Konten dari Pengguna

Saat Teknologi Bertemu Kearifan Lokal: Wajah Baru Pajak yang Humanis dan Solutif

Muhammad Fadhlansyah Nasution

Muhammad Fadhlansyah Nasution

ASN Kementerian Keuangan

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fadhlansyah Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sinergi dan kolaborasi di tingkat akar rumput: Petugas pajak bersama aparat kewilayahan bersilaturahmi dan berdiskusi hangat dengan warga desa, mencerminkan pendekatan pelayanan yang humanis, solutif, dan penuh kekeluargaan. Ilustrasi: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sinergi dan kolaborasi di tingkat akar rumput: Petugas pajak bersama aparat kewilayahan bersilaturahmi dan berdiskusi hangat dengan warga desa, mencerminkan pendekatan pelayanan yang humanis, solutif, dan penuh kekeluargaan. Ilustrasi: Gemini AI

Dunia perpajakan modern hari ini tengah bergerak ke arah yang kian impresif. Di satu sisi, transformasi digital telah merambah hampir seluruh lini pelayanan publik. Algoritma canggih, sistem inti administrasi perpajakan yang terintegrasi, hingga analisis data berbasis geospasial menjadi pilar utama bagi otoritas dalam memetakan potensi penerimaan negara secara akurat. Namun, di sisi yang lain, perjalanan sebuah kebijakan tidak akan pernah lengkap tanpa menyentuh realitas sosial di akar rumput.

​Dinamika yang sempat menghiasi ruang publik seputar koordinasi informasi antara Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan aparat kewilayahan—sebagaimana termaktub dalam pemutakhiran pedoman internal SE-8/PJ/2026—mengajak kita untuk melihat bagaimana teknologi dan pendekatan kultural berpadu secara harmonis. Alih-alih dibaca sebagai instrumen kaku yang mengancam, kebijakan ini sejatinya adalah manifestasi dari wajah baru pengawasan pajak yang jauh lebih humanis, solutif, dan membumi.

Menyatukan Dua Kutub: Presisi Digital dan Kedekatan Emosional

​Bagi sebagian orang, membayangkan urusan pajak sering kali diasosiasikan dengan deretan angka di layar komputer, dokumen digital yang rumit, atau sistem otomatisasi yang berjarak. Padahal, Indonesia adalah negara yang kaya akan keragaman geografis dan karakteristik sosial masyarakatnya. Ada kalanya, data digital di pusat membutuhkan konfirmasi langsung di lapangan yang melibatkan pemahaman mendalam tentang medan dan kultur lokal.

​Di sinilah letak kecerdasan kebijakan tersebut. Teknologi informasi bertindak sebagai otak yang memberikan presisi—menunjukkan di mana potensi atau simpul ekonomi masyarakat berada—sementara koordinasi kewilayahan bertindak sebagai jembatan komunikasi yang memastikan kehadiran petugas dapat diterima dengan hangat dan aman.

​Mari kita luruskan persepsi yang keliru: kehadiran aparat kewilayahan seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas sama sekali bukan untuk melakukan pemeriksaan, penegakan hukum, apalagi memungut pajak dari warga. Mereka bukan ekstensi dari juru sita atau pemeriksa pajak. Peran mereka murni sebagai pendamping keamanan dan penunjuk arah bagi petugas pajak yang menjalankan tugas kunjungan lapangan di wilayah-wilayah tertentu yang memerlukan orientasi medan khusus. Kolaborasi ini memastikan bahwa tugas negara dijalankan dengan tetap menjunjung tinggi rasa hormat terhadap kearifan lokal.

Membangun Kepercayaan Melalui Dialog yang Hangat

​Pajak pada hakikatnya adalah darah penopang kehidupan bernegara. Dari setiap rupiah yang dikumpulkan secara gotong royong, denyut pembangunan di berbagai penjuru nusantara dapat terus berdetak—mulai dari fasilitas kesehatan, sarana pendidikan, hingga infrastruktur desa. Namun, esensi dari gotong royong itu sendiri tidak akan pernah tumbuh dari rasa takut atau keterpaksaan.

​Ketika petugas pajak mendatangi wajib pajak di lapangan dengan didampingi perangkat desa atau aparat setempat, pesan yang ingin disampaikan bukanlah intimidasi, melainkan ajakan berdialog. Suasana yang cair membuat proses edukasi perpajakan terasa seperti obrolan akrab di teras rumah. Warga dapat bertanya secara terbuka mengenai hak dan kewajiban mereka, sementara petugas dapat mendengarkan secara langsung kendala atau aspirasi yang dihadapi para pelaku usaha di tingkat lokal. Pendekatan humanis semacam inilah yang perlahan meruntuhkan jarak psikologis antara negara dan pembayar pajak.

Menyongsong Masa Depan dengan Optimisme Gotong Royong

​Transformasi perpajakan nasional hari ini membuktikan bahwa modernisasi tidak harus mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan. Justru, ketika kecanggihan teknologi berkolaborasi dengan kearifan lokal dan semangat gotong royong, yang tercipta adalah ekosistem yang sehat, transparan, dan berkeadilan.

​Mari kita pandang kebijakan ini dengan kacamata positif. Sinergi lintas instansi di tingkat tapak bukan diciptakan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk merangkul. Dengan komunikasi yang jernih, niat baik yang transparan, serta pelayanan yang semakin inklusif, kita optimis bahwa kesadaran pajak di negeri ini akan tumbuh bukan karena tekanan, melainkan lahir dari kesadaran kolektif demi kemajuan bersama.