Konten dari Pengguna

Gen Z Pilih Menunda Menikah, Apa Alasannya?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fachri Pandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber ilustrasi: Dokumentasi penulis, dibuat menggunakan AI.

Jakarta – Menikah di usia muda tidak lagi menjadi pilihan yang dianggap harus dilakukan oleh semua orang. Di kalangan generasi Z, keputusan untuk menikah cenderung dipertimbangkan lebih matang. Sebagian memilih menyelesaikan pendidikan, membangun karier, dan mempersiapkan kondisi finansial sebelum memutuskan untuk menikah.

Bagi sebagian Gen Z, pernikahan bukan hanya mengenai kesiapan memiliki pasangan. Kehidupan setelah menikah juga membutuhkan persiapan, mulai dari tempat tinggal, kebutuhan sehari-hari, hingga rencana keuangan untuk jangka panjang.

Faktor finansial menjadi salah satu pertimbangan yang sering muncul. Biaya hidup yang terus menjadi perhatian membuat sebagian anak muda merasa perlu memiliki pendapatan dan tabungan yang cukup sebelum membangun rumah tangga.

Selain masalah ekonomi, pendidikan dan karier juga menjadi pertimbangan. Sebagian Gen Z masih ingin menyelesaikan pendidikan atau mengembangkan karier terlebih dahulu. Mereka melihat usia 20-an sebagai kesempatan untuk membangun pengalaman dan mencapai tujuan pribadi sebelum memasuki kehidupan berkeluarga.

Perubahan cara pandang terhadap pernikahan juga ikut memengaruhi keputusan tersebut. Jika sebelumnya menikah pada usia tertentu sering dianggap sebagai sebuah target, sebagian anak muda kini lebih menekankan kesiapan dibandingkan usia.

Media sosial turut memperluas pandangan Gen Z mengenai kehidupan pernikahan. Mereka dapat melihat berbagai pengalaman pasangan lain, mulai dari kehidupan rumah tangga yang harmonis hingga persoalan yang muncul setelah menikah. Informasi tersebut membuat sebagian anak muda semakin menyadari bahwa pernikahan membutuhkan komitmen dan tanggung jawab yang besar.

Bagi sebagian lainnya, pengalaman keluarga dan lingkungan sekitar juga menjadi pertimbangan. Apa yang mereka lihat dari hubungan orang-orang terdekat dapat memengaruhi cara pandang terhadap kehidupan rumah tangga dan membuat mereka lebih berhati-hati dalam menentukan pasangan.

Meski demikian, tidak semua Gen Z memiliki pandangan yang sama. Ada yang tetap ingin menikah di usia muda karena merasa telah menemukan pasangan dan sudah siap membangun keluarga. Ada pula yang memilih menunggu sampai merasa lebih stabil secara emosional, finansial, dan karier.

Pilihan untuk menunda pernikahan juga tidak selalu berarti seseorang tidak menginginkan keluarga. Bagi sebagian Gen Z, keputusan tersebut lebih berkaitan dengan keinginan untuk memastikan bahwa ketika pernikahan dilakukan, mereka sudah memiliki kesiapan untuk menjalani tanggung jawab yang menyertainya.

Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan menikah semakin menjadi pilihan personal yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Pendidikan, pekerjaan, kondisi ekonomi, pengalaman keluarga, hingga pandangan mengenai hubungan dapat membentuk keputusan setiap individu.

Pada akhirnya, tidak ada satu usia yang berlaku sama bagi semua orang untuk menikah. Bagi sebagian Gen Z, pernikahan bukan tentang siapa yang lebih cepat, melainkan tentang kapan mereka merasa siap untuk menjalani kehidupan bersama dan menghadapi tanggung jawab setelahnya.