Konten dari Pengguna

Bentuk Ruang Aman Bagi ODHA: Ruang Aman adalah Perasaan Bukan Gedung

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Euis Elawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gambar Siluet Dibalik Kaca (Sumber: Freepik.com)
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Siluet Dibalik Kaca (Sumber: Freepik.com)

Kota Bandung disebut-sebut sebagai kota dengan jumlah kasus HIV/AIDS tertinggi di tahun 2024. Padahal, dari segi fasilitas, Bandung termasuk wilayah yang memiliki layanan HIV/AIDS yang cukup memadai dan bahkan terbilang maju. Tapi pertanyaannya, kenapa kasus HIV/AIDS di Bandung terus meningkat?

ODHA, atau Orang dengan HIV/AIDS, sering kali berhenti berobat di tengah jalan, istilahnya lost to follow up. Mengapa bisa begitu? Bukankah fasilitas kesehatan di Bandung sudah lengkap? Jawabannya: iya, fasilitasnya ada, tapi bukan itu masalahnya. Masalah sebenarnya datang dari dalam diri seseorang, dari rasa takut, malu, dan tidak diterima.

Banyak ODHA yang mendapat pandangan aneh dari lingkungan sekitar. Mereka sering distigma, bahkan didiskriminasi oleh masyarakat. Mirisnya, perlakuan seperti itu tidak hanya datang dari orang awam. Dalam beberapa kasus, tenaga medis pun ikut menghakimi pasien ODHA memvonis, menasihati secara moral, dan memperlakukan mereka seolah-olah "pantas" sakit.

Lalu, apakah ini akan terus dibiarkan? Tentu tidak. Pemerintah setempat, terutama di Kota Bandung, sudah berupaya menghadirkan berbagai program untuk mengatasi persoalan ini. Layanan kesehatan terus dikembangkan, dan edukasi publik mulai digalakkan. Selain itu, berbagai bentuk intervensi sosial juga mulai dirancang untuk menjangkau ODHA yang selama ini menyembunyikan diri karena rasa takut dan malu.

Salah satu langkah penting datang dari kerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Kehadiran LSM menjadi jembatan antara ODHA dan lingkungan sosial yang sering kali belum ramah. LSM hadir bukan hanya memberi pendampingan medis, tapi juga menjadi ruang aman tempat ODHA bisa bercerita, merasa dimengerti, dan tidak dihakimi.

Melalui kegiatan komunitas, ODHA diajak untuk saling bercengkrama, mendukung satu sama lain, dan membangun rasa percaya diri yang selama ini hilang. Mereka tidak lagi merasa sendiri, karena tahu bahwa ada orang lain yang mengalami hal serupa dan tetap bisa menjalani hidup dengan penuh makna. Komunitas seperti ini bukan sekadar tempat kumpul, tapi bisa menjadi kekuatan besar untuk menjaga keberlanjutan pengobatan.

Karena pada akhirnya, yang dibutuhkan oleh ODHA bukan hanya obat, tapi juga penerimaan. Mereka ingin dipandang sebagai manusia yang utuh, bukan sekadar label penyakit. Ruang aman sejati tidak hanya dibentuk oleh bangunan atau program, tetapi oleh empati, pengertian, dan sikap tidak menghakimi dari orang-orang di sekitar mereka.

Aman di Atas Kertas, Belum Tentu Aman dalam Perasaan

Gambar Wanita diatas Kursi (Sumber: Freepik.com)

Dalam banyak kesempatan, ODHA lebih takut dinilai daripada takut pada penyakitnya. Ketakutan mereka tentu bukan karena HIV adalah penyakit yang mematikan, melainkan karena masyarakat yang mematikan martabat mereka lebih dahulu. Perasaan malu, harga diri yang jatuh, rasa dihakimi tersimpan dalam hati mereka. Stigma sosial tentang “ODHA pasti orang berdosa”, “pembawa sial”, pembawa penyakit”, “kotor”, atau “tidak pantas diselamatkan”.

Padahal tidak semua ODHA memiliki penyakit HIV sebab tertular lewat hubungan seksual beresiko. Banyak pula dari mereka yang merupakan ibu rumah tangga, tenaga kesehatan, atau pengguna transfusi darah. Tapi stigma tidak pernah memberi ruang untuk mendengar cerita mereka.

Dinding yang Tak Terlihat , Tapi Terasa

Lembaga Swadaya Masyarakat atau LSM menyediakan safe house untuk para ODHA. Safe House adalah ruang aman berbentuk fisik yang hadir sebagai pelindung.

Stigma adalah dinding yang tak kasat mata yang tampak seperti pagar namun membatasi langkah. Tidak seperti polisi, tapi membuat orang mengurung diri.

Bahkan dalam layanan kesehatan pun yang seharusnya berperan sebagai ruang aman secara tidak langsung tetap menjadi pagar bagi para ODHA. Ada tenaga medis yang yang menyampaikan nasihat moral saat memeriksa ODHA dan memakai perlindungan berlapis untuk kasus HIV yang sebenarnya tidak mudah menular. Perilaku-perilaku ini, sekecil apapun, mengirim pesan yang jelas “kamu berbeda, kamu salah.”

Ketika layanan kesehatan yang seharusnya bersifat netral pun ikut membentuk stigma. Safe house sebagai ruang aman yang semestinya hadir sebagai tempat berlindung, jika penghuninya enggan mengikuti aktivitas bersama karena takut dikenali tetangga, tetap saja belum efektif. Maka semua pelayanan, ruang aman, fasilitas yang dibanggakan akan menjadi formalitas kosong.

Darimana Ruang Aman Dimulai?

Ruang aman bukanlah sebuah gedung. Ruang aman adalah sekadar tempat tidur, ruang berkumpul, atau sebuah meja konsultasi. Ia adalah rasa, rasa untuk dihormati, rasa dicintai, rasa disayangi, dan rasa tidak sendiri.

Kita tidak bisa terus berpikir bahwa membangun satu rumah aman berarti masalah selesai. Selama masyarakat masih melihat ODHA dengan pandangan yang negatif dan penuh curiga, maka rumah itu hanyalah menjadi tempat persembunyian bukan tempat penyembuhan dan tempat tinggal yang nyaman.

Yang dibutuhkan saat ini adalah perubahan budaya. ODHA tentu saja tidak butuh rasa kasihan, merek hanya ingin diakui, dihormati, disayangi, dicintai layaknya manusia biasa, manusia utuh, sama seperti kita semua. Mereka butuh hidup tanpa harus menundukkan kepala atau menyembunyikan identitasnya, mereka ingin hidup di atas kakinya sendiri.

Kita Semua Bisa Menjadi Ruang Aman

Gambar Siluet Komunitas (Sumber: Freepik.com)

Ruang aman bukanlah gedung, istana, atau apartemen, kita semua bisa menjadi ruang aman. Kita tidak perlu menjadi tenaga medis, dokter, suster, atau aktivis untuk menciptakan ruang aman. Kadang ruang aman adalah satu orang yang tidak menghakimi, memvonis, mengomentari. Ruang aman bisa jadi adalah satu orang yang mendengar. Satu tetangga yang tidak bertanya, “kenapa kamu sering berobat?” “kenapa bisa tertular HIV” “kerjanya apa sampe bisa tertular?.”

Bandung yang fasilitasnya sudah cukup lengkap ini boleh terus membuat program sehebat apapun, tetapi jika stigma terus dan masih berkembang, ODHA akan terus bersembunyi. Dan selama mereka menyembunyikan diri, penyakit pun ikut bersembunyi.

Berhentilah menjadi manusia yang penuh dengan tanda tanya, berhentilah untuk memandang dengan sebelah mata. Berhentilah membangun ruang aman hanya sebagai proyek. Terbukalah untuk semua sisi dan pilihan hidup setiap orang, mulailah membangun ruang aman sebagai budaya.