dalam mengantisipasi agar para remaja dan anak-anak tidak mudah terpengaruh, apalagi mencoba dunia judi online.

2. Menghindari Kecanduan Sejak Dini

Kecanduan judi yang dimulai di usia muda lebih sulit dihilangkan. Karena pada tahapan ini adalah masih tahap pembentukan karakter. Maka akan sangat berbahaya bila mereka tidak teredukasi dengan baik.

Sosialisasi bisa membantu mereka untuk belajar mengenali tanda-tanda kecanduan, sehingga bisa menghentikan diri sebelum terlambat.

3. Melindungi Masa Depan Generasi Muda

Kita sudah pasti tahu bahwa kerugian finansial, nilai akademik menurun, dan gangguan mental bisa menghancurkan masa depan seseorang.

Tak bisa dipungkiri bahwa generasi muda yang terjerat judol ini bisa dikatakan akan berdampak buruk pada kelangsungan hidup bermasyarakat ke depannya.

Oleh sebab itu, sosialisasi dalam rangka edukasi sejak dini sangat diperlukan. Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menanamkan prinsip bahwa hasil dari kerja keras jauh lebih bernilai daripada uang instan dari hasil perjudian.

4. Menguatkan Peran Keluarga & Sekolah Serta Masyarakat

Peran Keluarga, sekolah dam masyarakat sekitar adalah sangat penting. Ralitanya, banyak orang tua dan guru sering tidak menyadari bahwa anak terlibat judi online. Lebih parahnya tak semua warga masyarakat mau ambil andil terkait hal ini.

Pada dasarnya sosialisasi harus dimulai dari lingkup terkecil seorang anak, yaitu keluarga. Kemudian ke lingkungan sekolah, barulah lingkungan terluas yaitu masyarakat.

Namun Sosialisasi dari pihak-pihak yang berwenang juga akan membantu keluarga dan sekolah serta masyarakat untuk mengenali gejala awal kecanduan judol pada anak. Seperti perubahan perilaku, prestasi menurun, atau sering meminjam uang, bahkan berani mencuri.

Keluarga harus bisa mengedukasi anak sejak dini, sekolah harus mampu mengingatkan akan bahaya judol dan masyarakat harus peduli untuk memberantas praktek judi online di tempat mereka sendiri.

Bahkan, masyarakat juga bisa mendirikan komunitas penyintas bagi para remaja yang kecanduan judol. Misalnya komunitas yang didirikan oleh remaja desa atau remaja masjid setempat. Ini akan sangat membantu terutama pemulihan bagi mereka yang sudah kecanduan judol.

5. Menekan Angka Kasus Judi Online

Semakin banyak sosialisasi dan edukasi yang dilakukan, maka makin banyak anak dan remaja paham bahayanya. Sehingga semakin kecil kemungkinan mereka menjadi korban.

Bahkan di jaman sekarang, sosialisasi massal dapat dilakukan dengan mudah lewat media sosial, seminar sekolah, kampanye kreatif, atau materi visual seperti poster dan infografis yang menarik.

Hal ini penting untuk terus menekan angka kasus kecanduan judi online dan praktek judi online. Karena semakin sedikit permintaan atau peminatnya, maka semakin sedikit pula situs-situs yang bertebaran.

Peran Mahasiswa Mencegah Maraknya Remaja Kecanduan Judi Online

Seperti pada awal tadi, bahwa peran serta masyarakat dalam mencegah maraknya kejadian remaja kecanduan judi online sangat dibutuhkan.

Tak terkecuali mahasiswa, yang notabene adalah para remaja generasi muda bangsa. Mereka melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dapat ikut berpartisipasi sebagai bentuk pengabdian masyarakat.

Salah satunya dengan menginisiasi kegiatan sosialisasi terkait bahaya judol bagi anak dan remaja di tempat mereka menjalani KKN. Saya pribadi salut dengan inisiatif ini, karena itu menandakan mereka punya kepedulian terhadap nasib generasi bangsa yang lain.

Bahkan yang saya lihat, sambutan masyarakat setempat dalam kegiatan sosialisasi kemarin sangat baik. Bahkan cenderung antusias. Sejumalh remaja desa aktif sekali mempertanyakan beberapa hal terkait hal tersebut.

Terakhir ada realita yang ingin saya bagikan kepada anda pembaca budiman. Bahwa faktanya, jika mengharapkan aparatur penegak hukum semata untuk memberantas judol, maka itu adalah harapan yang masih seperti mimpi.

Karena dengan geografis Indonesia yang berpulau-pulau, penduduknya yang sedemikian besar, tak bisa diimbangi hanya dengan tenaga kepolisian yang sedemikian kecil.

Belum lagi dengan penjara-penjara yang sudah over kapasitas, sudah pasti ini tidak akan pernah efektif. Oleh sebab itu, kesadaran kita semua untuk berpartisipasi aktif dalam pencegahan dan pemberantasan praktek-praktek perjudian online ini menjadi sangat penting.

Kita harus sadari, kita harus peduli dan kita harus berani beraksi. Salam generasi Pintar Indonesia.

*Terima kasih untuk adik-adik mahasiswa KKN Universitas Mataram dan Universitas Nahdatul Wathan atas inisiatifnya. Semoga apa yang kalian lakukan mampu menjadi inspirasi bagi yang lain.