Konten dari Pengguna

Budaya di Era Digital: Berubah atau Hilang?

Muhammad Fadly Sugeng Admojo

Muhammad Fadly Sugeng Admojo

Mahasiswa Ilmu Komunikasi di Universitas Pamulang

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fadly Sugeng Admojo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Hubungan antara sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Ilustrasi Dibuat Menggunakan AI
zoom-in-whitePerbesar
Hubungan antara sosial dan budaya dalam kehidupan masyarakat. Ilustrasi Dibuat Menggunakan AI

Perkembangan sosiokultural di era digital menjadi salah satu perubahan paling nyata dalam kehidupan masyarakat modern. Kehadiran internet dan berbagai platform digital telah mengubah cara manusia berkomunikasi, berinteraksi, hingga membentuk pola hidup sehari-hari. Teknologi kini bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia.

Saat ini, hampir semua aktivitas dilakukan dengan bantuan teknologi. Mulai dari berkomunikasi, mencari informasi, belajar, hingga bekerja, semuanya dapat dilakukan hanya melalui genggaman tangan. Kehadiran media sosial seperti Instagram, TikTok, WhatsApp, dan YouTube membuat komunikasi menjadi lebih cepat, praktis, dan tanpa batas ruang serta waktu. Namun, di balik kemudahan tersebut, teknologi juga membawa perubahan besar terhadap kehidupan sosial dan budaya masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat konsep sosiokultural yang mencakup kebiasaan sosial dan nilai budaya, seperti cara berkomunikasi, berinteraksi, menghormati orang lain, serta norma-norma yang diwariskan dari generasi ke generasi. Perkembangan teknologi digital secara perlahan menggeser sebagian nilai dan kebiasaan tersebut.

Jika dibandingkan dengan masa lalu, perubahan ini terlihat sangat jelas. Dahulu, interaksi sosial lebih banyak dilakukan secara langsung. Anak-anak bermain bersama di luar rumah, tetangga saling berkunjung dan berbincang, serta keluarga menghabiskan waktu bersama tanpa gangguan teknologi. Kini, suasana tersebut mulai berubah. Banyak orang lebih fokus pada perangkat digital mereka, bahkan saat sedang berada dalam situasi kebersamaan.

Perubahan ini semakin terasa di kalangan generasi muda. Komunikasi kini lebih sering dilakukan melalui pesan singkat atau media sosial dibandingkan tatap muka. Selain itu, munculnya berbagai istilah baru seperti “healing”, “spill”, “bestie”, hingga singkatan dalam percakapan digital menunjukkan bahwa budaya komunikasi terus berkembang mengikuti tren teknologi.

Di sisi lain, perkembangan teknologi digital juga memberikan dampak positif yang signifikan. Informasi menjadi lebih mudah diakses, komunikasi lintas jarak semakin lancar, dan peluang untuk mengenal budaya lain terbuka lebar. Bahkan, banyak generasi muda yang memanfaatkan platform digital untuk memperkenalkan budaya Indonesia ke dunia internasional, seperti tarian tradisional, kuliner khas, bahasa daerah, hingga adat istiadat.

Contoh kasus yang sering terjadi di era digital adalah ketika banyak remaja lebih memilih berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan berinteraksi langsung dengan keluarga atau lingkungan sekitar. Misalnya, saat berkumpul bersama teman atau keluarga, sebagian orang justru sibuk memainkan ponsel dan membuka TikTok, Instagram, atau WhatsApp sehingga komunikasi tatap muka menjadi berkurang. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa perkembangan teknologi memang memberikan kemudahan dalam berkomunikasi, tetapi juga dapat mengurangi kedekatan sosial jika digunakan secara berlebihan. Oleh karena itu, masyarakat terutama generasi muda perlu lebih bijak dalam menggunakan teknologi agar hubungan sosial, rasa empati, dan nilai sopan santun tetap terjaga di tengah perkembangan era digital.

Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu mengikis budaya, tetapi juga dapat menjadi sarana pelestarian budaya jika digunakan secara bijak. Banyak kreator konten yang berhasil menarik perhatian dunia dengan mengangkat kekayaan budaya lokal melalui media digital.

Namun demikian, perkembangan teknologi juga membawa tantangan tersendiri. Salah satu dampak yang paling terasa adalah berkurangnya interaksi langsung antarindividu. Komunikasi yang seharusnya membangun kedekatan emosional terkadang menjadi dangkal karena lebih sering dilakukan melalui layar.

Selain itu, etika dalam berkomunikasi juga mengalami pergeseran. Tidak sedikit pengguna media sosial yang dengan mudah menyampaikan komentar kasar, menyebarkan ujaran kebencian, atau menyerang orang lain secara verbal. Padahal, dalam budaya Indonesia, nilai sopan santun dan saling menghormati merupakan hal yang sangat dijunjung tinggi. Anonimitas dan jarak dalam dunia digital sering kali membuat seseorang merasa bebas berkata tanpa mempertimbangkan dampaknya.

Oleh karena itu, penting untuk menyadari bahwa teknologi hanyalah alat. Dampak positif atau negatifnya sangat bergantung pada bagaimana manusia menggunakannya. Kemajuan digital seharusnya tidak membuat masyarakat kehilangan nilai-nilai luhur seperti gotong royong, empati, dan rasa hormat terhadap sesama.

Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan antara kemajuan teknologi dan nilai sosiokultural. Pemanfaatan teknologi secara bijak, seperti menyebarkan informasi yang bermanfaat, menjaga etika komunikasi, serta aktif mempromosikan budaya lokal, merupakan langkah nyata dalam menjaga identitas budaya di era digital.

Perkembangan teknologi digital memang tidak bisa dihindari, dan perubahan sosial budaya akan terus berjalan seiring waktu. Namun, yang menjadi kunci bukanlah menolak perubahan, melainkan bagaimana manusia tetap memegang kendali atas teknologi tersebut. Nilai-nilai seperti sopan santun, kepedulian, dan kebersamaan tidak seharusnya luntur hanya karena dunia semakin modern.

Di tengah derasnya arus digital, masyarakat—terutama generasi muda—dituntut untuk lebih bijak dalam menggunakan teknologi. Bukan sekadar menjadi pengguna, tetapi juga menjadi penjaga nilai budaya. Ketika teknologi dimanfaatkan dengan kesadaran dan tanggung jawab, ia tidak akan mengikis budaya, melainkan justru memperkuat identitas sosial yang dimiliki.

Pada akhirnya, era digital bukan tentang kehilangan budaya, tetapi tentang bagaimana budaya beradaptasi dan tetap hidup dalam bentuk yang baru.