Konten dari Pengguna

Komunikasi Keluarga dan Tantangan Keharmonisan di Era Modern

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
2
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Fadli Ramadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Komunikasi Keluarga dan Tantangan Keharmonisan di Era Modern (Ilustrasi dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Komunikasi Keluarga dan Tantangan Keharmonisan di Era Modern (Ilustrasi dibuat oleh AI)

Di dalam sebuah keluarga, komunikasi sering kali dianggap sebagai hal sederhana. Padahal, dari komunikasi yang baik, banyak persoalan dapat diselesaikan sebelum menjadi masalah yang lebih besar. Sayangnya, di tengah kehidupan modern yang semakin sibuk, tidak sedikit keluarga yang mulai kehilangan waktu untuk benar-benar berbicara satu sama lain.

Fenomena ini sering terlihat dalam kehidupan sehari-hari. Ada orang tua yang sibuk bekerja hingga jarang memiliki waktu bersama anak, pasangan yang tinggal dalam satu rumah tetapi lebih banyak berinteraksi dengan telepon genggam masing-masing, atau anggota keluarga yang memilih diam ketika menghadapi masalah karena merasa tidak didengar.

Keluarga yang awalnya dibangun dengan rasa kasih sayang perlahan dapat menjadi renggang ketika komunikasi tidak lagi berjalan. Padahal, masalah keluarga tidak selalu muncul karena persoalan besar. Terkadang, konflik justru bermula dari hal kecil yang tidak pernah dibicarakan dengan baik.

Ketika seseorang merasa tidak mendapatkan perhatian dari keluarganya, ia dapat mencari tempat lain untuk mendapatkan rasa nyaman. Hal tersebut dapat menimbulkan berbagai persoalan baru, mulai dari hilangnya kepercayaan, konflik antara pasangan, hingga hubungan orang tua dan anak yang semakin jauh.

Dalam perspektif hukum keluarga, membangun keluarga bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan materi. Sebuah keluarga juga membutuhkan hubungan emosional yang sehat agar tujuan perkawinan dapat tercapai. Dalam Islam, tujuan keluarga dikenal dengan konsep sakinah, mawaddah, dan rahmah, yaitu keluarga yang dibangun atas ketenangan, kasih sayang, dan rasa saling peduli.

Allah SWT berfirman dalam Surah Ar-Rum ayat 21:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖٓ اَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ اَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوْٓا اِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَّوَدَّةً وَّرَحْمَةً ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّتَفَكَّرُوْنَ

Artinya:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

(QS. Ar-Rum [30]: 21)

Ayat tersebut menggambarkan bahwa hubungan keluarga seharusnya dibangun dengan ketenangan dan kasih sayang. Artinya, pasangan bukan hanya hidup bersama secara fisik, tetapi juga harus saling memberikan rasa aman dan perhatian.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya sikap baik dalam keluarga. Beliau bersabda:

خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ

Artinya:

“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya.”

(HR. Tirmidzi)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa ukuran kebaikan seseorang juga dapat dilihat dari bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Sikap menghargai, mendengarkan, dan memahami pasangan maupun anak merupakan bagian penting dalam menjaga hubungan keluarga.

Namun, perkembangan zaman membawa tantangan baru. Teknologi yang seharusnya mempermudah komunikasi terkadang justru membuat anggota keluarga semakin jauh. Banyak orang lebih mudah berkomunikasi dengan orang lain melalui media sosial, tetapi sulit berbicara secara terbuka dengan keluarganya sendiri.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian karena keluarga merupakan lingkungan pertama bagi seseorang untuk belajar tentang nilai, sikap, dan hubungan sosial. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi yang sehat biasanya lebih mudah merasa dihargai dan memiliki tempat untuk bercerita.

Sebaliknya, anak yang sering melihat konflik tanpa penyelesaian dapat membawa dampak pada perkembangan emosionalnya. Mereka mungkin menjadi lebih tertutup, sulit percaya kepada orang lain, atau kesulitan mengungkapkan perasaan.

Karena itu, menjaga komunikasi dalam keluarga tidak harus selalu melalui hal besar. Mendengarkan cerita sederhana, menanyakan keadaan, atau meluangkan waktu tanpa gangguan teknologi bisa menjadi langkah kecil yang memiliki dampak besar.

Pada akhirnya, keluarga bukan hanya tentang tinggal bersama dalam satu rumah. Keluarga adalah tempat seseorang merasa diterima dan dihargai. Ketika komunikasi hilang, bukan hanya percakapan yang berhenti, tetapi hubungan antaranggota keluarga juga perlahan dapat kehilangan arah.

Membangun keluarga yang kuat membutuhkan usaha dari semua pihak. Pasangan perlu saling memahami, orang tua perlu hadir bagi anak, dan setiap anggota keluarga perlu belajar untuk terbuka. Karena keluarga yang harmonis bukan keluarga yang tidak memiliki masalah, tetapi keluarga yang mampu menyelesaikan masalah dengan cara yang baik.