Uwi, Umbi yang Terlupakan, Kini Disiapkan Jadi Beras Analog Penantang Beras Padi

Mahasiswa Institut Pertanian Bogor yang berminat pada inovasi pangan lokal, isu-isu pangan, dan regulasi pangan.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fadhyl Muhammad Irhab Ra'uf tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah tantangan perubahan iklim, berkurangnya lahan sawah, dan tingginya ketergantungan pada beras padi, berbagai upaya diversifikasi pangan mulai kembali mendapat perhatian. Salah satu yang mencuat adalah pemanfaatan uwi (Dioscorea alata) umbi tradisional yang dulu akrab dalam budaya pangan Indonesia, namun selama puluhan tahun tersingkir dari konsumsi masyarakat modern.
Uwi digarap sebagai beras analog, sebuah alternatif yang menawarkan bentuk dan cara masak yang mirip beras, tetapi berasal dari bahan baku non-padi. Teknologi ekstrusi membuat tepung uwi dapat dipadatkan menjadi butiran serupa nasi, lengkap dengan tekstur pulen dan warna krem muda yang familiar bagi konsumen.
Mengapa Uwi?
Uwi tumbuh liar di banyak daerah Indonesia dan dikenal tangguh di berbagai kondisi. Umbi ini tidak membutuhkan banyak air, tidak sensitif terhadap jenis tanah, dan relatif mudah dibudidayakan. Sifatnya menjadikan uwi berpotensi menjadi sumber karbohidrat alternatif di tengah fluktuasi produksi padi akibat iklim yang semakin tidak menentu.
Secara gizi, uwi mengandung karbohidrat tinggi, serat pangan, serta lemak yang sangat rendah. Ketika diproses menjadi beras analog, karakteristik tersebut tetap terbawa sehingga cocok bagi konsumen yang membutuhkan makanan rendah indeks glikemik.
Teknologi yang Bikin Uwi Jadi “Mirip Nasi”
Uwi awalnya diolah menjadi tepung, lalu diproses dengan ekstrusi panas, teknik yang umum digunakan dalam industri pangan. Hasilnya adalah butiran yang teksturnya lembut dan menyatu saat dimasak, mendekati nasi biasa.
Dalam uji sensori, panelis memberi skor cukup tinggi untuk tekstur dan rasa. Untuk meningkatkan nilai gizi, tepung uwi juga dapat difortifikasi dengan jagung atau kacang-kacangan.
Potensi Industri dan Petani Lokal
Dari sisi industri, teknologi ekstrusi yang digunakan sudah mampu mencapai kapasitas 250 kg/jam. Ini berarti beras uwi bukan sekadar eksperimen kampus namun ada potensi untuk diproduksi massal.
Bagi petani, uwi bisa menjadi komoditas tambahan dengan perawatan murah dan nilai ekonomi meningkat. Jika permintaan naik, uwi dapat mengisi ruang pangan alternatif yang selama ini kosong.
Pendekatan STE(A)M untuk Pangan Masa Depan
Pengembangan beras uwi ini juga menggabungkan pendekatan STE(A)M:
Science (Ilmu Pengetahuan): Kajian biokimia dan gizi dari umbi uwi, termasuk karakterisasi pati, indeks glikemik, dan serat pangan, menjadi dasar ilmiah pengembangan produk.
Technology (Teknologi): Pemanfaatan teknologi ekstrusi panas untuk membentuk butiran beras dari tepung uwi merupakan contoh transformasi proses industri pangan modern.Pendekatan lintas disiplin inilah yang membuat inovasi pangan lokal bisa bersaing di era industri modern.
Engineering (Rekayasa): Desain sistem ekstrusi dan optimasi parameter proses (tekanan, suhu, kadar air) dikembangkan untuk menghasilkan tekstur dan bentuk beras yang ideal.Menuju Ketahanan Pangan yang Lebih Beragam
Arts (Seni): Nilai estetika dan budaya pangan Indonesia dijaga melalui tampilan dan pengalaman sensori yang menyerupai nasi asli, sekaligus memperkenalkan kembali identitas pangan lokal.Inovasi berbasis uwi ini sejalan dengan program diversifikasi pangan pemerintah. Di tengah tantangan perubahan iklim global, uwi menunjukkan bahwa peran pangan lokal semakin relevan.
Mathematics (Matematika): Analisis statistik digunakan dalam uji sensori, formulasi komposisi bahan, serta pemodelan respon proses ekstrusi untuk menghasilkan produk yang konsisten.
Dan mungkin, di masa depan, kita tak lagi hanya menggantungkan hidup pada satu sumber karbohidrat saja. Pangan Indonesia terlalu kaya untuk dibiarkan bergantung pada satu komoditas.
