Konten dari Pengguna

Atas Nama Kebersamaan, Lucuti Uangku Demi Gema di Telingamu!

https://www.pexels.com/photo/crowd-standing-in-front-of-loudspeakers-at-concert-20903613/
zoom-in-whitePerbesar
https://www.pexels.com/photo/crowd-standing-in-front-of-loudspeakers-at-concert-20903613/

Bayangkan kamu memiliki uang Rp500 ribu. Di tengah kondisi ekonomi saat ini, apa yang pertama kali terpikir untuk dilakukan dengan uang itu? Memenuhi kebutuhan sehari-hari, memberi self-reward untuk diri sendiri, atau menabung? Bagi orang berpenghasilan terbatas, nominal tersebut bukan angka yang bisa dikeluarkan tanpa pertimbangan. Ironisnya, di sebagian desa, uang sebesar itu justru dipungut sebagai iuran untuk sebuah festival yang sebagian warganya sendiri tidak menginginkannya, yaitu sound horeg.

Sound horeg banyak ditemukan di Jawa Timur, terutama di Malang. Pada Agustus 2026 saja, tercatat lebih dari 65 festival digelar di wilayah ini blok-a.com. Pendanaannya acara ini merupakan dari iuran warga. Dalam sebuah penlitian di salah satu desa di Kabupaten Malang, mada rumah tangga yang ditarik iuran Rp1.500.000 karena panitia menghitung Rp500.000 untuk setiap orang dewasa (Nurdiyanto dkk., 2025). Angka ini terasa berat jika dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran per kapita penduduk setempat. Menurut Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur pada Bulan september 2025 saja, Kabupaten Malang sendiri memiliki masyarakat miskin paling banyak. Festival yang menuai banyak polemik, mulai dari keluhan kebisingan, kerusakan fasilitas, hingga dampak bagi kesehatan pendengaran.

Namun satu aspek yang menarik untuk lebih dalam dibahas adalah pertanyaan yang lebih menarik bukanlah apakah sound horeg boleh atau tidak, melainkan mengapa orang rela mengeluarkan uang dan mengorbankan kenyamanannya demi sesuatu yang bahkan merugikan dirinya sendiri?

Tekanan yang Tak Terlihat Bernama Konformitas

Dalam sebuah eksperimen klasik yang dilakukan oleh Solomon Asch menunjukkan bahwa seseorang bisa menyetujui jawaban yang jelas-jelas salah hanya karena mayoritas kelompok memilihnya atau yang biasa disebut dengan konformitas. Dorongan yang bekerja melalui pengaruh informasional, yaitu kita mengira bahwa kalau sudah mayoritas sudah pasti benar dan pengaruh normatif yang berkaitan dengan penyesuaian diri dan takut dikucilkan, melalui dua hal inilah konformitas itu terjadi (Deutsch & Gerald, 1955).

Hal ini dapat kita lihat melalui studi yang dilakukan oleh Nurdiyanto et al. (2025), pengaruh normatif tampak jelas terjadi pada salah satud esa. Setelah rapat untuk memutuskan festival yang akan digelar, sebagian warga yang keberatan memilih diam dan baru mengeluh sepulang rapat, "Saya tidak suka sound horeg, tapi mau bagaimana lagi?". Lebih parahnya tekanan ini ditunjukan lebih jelas melalui pemasangan spanduk berisi daftar warga yang belum melunasi iuran. Walaupun spanduk itu dicopot dalam dua hari setelah diprotes, tetapi dalam penelitian tersebut peneliti membacanya sebagai upaya memilah warga "patuh" dan "membangkang" dengan rasa malu sebagai alat penertib.

Dalam dunia psikologi, ini adalah sanksi sosial karena ketidaksesuaian yang dihukum dengan rasa malu, sehingga membayar menjadi cara agar tetap diterima. Di sinilah uang "dilucuti" tanpa paksaan fisik, cukup lewat ancaman sanksi sosial.

Mereka Saja Bisa, “Kita” Jangan Sampai Kalah

Tajfel dan Turner (1979) menjelaskan terkait konsep diri seseorang berasal dari keanggotaan mereka dalam kelompok sosial, beserta nilai dan makna emosional dari keanggotaan tersebut. Oleh sebab itu, orang rela menurunkan sebagian harga dirinya dari keanggotaan kelompok, dan cenderung membandingkan kelompoknya secara menguntungkan dengan kelompok lain. Hal ini dapat terjadi ketika identitas kelompok dipertaruhkan, maka pengorbanan pribadi terasa bermakna.

Dinamika ini muncul pada rapat persiapan. Salah satu peserta memancing semangat dengan seruan bahwa sound horeg kampung mereka tahun ini tidak boleh kalah dari tetangga yang sudah mengundang 15 vendor sound (Nurdiyanto dkk., 2025, hlm. 192). Perbandingan antarkampung ini mengubah urusan hiburan bersama menjadi sebuah urusan gengsi. Dengan framing seperti itu, keberatan soal biaya sulit disuarakan karena terdengar seperti tidak membela martabat kampung. Menolak membayar berarti bukan hanya sekadar menolak, tetapi dianggap merendahkan harga diri "kami". Para peneliti dalam jurnal tersebut juga mencatat bahwa warga yang menolak berpartisipasi bisa dicurigai sebagai antikekompakan atau pro-individualis, bahkan dilabeli sombong. Dalam teori, mereka diposisikan sebagai outgroup dari kelompoknya sendiri.

Disclaimer

Artikel ini tidak bermaksud menghakimi sound horeg. Kegembiraan kolektif adalah kebutuhan psikologis yang nyata, dan acara bersama seperti itu memang memperkuat ikatan sosial. Namun, masalahnya muncul ketika terdapat banyak hal yang perlu dievaluasi dari banyak sisi, terlebih jika banyak menimbulkan kerugian dan pemaksaan.

Referensi

blokadotcom. (2026, Agustus 8). Malang Raya bakal diramaikan sejumlah agenda karnaval dan sound horeg sepanjang Agustus 2026 [Foto]. Instagram. https://www.instagram.com/p/DbxFfpkEe50/?img_index=1

Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. (2025). Jumlah penduduk miskin menurut kabupaten/kota di Jawa Timur (ribu jiwa), 2025. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Timur. Diambil pada 4 Oktober 2026, dari https://jatim.bps.go.id/id/statistics-table/2/NDIxzl=/jumlah-penduduk-miskin-menurut-kabupaten-kota-di-jawa-timur.html

Nurdiyanto, F. A., Amrullah, A. Y., & Mahadewa, K. L. (2025). Yang Penting Horeg!: Sound Horeg dan Klaim atas Ruang Kuasa Pedesaan. Lembaran Antropologi, 4(2), 187–201. https://doi.org/10.22146/la.26186

Deutsch, Morton; Gerard, Harold B. (1955). A study of normative and informational social influences upon individual judgment.. The Journal of Abnormal and Social Psychology, 51(3), 629–636. 10.1037/h0046408