KAI Recall 7 Trainset INKA, Komponen Rangka Bawah Ditemukan Fraktur

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengatakan KAI melakukan recall atau penarikan kembali terhadap 7 rangkaian kereta produksi PT Industri Kereta Api (INKA) setelah ditemukan fraktur pada salah satu komponen rangka bawah kereta yang berkaitan dengan keselamatan.
“Yang kemarin ini kategorinya itu adalah yang berkaitan dengan no-go item. No-go item, itu ada komponen di rangka bawahnya. Di rangka bawahnya memang ditemukan fraktur. Memang kita temukan fraktur,” kata Bobby dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9).
Bobby menjelaskan komponen yang mengalami fraktur tersebut merupakan komponen produksi lokal. Setelah ditelusuri, KAI menemukan komponen dengan lokasi produksi dan batch yang sama terdapat pada 7 rangkaian.
“Jadi sehingga kami melihat mana lagi komponen ini yang diproduksi di same batch. Nah itu ketemu di 7 rangkaian. 7 rangkaian ini mempunyai komponen yang diproduksi di tempat yang sama dan batch yang sama,” ujarnya.
KAI kemudian melakukan recall terhadap 7 trainset tersebut untuk memastikan komponen bermasalah diganti. Pemeriksaan juga dilakukan melalui non-destructive test (NDT) terhadap seluruh komponen terkait.
“Sehingga kami recall, kami pastikan dulu agar komponen-komponen ini diganti dan kami melakukan NDT, non-destructive test. Jadi NDT, jadi kami melakukan 100 persen NDT,” kata Bobby.
Bobby mengatakan proses pemeriksaan membutuhkan waktu karena KAI harus membongkar bagian kereta hingga lapisan coating. Setelah itu, komponen diuji dengan beban maksimum untuk memastikan tidak mengalami kerusakan kembali sebelum dipasang dan dilapisi ulang.
Saat ini, 2 trainset telah dinyatakan tidak memiliki no-go item. Satu trainset telah kembali beroperasi, sementara satu lainnya dijadwalkan kembali beroperasi pada Rabu (23/9). Lima trainset lainnya akan diperiksa secara bertahap hingga 9 Oktober 2026.
“Jadi pada saat ini, 2 trainset sudah kita pastikan dia tidak punya no-go item lagi. 1 sudah kita release 4 hari yang lalu, 1 akan kita release hari ini,” ujar Bobby.
“Kemudian nanti sisanya 5 trainset itu akan bertahap sampai dengan tanggal 9 Oktober. Jadi kita pastikan 7 trainset ini tidak mempunyai no-go item lagi,” sambungnya.
9 Trainset INKA Belum Diterima KAI
Dalam rapat tersebut, Bobby juga mengungkap persoalan produksi KRL INKA yang mengalami keterlambatan.
Dari rencana pengadaan 16 trainset KRL yang diproduksi INKA, baru 7 trainset yang telah beroperasi. Sementara 9 trainset lainnya belum diterima KAI dan mengalami keterlambatan lebih dari satu tahun.
“Yang 16 unit dari INKA yaitu yang baru beroperasi itu 7 unit. 9 unitnya ini belum kita terima, jadi ada keterlambatan lebih dari 1 tahun,” kata Bobby.
Bobby menyebut keterlambatan tersebut disebabkan kapasitas produksi INKA yang tidak sesuai dengan proyeksi awal. INKA sebelumnya memproyeksikan mampu memproduksi 8 unit per tahun, tetapi realisasinya hanya sekitar 2–3 unit per tahun.
“Masalah kapasitas produksi, Pak. Jadi PT INKA untuk 16 unit ini memproyeksikan kapasitas produksinya mereka itu 8 unit per tahunnya. Kenyataannya cuma 2. Hanya 2 sampai 3 unit yang bisa mereka produksi 1 tahunnya,” ujarnya.
Bobby menjelaskan, berdasarkan rencana kerja, 16 trainset tersebut seharusnya diproduksi dalam dua tahun, yakni 8 unit pada 2025 dan 8 unit pada 2026. Namun, pada 2025 KAI baru menerima sekitar 4 unit dan mulai mengoperasikannya pada Desember.
Andre Bantah Tolak Impor KRL
Wakil Ketua Komisi VI DPR Andre Rosiade kemudian menyinggung persoalan pengadaan KRL tersebut. Ia mengatakan pada awalnya memang sempat menolak rencana impor KRL pada 2023.
Namun, setelah melakukan pengecekan langsung ke lapangan dan melihat kebutuhan KRL, Andre mengatakan dirinya kemudian mendukung opsi impor.
“Dulu tahun 2023, kita sudah pernah membahas penambahan rencana impor KRL. Pertama awalnya kita sempat menolak. Lalu kita rapat lagi, saya langsung mencoba ke lapangan memang dibutuhkan,” kata Andre.
Andre mengatakan pada April 2023 dirinya meminta KAI berkomunikasi dengan BPKP agar ada solusi untuk mempercepat proses impor KRL.
“Di rapat itu saya ingat di April 2023 saya minta waktu itu KAI bicara dengan BPKP untuk diberikan solusi bagaimana bisa mengimpor KRL dalam waktu cepat,” ujarnya.
Andre juga menanggapi adanya anggapan bahwa dirinya merupakan pihak yang menolak impor KRL pada 2023.
“Karena saya kan lihat di banyak yang mention saya, ada bilang, ‘Wah Andre menolak impor KRL dulu 2023.’ Lho, awal iya saya nolak. Tapi di rapat selanjutnya setelah saya lakukan pengecekan ke lapangan, saya mendukung,” kata Andre.
Menurut Andre, setelah kebutuhan mendesak tersebut terpenuhi melalui impor, produksi KRL kemudian dapat dilakukan oleh INKA.
Dalam rapat itu, Bobby menjelaskan rencana pengadaan pada 2023 mencakup 35 sarana baru, terdiri dari 11 unit impor dari CRRC China, 16 unit produksi INKA, serta 8 unit yang belum dipesan.
“Di tahun 2023 itu kita proyeksikan itu ada 11 + 16 + 8, itu ada 35 sarana baru. Sarana baru which is itu 11 kita impor dari CRRC Cina, kemudian ada 16 yang kita fabrikasi, kita produksi di PT INKA, ada 8 yang belum kita order,” kata Bobby.
Namun, Bobby menegaskan pengadaan tersebut pada dasarnya dibutuhkan untuk menggantikan armada yang sudah tua. Rata-rata usia kereta KAI saat ini telah lebih dari 41 tahun.
Di sisi lain, jumlah penumpang KRL Jabodetabek terus meningkat. Bobby menyebut jumlah penumpang harian yang sebelumnya di bawah 1 juta kini mencapai sekitar 1,1 juta penumpang per hari.
