Intip Keseruan Kuliner Nabati Unik di WVO International Vegan Festival

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Bunda Mulia
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Evan wilson tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Festival gaya hidup sehat dan ramah lingkungan yang berskala | internasional, yaitu "26th wvo Conference & International Vegan Festifal," akan kembali di selenggarakan di ibu kota. Mengangkat tema "One World, One Pluse-The Harmony of Vegan Living," acara ini siap di laksanakan mulai dari tanggal 29 september - 4 oktober 2026 yang berlokasi di Mall Taman Anggrek, Jakarta Barat. Selain untuk memanjakan lidah masyarakat dengan berbagai kuliner nabati yang begitu lezat dan sehat, festival ini juga menghadirkan berbagai pengalaman seru mulai dari pertunjukan kesenian serta sesi bincang -bincang tentang kesehatan yang inspiratif bersama para ahli di bidangnya.

Saat berada di lokasi festivalnya, saya melihat cukup banyak tenant yang menawarkan berbagai jenis makanan dan minuman berbahan dasar nabati. Untuk pilihannya cukup beragam, mulai dari makanan ringan, makanan berat, hingga berbagai jenis minuman. Beberapa tenant juga menawarkan makanan yang dibuat menyerupai hidangan pada umumnya, tetapi menggunakan bahan - bahan dari nabati sebagai penggantinya. Sejumlah tenant yang hadir di festival ini di antaranya adalah iVGAN, Lamak Bana, dan Kynd Baker. Dari berbagai tenant tersebut, pengunjung dapat menemukan beragam pilihan makanan, seperti teokbokki dan rabokki, slat bread, pizza, hingga es cincau dan cendol. Selain itu, terdapat pula nasi padang, siomay, kimbab, hingga pani puri ala indian yang menggunakan bahan dasar nabati sebagai bahan utamanya. Menariknya, selain tenant kuliner terdapat pula tenant kesehatan yang menawarkan fasilitas akupunktur gratis bagi para pengunjung. Terkadang makanan berbahan dasar nabati dianggap kurang menarik dari segi rasa dan variasi dibandingkan makanan pada umumnya. Akan tetapi, berbagai macan hidangan yang tersedia di festival ini memperlihatkan bahwa makanan dengan bahan dasar nabati dapat diolah menjadi berbagai macan jenis sajian dengan cita rasa dan penyajian yang beragam. Dengan kehadiran berbagai pilihan tenant dan berbagai jenis makanan tersebut memberikan gambaran bahwa makanan berbahan dasar nabati tidak hanya terbatas pada sayuran saja, tetapi juga dapat diolah menjadi makanan ringan hingga makanan berat yang biasa dikonsumsi sehari-hari.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah beragam aktivitas yang dapat diikuti oleh para pengunjung selama festival ini berlangsung. Selain berkeliling melihat berbagai pilihan makanan dan minuman yang ditawarkan oleh masing-masing tenant, pengunjung juga dapat mengikuti berbagai kegiatan, mulai dari seminar talkshow, demonstrasi memasak, hingga aksi donor darah. Salah satu sesi seminar membahas tentang cara mudah hidup sehat dari usia muda hingga lansia, yang dibawakan oleh dr. Satyawira Aryawan Deng, M.K.M., M.Kes.-Est., A.Md.Akup., C.Ht., AIFO-K., AIFMO.
Dalam sesi tersebut, pemaparan mengedukasi pentingnya menerapkan gaya hidup dan diet berbasis nabati (plant-based) murni - tanpa olahan hewani, telur, maupun susu - guna menjaga kesehatan harian sekaligus memulihkan berbagai penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, hingga risiko jantung dan kanker. Dipadukan dengan pemenuhan gizi seimbang (karbohidrat kompleks, sayur, buah, dan protein nabati), kecukupan tidur 7 - 8 jam, olahraga, interaksi sosial, serta penghindaran makanan olahan tinggi kalori dan natrium, pendekatan lifestyle medicine ini terbukti efektif mengatasi akar masalah kesehatan secara alami, mendukung regenerasi sel, menjaga berat badan ideal, dan meningkatkan daya tahan tubuh jangka panjang.
Keagungan rangkaian acara ini makin lengkap dengan pembukaan secara resmi oleh Nelly, S.Sos., B.A., M.Pd., Gr., selaku Ketua Panitia Penyelenggara 26th WVO Conference & International Vegan Festival, yang berlangsung pada 29 September hingga 4 Oktober 2026 di Mall Taman Anggrek. Momen bersejarah ini terasa makin istimewa karena bertepatan dengan peringatan Hari Vegan Nasional pada 1 Oktober. Inisiatif internasional ini bukan sekadar perayaan kuliner sehat, melainkan sebuah gerakan global untuk memperluas kesadaran akan gaya hidup berbasis nabati, kesehatan, serta kepedulian terhadap sesama makhluk hidup. Dihadiri oleh jajaran kementerian ekonomi kreatif, pejabat pemerintah, tokoh nasional, dan delegasi dari berbagai negara, ajang ini membuktikan potensi besar industri kuliner nabati dan ekonomi kreatif berkelanjutan di panggung nasional maupun dunia, sekaligus menjadi wadah edukasi, kolaborasi, dan silaturahmi.
Tak kalah menginspirasi, Prof. Dr. Seto Mulyadi, M.Si., Psikolog (Kak Seto), selaku ketua dewan pakar LPAI dan Ketua WVO Indonesia, turut membagikan kisahnya menjalani gaya hidup vegan sejak 1970 berawal dari masa sulitnya mengonsumsi tempe di Blok M hingga terbukti menjaga kebugaran dan stamina tubuhnya di usia 75 tahun. Beliau menegaskan bahwa diet berbasis nabati harus diimbangi dengan prinsip gaya hidup "GEMBIRA," yakni rajin Gerak (tidak mager), mengelola emosi secara cerdas, makan dan minum nabati, selalu bersyukur (positive thinking), istirahat cukup (7 - 8 jam tidur serta bebas iri dengki), rukun dengan keluarga dan sesama, serta tetap aktif berkarya bagi masyarakat. Melalui perpaduan gaya hidup vegan dan pola hidup seimbang ini, Kak Seto mengajak masyarakat untuk bersama-sama menciptakan bangsa yang sehat, harmonis, dan bersatu menuju Indonesia Emas 2045.
Melalui berbagai kegiatan ini, pengunjung tidak hanya dapat menikmati beragam hidangan, tetapi juga memperoleh wawasan mengenai makanan berbahan nabati dan gaya hidup vegan sekaligus meningkatkan kepedulian sosial. Kehadiran festival ini memberikan optimisme baru bagi perkembangan gaya hidup plant-based di Indonesia. Tidak hanya memanjakan lidah lewat inovasi kuliner, perhelatan ini menjadi momentum berharga yang mengajak masyarakat untuk mulai berinvestasi pada kesehatan jangka panjang demi kualitas hidup yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
