Timnas U-22 Juara SEA Games 2023, Indra Sjafri, dan Polemik Local Pride

Mahasiswa Magister Departemen Politik Pemerintahan Universitas GadjahMada
Konten dari Pengguna
26 Mei 2023 12:47
·
waktu baca 4 menit
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Fadil Ainur Rif'an tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Timnas U-22 Indonesia di podium SEA Games 2023 usai mengalahkan Thailand di partai final yang digelar di National Stadium, Phnom Penh, Kamboja, pada Selasa (16/5). Foto: Dok. PSSI
zoom-in-whitePerbesar
Timnas U-22 Indonesia di podium SEA Games 2023 usai mengalahkan Thailand di partai final yang digelar di National Stadium, Phnom Penh, Kamboja, pada Selasa (16/5). Foto: Dok. PSSI
Timnas sepak bola Indonesia U-22 berhasil meraih medali emas SEA Games 2023 di Kamboja setelah mengalahkan Thailand di final dengan skor 5-2. Torehan ini sangat penting karena Indonesia harus menunggu selama 32 tahun.
Medali emas yang didapatkan oleh Timnas U-22 di SEA Games 2023 di bawah pelatih Indra Sjafri beserta staf berisi beberapa mantan pemain tim nasional eks primavera dan galatama. Keberhasilan ini melampaui pencapaian Shin Tae-yong saat melatih di SEA Games 2021 yang hanya meraih perunggu.
Pencapaian ini ditakutkan oleh masyarakat akan menimbulkan jemawa bagi para kelompok local pride yang notabene mempunyai sentimen negatif kepada pelatih tim nasional senior Indonesia Shin Tae-yong beserta staf. Dampak dari ketakutan ini tentunya pencopotan Shin Tae-yong dari kursi kepelatihan timnas Indonesia.
Dalam tulisan ini, menurut saya kelompok local pride jangan jemawa tapi harus memberi bukti bahwa dapat bersaing prestasi dengan pelatih asing.

Kemunculan Kelompok Local Pride

Pemain Timnas Indonesia U-16 merayakan kemenangan seusai mengalahkan Timnas Vietnam U-16 saat laga final AFF U-16 2022 di Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (12/8/2022).  Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pemain Timnas Indonesia U-16 merayakan kemenangan seusai mengalahkan Timnas Vietnam U-16 saat laga final AFF U-16 2022 di Stadion Maguwoharjo, Depok, Sleman, D.I Yogyakarta, Jumat (12/8/2022). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTO
Istilah local pride awalnya muncul karena reaksi kegembiraan staf pelatih ketika Indonesia U-16 berhasil menjuarai AFF U-16 2022 di Yogyakarta yang dihuni oleh skuat full lokal mulai dari pemain hingga staf pelatih. Reaksi ini ternyata bertujuan untuk menyinggung Shin Tae-yong sebagai pelatih tim nasional senior Indonesia karena mengambil opsi naturalisasi pemain untuk memperkuat skuad tim nasional.
Kelompok local pride ini juga seringkali memberikan kritik terhadap sistem kerja Shin Tae-yong melatih Timnas Indonesia mulai dari pola latihan, opsi naturalisasi, hingga pembuktian prestasi secara instan. Saat ini kelompok local pride berisi beberapa pelatih sepakbola, pengamat sepak bola, serta beberapa jurnalis sepakbola di Indonesia. Bahkan membentuk grup WhatsApp anti Shin Tae-yong.
Menurut saya, kemunculan kelompok local pride ini harusnya bisa dijadikan momentum untuk saling belajar ilmu kepelatihan. Reputasi Shin Tae-yong sudah terbukti di kancah internasional, harusnya para pelatih lokal mau "jemput bola" mendatangi Shin Tae-yong sekaligus bersinergi membangun sepakbola Indonesia.
Indra Sjafri pada awalnya yang sempat bersitegang dengan Shin Tae-yong, perlahan kini melunak dan berkolaborasi. Ego yang merasa bahwa diri sendiri sudah pintar, tidak mau belajar dari pelatih asing harus dihilangkan. Rasa nasionalisme yang dapat mengarah kepada chauvinisme juga harus dikesampingkan, karena era modern saat ini diperlukan kolaborasi untuk meraih prestasi.
Saya percaya bahwa kelompok local pride ini tujuannya agar sepakbola Indonesia berprestasi, namun sentimen negatif mereka terhadap pelatih asing justru dapat merugikan. Sentimen negatif local pride dapat menimbulkan perpecahan dukungan kepada timnas Indonesia, bahkan publik akan menurunkan kepercayaannya kepada kelompok local pride.

Kelompok Local Pride Jangan Jemawa, tapi Beri Bukti

Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri memberikan arahan saat memimpin sesi latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (13/4/2023).  Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Pelatih Timnas U-22 Indra Sjafri memberikan arahan saat memimpin sesi latihan di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Kamis (13/4/2023). Foto: Hafidz Mubarak A/ANTARA FOTO
Keberhasilan Indra Sjafri sejauh ini yang paling sukses dibandingkan pelatih lokal lainnya dalam meraih prestasi untuk tim nasional sepak bola Indonesia.
Dukungan kelompok local pride sepenuhnya memihak Indra Sjafrie dibandingkan Shin Tae-yong. Mengeluarkan statement dengan embel-embel lokal juga bisa tanpa ada campuran keturunan menurut saya tidak pantas dikeluarkan dari bangsa yang memegang teguh adab ketimuran.
Momentum ini jangan membuat jemawa kelompok local pride hanya karena keberhasilan Indra Sjafri tapi harus dapat melewati pencapaiannya.
Kelompok local pride harus memberikan bukti karena pada musim depan di Liga 1 terdapat 17 klub yang menggunakan pelatih asing, sementara hanya 1 klub yang masih menggunakan pelatih lokal. Data ini sangat merugikan para pelatih dari kelompok local pride, sebab sudah tidak ada tempat untuk berkarier di kasta tertinggi sepakbola Indonesia.
Menurut saya, kelompok local pride jangan jemawa karena meraih medali emas SEA Games 2023. Jadikan momentum ini sebagai langkah konkret kalian untuk berkarier lebih baik lagi misalnya melatih di luar negeri, belajar lebih mendalam sebagai pelatih sepak bola, membuat SSB standar internasional, atau bahkan mendirikan klub sepak bola dengan standar FIFA.
Meraih medali emas sepak bola SEA Games 2023 menurut saya harusnya memotivasi kelompok local pride untuk menghilangkan sentimen negatif terhadap pelatih asing.
Gunakan istilah Indonesia pride untuk menyatukan semua anak bangsa yang mempunyai kualitas dan berhak membela Timnas Indonesia di kancah internasional. Tidak memandang keturunan atau pribumi, serta tidak membawa ego chauvinisme demi prestasi sepak bola Indonesia.