Pembangunan Ekonomi: Angka atau Kesejahteraan?

Mahasiswa Universitas Pamulang, prodi pendidikan ekonomi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Fadliatuzzahra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika membahas pembangunan ekonomi, pertumbuhan ekonomi sering menjadi ukuran utama keberhasilan suatu negara. Padahal, pembangunan tidak hanya tentang seberapa tinggi angka ekonomi tumbuh, tetapi juga tentang perubahan yang dirasakan masyarakat. BPS mencatat ekonomi Indonesia pada 2025 tumbuh 5,11 persen, lebih tinggi dibandingkan 2024 yang sebesar 5,03 persen. Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi terus berkembang, tetapi angka tersebut belum sepenuhnya menggambarkan apakah kesejahteraan masyarakat ikut meningkat secara merata.
Salah satu indikator yang dapat dilihat adalah kondisi ketenagakerjaan. Pada Februari 2026, Tingkat Pengangguran Terbuka Indonesia tercatat 4,68 persen dan jumlah penduduk bekerja mencapai 147,67 juta orang. Penurunan pengangguran tentu menjadi perkembangan yang penting, tetapi pembangunan juga perlu melihat kualitas pekerjaan, pendapatan, serta kepastian dan perlindungan bagi pekerja. Sebab, seseorang yang sudah bekerja belum tentu memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Selain pengangguran, kemiskinan dan ketimpangan juga perlu diperhatikan. BPS mencatat persentase penduduk miskin pada September 2025 sebesar 8,25 persen atau sekitar 23,36 juta orang. Di sisi lain, pembangunan manusia juga menjadi bagian penting karena kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh pendapatan. IPM Indonesia pada 2025 mencapai 75,90, yang mencerminkan perkembangan pada aspek kesehatan, pendidikan, dan standar hidup layak. Data tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan pembangunan perlu dilihat dari berbagai sisi, bukan hanya dari pertumbuhan ekonomi.
Pada akhirnya, angka pertumbuhan ekonomi tetap penting sebagai gambaran perkembangan perekonomian, tetapi angka tersebut bukan tujuan akhir pembangunan. Pertumbuhan ekonomi seharusnya mampu membuka kesempatan kerja, mengurangi kemiskinan dan ketimpangan, serta meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Karena itu, pertanyaan dalam menilai pembangunan bukan hanya “berapa besar ekonomi tumbuh?”, tetapi juga “apa yang berubah dalam kehidupan masyarakat?”. Sebab, pembangunan ekonomi akan lebih bermakna ketika pertumbuhan yang tercatat dalam angka benar-benar terasa dalam kehidupan masyarakat.
