Konten dari Pengguna

Merayakan Idul Adha di Inggris: Diaspora Menembus Batas Regulasi dan Tradisi

M Fadli Makarim

M Fadli Makarim

Polisi Militer TNI AD Mahasiswa MSc Criminal Justice and Criminology di University of Leeds UK, US Army Military Police School Alumnus, and UN Peacekeeper Veteran

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari M Fadli Makarim tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Merayakan Idul Adha di Inggris: Diaspora Menembus Batas Regulasi dan Tradisi
zoom-in-whitePerbesar

LEEDS, UK โ€“ Menjalani ibadah Idul Adha di luar negeri selalu menghadirkan cerita tersendiri, terutama bagi para mahasiswa dan diaspora Indonesia yang tergabung dalam Komunitas Islam Britania Raya (KIBAR) Leeds. Tahun ini, Woodsley Road Multicultural Centre menjadi saksi bagaimana esensi ketakwaan dan kebersamaan khas Nusantara tetap menyala kuat, meski harus beradaptasi dengan aturan ketat di Britania Raya.

Bagi warga Indonesia, bayangan Idul Adha identik dengan riuhnya halaman masjid sejak pagi buta, suara takbir yang bersahutan dengan lenguhan sapi atau embikan domba, hingga prosesi penyembelihan tradisional yang disaksikan langsung oleh warga sekitar. Di Inggris, lanskap tersebut berubah total.

Menembus Batas Regulasi Ketat Inggris

Inggris memiliki regulasi yang sangat ketat terkait kesejahteraan hewan (animal welfare) dan keamanan pangan yang diawasi oleh Food Standards Agency (FSA). Di bawah hukum perundang-undangan UK, penyembelihan hewan secara mandiri di pekarangan rumah atau area publik adalah hal yang ilegal. Seluruh proses pengadaan dan penyembelihan wajib dilakukan di Rumah Potong Hewan (RPH) resmi yang memiliki izin khusus keagamaan (Halal/Kosher).

"Tantangannya tentu berbeda dengan di tanah air. Kita tidak bisa menunjuk hewan dan menyembelihnya sendiri di lokasi acara," ujar salah satu perwakilan panitia KIBAR Leeds.

Tahun ini, KIBAR Leeds memfasilitasi ibadah Qurban dari 6 orang shohibul qurban yang menginfakkan domba (lamb). Panitia bekerja sama dengan Butcher di kawasan Kirkstall untuk memastikan seluruh proses pemotongan berjalan legal, higienis, dan memenuhi syarat usia minimum hewan menurut syariat Islam (minimal 6 bulan untuk domba muda).

Sejak Sabtu pagi, Divisi Transportasi bergerak cepat menjemput daging dari butcher untuk dibawa ke Woodsley. Di sana, tim Pemotongan dan Pengemasan segera bekerja taktis melakukan penimbangan dan penataan kantong logistik. Seluruh paket daging qurban ini nantinya didistribusikan secara merata kepada para jemaah dan keluarga diaspora Indonesia yang bermukim di Leeds dan sekitarnya.

Hangatnya Silaturahmi: Dari Aroma Gulai hingga Asap Barbeque

Meskipun proses penyembelihan bergeser ke RPH, esensi "gotong royong" Idul Adha tidak berkurang sedikit pun. Aroma khas gulai yang dimasak bersama dan kepulan asap dari panggangan barbeque (BBQ) di area luar Woodsley segera mencairkan udara dingin kota Leeds.

Sebagian daging dari para shohibul qurban langsung dialokasikan untuk diolah bersama di lokasi. Menu non-qurban pun turut disiapkan oleh divisi konsumsi untuk memastikan seluruh jemaah, mahasiswa, dan anak-anak yang hadir dapat menikmati hidangan dengan sukacita. Momen makan bersama ini menjadi pengobat rindu yang mujarab bagi para perantau yang jauh dari keluarga di kampung halaman.

Ustadz Adam: Jembatan Kultur Bangladesh, UK, dan Jogjakarta

Salah satu daya tarik unik pada perayaan kali ini adalah sesi Hikmah Idul Adha. KIBAR Leeds menghadirkan Ustadz Adam, seorang pemuka agama berdarah Bangladesh-UK. Menariknya, suasana ceramah terasa begitu dekat dan akrab dengan kultur Indonesia. Hal ini bukan tanpa alasan; Ustadz Adam ternyata pernah menetap selama tiga tahun di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Pengalaman emosional dan kedekatan kultural Ustadz Adam dengan Indonesia membuat pesan-pesan moral tentang pengorbanan, keikhlasan, dan persaudaraan lintas bangsa yang disampaikannya terasa sangat kontekstual dan merasuk di hati para jemaah.

Perayaan Idul Adha di Leeds tahun ini membuktikan bahwa batas geografis dan perbedaan regulasi hukum bukanlah penghalang untuk menyempurnakan ibadah. Melalui ketertiban regulasi dan semangat berbagi dari para shohibul qurban, diaspora Indonesia di bawah payung KIBAR Leeds berhasil menunjukkan wajah Islam yang adaptif, taat hukum, namun tetap mempertahankan kehangatan tradisi gotong royong khas Nusantara.