Dituding Curi Sabun, Siswa Sekolah Rakyat di Pati Dikeroyok Belasan Temannya

kumparanNEWSverified-green

·waktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pemukulan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pemukulan. Foto: Dicky Adam Sidiq/kumparan

Seorang siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berinisial D, diduga dikeroyok belasan temannya setelah dituduh mencuri sabun.

Akibat kejadian itu, D mengalami sejumlah luka, termasuk satu gigi copot dan satu gigi patah. Ia kini menjalani perawatan di Rumah Sakit Keluarga Sehat (KSH).

D mengungkapkan, penganiayaan terjadi pada Selasa (29/9). Saat itu, ia hendak mengambil seragam Pakaian Dinas Lapangan (PDL) di kamar setelah makan. Dalam perjalanan, ia tiba-tiba dituduh mencuri sabun oleh temannya.

"Awalnya habis makan, habis itu, kan, ke kamar, ngambil (seragam) PDL. Tiba-tiba itu ditanya 'Kuwe njipuk sabunku? (Kamu ngambil sabunku?).' Terus aku bilang 'enggak.' Tiba-tiba dari belakang ada yang mukul, nggak tahu siapa yang mukul," ungkap D saat ditemui di RS KSH, Jumat (9/10).

D mengaku tidak mengetahui siapa saja yang memukulnya. Saat tengkuknya dipukul, pandangannya mendadak gelap. Namun, ia memperkirakan ada lebih dari 10 orang yang terlibat. Ia juga merasakan pukulan di bagian kepala.

"Diserang kepala semua. Nggak tahu, banyak (pelakunya). Kira-kira 10 orang lebih," bebernya.

D mengaku kembali dipukuli setelah waktu Isya. Menurutnya, para siswa yang terlibat merupakan teman satu angkatan di kelas X.

"Yang di kamarku sendiri itu cuma antara 15-20 menit, kalau yang di tempat lain itu lama," kata D.

Akibat penganiayaan tersebut, satu gigi D copot dan satu lainnya patah. Ia juga mengalami lebam di kedua bahu, memar dan benjol di kepala, serta pusing.

"Kalau pingsan enggak. Gigi sampai berdarah, sama kepala, sama ini (nunjuk bahu). Gigi copot satu, yang patah satu," ungkapnya.

D mengaku tidak pernah memiliki masalah dengan para siswa yang diduga menganiayanya. Ia juga tidak mengetahui apakah terdapat kelompok atau geng di sekolah tersebut.

"Nggak ada. Nggak pernah ngomongan (ngobrol). (Soal gang) nggak tahu. Nggak pernah ngumpul gitu-gitu," ujar D.

Korban penganiayaan di Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Pati dirawat di Rumah Sakit KSH, Jumat (9/10/2026). Foto: Dok. kumparan

Korban Sempat Dirawat di Sekolah

Setelah kejadian, D langsung melaporkan penganiayaan tersebut kepada guru. Menurutnya, guru berjanji akan menangani laporan tersebut. D kemudian dirawat di ruang pengawas sekolah sebelum dibawa ke RSUD RAA Soewondo Pati pada Kamis (30/9).

"Sudah ngadu ke guru, jawabnya 'besok akan ditangani.' Terus dirawat di ruangan pengawas dulu, baru besoknya (ke rumah sakit)," kata D.

D juga mengaku salah satu guru memintanya mengatakan bahwa ia jatuh dari tangga jika ditanya mengenai penyebab lukanya. Menurut D, alasan itu disebut dapat digunakan untuk mengajukan pembiayaan melalui BPJS Kesehatan.

"Itu besoknya mau dibawa ke RS. (Kata guru) kalau ditanya, bilang aja jatuh dari tangga," beber D.

Setelah pulang dari RSUD RAA Soewondo dan menjalani rawat jalan di rumah, D masih merasakan nyeri di sejumlah bagian tubuh serta sesak napas. Orang tuanya kemudian membawanya ke RS KSH pada Rabu (7/10).

"Dirawat di sini (KSH) baru Rabu. Sekarang masih pada nyeri, kepala pusing," ujar D.

Sekolah Dalami Keterlibatan Siswa

Wakil Kepala Kesiswaan Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 di Kabupaten Pati, Fachrudin Dwi Saputro, mengatakan pihak sekolah telah mengetahui kejadian tersebut setelah menerima laporan dari siswa.

Menurut Fachrudin, wali yang bertugas kemudian mendatangi lokasi dan mendapati kejadian itu telah dilerai oleh siswa lain.

"Kami sedang mendalami bersama tim guru bersama wali asuh dan wali asrama. Apa pun alasan latar belakangnya, kami tidak membenarkan adanya tindak kekerasan tersebut," katanya.

Fachrudin mengatakan, pihak sekolah masih mendalami jumlah siswa yang terlibat beserta peran masing-masing. Berdasarkan informasi awal, ada siswa yang berupaya melerai, sementara siswa lainnya hanya berada di lokasi.

“Jadi kami belum memastikan jumlahnya secara pasti,” bebernya.