Konten dari Pengguna

Belum Menikah di Usia yang Ditargetkan, Haruskah Kita Khawatir?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Jenia Estefani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi seorang perempuan tampak termenung sambil memandang ke luar jendela, menggambarkan suasana refleksi diri. (Pexels/nhavan)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi seorang perempuan tampak termenung sambil memandang ke luar jendela, menggambarkan suasana refleksi diri. (Pexels/nhavan)

Menikah di usia tertentu mungkin pernah menjadi bagian dari rencana hidup banyak orang. Ada yang menargetkan menikah sebelum 25 tahun, ada yang ingin menikah di usia 27, atau mungkin memiliki batas usia tertentu yang dianggap ideal. Target tersebut sebenarnya tidak salah. Memiliki gambaran tentang kehidupan yang ingin dijalani justru dapat membantu seseorang menentukan arah. Namun, persoalannya muncul ketika apa yang sudah direncanakan tidak berjalan sesuai kenyataan.

Usia yang ditargetkan mulai terlewati, sementara pasangan yang diharapkan belum juga datang. Dari situ, berbagai pertanyaan mulai muncul: “Kenapa saya belum bertemu jodoh?”, “Apakah saya masih bisa menikah di usia ini?”, atau “Bagaimana kalau saya seorang diri sampai tua?” Kekhawatiran tersebut terkadang berkembang menjadi sesuatu yang lebih dalam. Seseorang mulai membandingkan dirinya dengan teman-teman yang sudah menikah, merasa tertinggal, bahkan mempertanyakan value dirinya sendiri seolah-olah belum menikah berarti ada sesuatu yang kurang dalam dirinya.

Padahal, hidup tidak selalu berjalan berdasarkan timeline yang sudah kita buat sendiri. Ada hal-hal yang memang bisa direncanakan, tetapi ada pula hal yang berada di luar kendali manusia, termasuk soal jodoh. Karena itu, saya percaya pada satu hal: trust the timing.

Namun, percaya pada waktu Tuhan tentu tidak selalu mudah. Bagaimana tetap percaya ketika kita sendiri tidak tahu kapan waktunya tiba? Kita mungkin sudah berusaha, sudah membuka diri, bahkan sudah merasa siap, tetapi pasangan yang diharapkan belum juga datang. Jawabannya memang tidak selalu bisa kita dapatkan sekarang. Sebab, waktu Tuhan tidak selalu sama dengan waktu yang kita anggap ideal. Sesuatu yang menurut kita terlambat, bisa jadi justru datang pada waktu yang paling tepat. Hanya saja, manusia sering kali ingin mengetahui hasilnya terlebih dahulu sebelum belajar percaya pada prosesnya.

Daripada terus-menerus sibuk menghitung usia dan mempertanyakan kapan seseorang akan datang, mungkin ada hal lain yang jauh lebih penting untuk dilakukan: membangun diri. Menjadi pribadi yang lebih matang, mengenal diri sendiri, belajar mengelola emosi, memperluas wawasan, dan membangun kehidupan yang tetap berarti meskipun sedang tidak memiliki pasangan.

Ada satu kalimat yang menurut saya menarik untuk direnungkan: “Jodoh itu datang dari Tuhan, tetapi pilihan ada di tangan kita.” Tentu jodoh merupakan bagian dari ketentuan Tuhan, tetapi kita tetap memiliki kebebasan untuk memilih pasangan yang dirasa tepat berdasarkan pertimbangan dan nilai yang kita yakini.

Karena itu, membangun value diri bukan semata-mata agar “layak mendapatkan jodoh”, melainkan agar kita mampu mengenali pasangan yang sepadan ketika waktunya tiba. Sepadan bukan berarti harus sama dalam segala hal. Lebih dari itu, sepadan berarti memiliki nilai yang dapat berjalan beriringan, bisa saling memahami, berdiskusi, bertukar pikiran, dan menghadapi perbedaan tanpa harus kehilangan diri sendiri.

Pada akhirnya, pasangan bukan sekadar seseorang yang hadir untuk mengisi kesepian. Tetapi juga orang yang akan diajak menjalani banyak hal dalam kehidupan. Ada keputusan yang perlu dibicarakan, masalah yang perlu diselesaikan, dan pemikiran yang perlu dipertukarkan. Karena itu, hubungan yang sehat membutuhkan dua orang yang sama-sama mampu berdiri sebagai individu, bukan dua orang yang saling bergantung hanya karena takut menjalani hidup sendirian.

Kita sering kali lebih takut pada kemungkinan belum menikah di usia tertentu daripada kemungkinan kehilangan kemampuan untuk menjalani hidup dengan diri sendiri. Padahal, ada hal yang jauh lebih perlu dikhawatirkan: ketika seseorang tidak mampu hidup dengan dirinya sendiri, tidak tahu bagaimana mencintai dirinya sendiri, atau berhenti bertumbuh hanya karena sedang menunggu seseorang datang.

Menikah memang bisa menjadi bagian indah dalam kehidupan, tetapi menikah bukan satu-satunya tanda bahwa hidup seseorang berjalan dengan baik. Ada kehidupan yang tetap bisa bertumbuh, bermakna, dan penuh meskipun belum memiliki pasangan.

Jadi, jika usia yang pernah ditargetkan sudah terlewati, mungkin tidak perlu buru-buru menganggap diri sendiri tertinggal. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang sedang dipersiapkan oleh kehidupan untuk kita. Tugas kita bukan memaksa sesuatu datang sesuai jadwal yang kita tetapkan, melainkan memastikan bahwa ketika waktunya tiba, kita juga sudah menjadi pribadi yang siap menjalaninya.

Trust the timing. Bukan berarti berhenti berusaha dan hanya menunggu. Justru sambil menunggu, kita tetap hidup, bertumbuh, dan membangun diri. Sebab bisa jadi, yang sedang terlambat bukan jodohnya, melainkan kita yang sedang dipersiapkan untuk bertemu dengan seseorang pada waktu yang tepat.