Diplomasi Baru Afrika: Reparasi Perbudakan sebagai Strategi Global

Saya merupakan mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Faatihah Syifa Azzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Reparasi perbudakan jadi strategi baru Afrika

Dorongan Ghana di Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mengesahkan resolusi reparasi perbudakan tidak bisa lagi dilihat hanya sebagai upaya menuntut keadilan masa lalu. Ada sesuatu yang lebih besar sedang terjadi: negara-negara Afrika mulai memainkan strategi baru dalam politik global.
Selama ini, Afrika sering diposisikan sebagai pihak yang “mengikuti arus” dalam sistem internasional yang didominasi negara-negara Barat. Namun lewat isu reparasi, narasinya mulai bergeser. Alih-alih pasif, negara-negara Afrika justru mendorong agenda yang mereka bentuk sendiri dengan sejarah sebagai titik pijaknya.
Resolusi yang menyebut perdagangan budak transatlantik sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan memang tidak mengikat secara hukum. Tapi dampaknya tidak bisa diremehkan. Resolusi ini memberi legitimasi moral sekaligus politik bagi negara-negara Afrika untuk berbicara lebih keras di forum internasional.
Di sinilah menariknya: reparasi tidak lagi sekadar soal kompensasi, tapi juga soal posisi. Isu ini menjadi cara bagi Afrika untuk memperluas ruang negosiasi dengan negara-negara Barat, terutama dalam isu ketimpangan global yang masih terasa hingga hari ini.
Respons dari Amerika Serikat dan beberapa negara Barat menunjukkan bahwa mereka melihat potensi politik di balik isu ini. Penolakan yang muncul bukan hanya soal hukum, tetapi juga kekhawatiran terhadap dampak yang lebih luas baik secara ekonomi maupun dalam keseimbangan kekuasaan global.
Namun bagi negara-negara Afrika, resistensi tersebut justru memperkuat urgensi isu ini. Semakin ditolak, semakin terlihat bahwa reparasi bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari dinamika kekuasaan yang nyata.
Menariknya lagi, isu ini juga membuka ruang solidaritas di antara negara-negara Afrika. Dengan membawa pengalaman sejarah yang relatif serupa, mereka punya peluang untuk membangun posisi tawar kolektif yang lebih kuat di tingkat global.
Kalau dilihat lebih jauh, ini menunjukkan perubahan gaya diplomasi Afrika. Dari yang sebelumnya cenderung bergantung pada bantuan dan kerja sama ekonomi, kini mulai beralih ke pendekatan yang lebih berani dan strategis.
Pada akhirnya, reparasi perbudakan bukan hanya soal masa lalu yang ingin diakui, tetapi juga tentang masa depan yang ingin dibentuk. Afrika tampaknya mulai bergerak dari sekadar objek dalam politik global menjadi aktor yang lebih aktif dan itu bisa mengubah banyak hal ke depan.
