RUU Perampasan Aset, Advokat Soroti Peran ‘The Man Behind The Gun'

Ketua Umum Dewan Pergerakan Advokat Republik Indonesia, Luthfi Yazid, menyoroti pentingnya faktor the man behind the gun dalam pembahasan RUU Perampasan Aset.
Luthfi mengatakan peran manusia dalam menjalankan hukum menjadi hal yang sangat penting.
“Jadi saya teringat dengan apa yang disampaikan oleh Bernardus Maria Taverne, seorang jurist dan dia seorang filsuf Belanda yang hidup pada abad 17 dan awal abad 18. Dia mengatakan kira-kira begini, berikan kepada saya jaksa yang baik, berikan kepada saya pengacara yang baik, hakim yang baik, maka dengan hukum atau undang-undang yang buruk sekalipun aku akan turut menciptakan keadilan,” ungkap Luthfi saat rapat dengar pendapat dengan Komisi III DPR soal RUU Perampasan Aset di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (23/9).
Menurut Luthfi, pandangan tersebut menunjukkan kualitas orang yang menjalankan hukum tidak dapat dipisahkan dari upaya menciptakan keadilan.
Cerita Luthfi soal Budaya Kepatuhan di Jepang
Luthfi kemudian menceritakan percakapannya dengan seorang advokat asal Jepang yang ditemuinya. Dia mengaku sempat menanyakan alasan tingkat korupsi di Jepang relatif rendah kepada advokat tersebut.
“Kemarin saya berjumpa dengan seorang advokat dari Jepang kebetulan saya juga menjadi salah satu pendiri dari Japan-Indonesia Lawyers Association saya bertemu dengan Mitamayama Sosaboro Kawata, saya tanya kenapa di Jepang ini tingkat korupsinya sangat rendah bahkan di Jepang itu kalau orang malu dia akan lakukan senpoku dia bunuh diri dengan sobek sobek perutnya,” tuturnya.
Luthfi mendapat penjelasan mengenai budaya kepatuhan terhadap aturan di Jepang. Dia kemudian menceritakan ilustrasi yang disampaikan kepadanya mengenai seseorang yang tetap mematuhi aturan meski tidak ada orang lain yang melihat.
“Dia bilang Pak Luthfi tahu kan di Jepang itu meskipun malam hari dan jalan itu traffic light itu merah, itu mereka gak akan nyeberang Pak Luthfi,” ucap Luthfi.
“Jadi kami tidak akan melakukan kejahatan baik dilihat orang maupun tidak dilihat orang karena matahari menyaksikan kami, jadi dia takut pada matahari, karena matahari menyaksikan dia,” sambungnya.
Luthfi menilai ilustrasi tersebut menggambarkan kepatuhan terhadap hukum tidak semata-mata bergantung pada ada atau tidaknya pengawasan dari aparat.
Menurut dia, kesadaran individu untuk tidak melakukan pelanggaran juga menjadi bagian penting dalam membangun sistem hukum yang efektif.
“Jadi sebenarnya peran dari manusia, the man behind the gun-nya, menjadi hal yang sangat penting,” kata dia.
