Konten dari Pengguna

Mencintai Diri dalam Islam: Antara Self-Care dan Mengikuti Hawa Nafsu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Fahmi Shidiq tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini istilah self-love dan self-care semakin akrab di kalangan anak muda. Di media sosial, kita sering menemukan kalimat seperti, “Jangan lupa mencintai diri sendiri,” “Kamu berhak bahagia,” atau “Sesekali manjakan dirimu.” Tidak sedikit pula yang menganggap membeli sesuatu yang diinginkan, pergi berlibur, menikmati makanan favorit, atau mengambil waktu untuk beristirahat sebagai bentuk mencintai diri sendiri.

Foto penulis, Sumber ( Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Foto penulis, Sumber ( Dokumen Pribadi)

Pada dasarnya, tidak ada yang salah dengan mencintai dan merawat diri. Setiap manusia memang memiliki kebutuhan untuk beristirahat, menjaga kesehatan, mendapatkan ketenangan, dan menikmati kehidupan. Bahkan dalam Islam, manusia diperintahkan untuk menjaga dirinya dan tidak melakukan sesuatu yang dapat membahayakan diri.

Namun, persoalannya adalah ketika self-love mulai dimaknai sebagai kebebasan untuk memenuhi semua keinginan. Ketika belanja berlebihan disebut self-reward, bermalas-malasan disebut healing, dan menolak nasihat dianggap sebagai bentuk mencintai diri sendiri. Pada titik inilah kita perlu bertanya: apakah kita benar-benar sedang merawat diri, atau justru sedang mengikuti hawa nafsu?

Islam mengajarkan keseimbangan. Mencintai diri bukan berarti selalu memberikan apa pun yang kita inginkan. Terkadang, bentuk cinta kepada diri sendiri justru adalah kemampuan untuk mengatakan “tidak” kepada sesuatu yang sebenarnya kita sukai tetapi dapat merugikan diri sendiri.

Allah Swt. berfirman dalam QS. An-Nazi'at ayat 40–41:

وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِۦ وَنَهَى ٱلنَّفْسَ عَنِ ٱلْهَوَىٰ ۝٤٠

فَإِنَّ ٱلْجَنَّةَ هِىَ ٱلْمَأْوَىٰ ۝٤١

Artinya:

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sungguh, surgalah tempat tinggalnya.”

(QS. An-Nazi'at: 40–41)

Ayat tersebut memberikan pesan yang sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Islam tidak melarang manusia memiliki keinginan, menikmati kehidupan, atau memberikan penghargaan kepada dirinya sendiri. Namun, Islam mengajarkan bahwa manusia tidak boleh menjadi budak dari keinginannya sendiri. Ada saatnya keinginan harus dikendalikan ketika sesuatu yang kita inginkan justru membawa mudarat atau menjauhkan kita dari kebaikan.

Ayat tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak melarang manusia memiliki keinginan. Yang diajarkan adalah kemampuan untuk mengendalikan keinginan ketika keinginan tersebut membawa kita kepada sesuatu yang tidak baik.

Begitu pula dengan self-care. Beristirahat ketika lelah tentu bukan sesuatu yang salah. Menenangkan diri setelah menghadapi tekanan juga diperlukan. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا

Artinya :

“Sesungguhnya tubuhmu mempunyai hak yang harus kamu tunaikan.”

(HR. Bukhari, no. 5199)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa menjaga tubuh merupakan bagian dari tanggung jawab seorang Muslim. Akan tetapi, istirahat tidak seharusnya menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban. Healing seharusnya membantu seseorang kembali menjalani kehidupan dengan lebih baik, bukan menjadi alasan untuk terus menghindari tanggung jawab.

Islam juga mengajarkan agar manusia tidak berlebihan dalam menikmati kehidupan. Allah SWT berfirman:

كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya :

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

(QS. Al-A'raf: 31)

Ayat ini sangat relevan dengan budaya self-reward yang berkembang saat ini. Membeli sesuatu sebagai hadiah untuk diri sendiri boleh saja selama sesuai kemampuan dan tidak berlebihan. Namun, jika membeli sesuatu hanya karena ingin mengikuti tren, mendapatkan validasi, atau sekadar memenuhi keinginan sesaat, kita perlu berhenti sejenak dan bertanya: apakah ini benar-benar kebutuhan atau hanya keinginan?

Media sosial juga membuat persoalan ini semakin kompleks. Kita melihat orang lain berlibur, membeli barang baru, menikmati makanan mahal, atau menjalani gaya hidup tertentu. Tanpa sadar, kita membandingkan kehidupan sendiri dengan kehidupan orang lain. Kemudian muncul keinginan untuk melakukan hal yang sama agar merasa tidak tertinggal.

Menurut saya, di sinilah makna self-love dalam Islam perlu dipahami kembali. Mencintai diri bukan sekadar membuat diri bahagia, tetapi juga menjaga diri agar tidak terjerumus pada sesuatu yang merugikan. Mencintai diri berarti menjaga kesehatan, tetapi juga menjaga akhlak. Memenuhi kebutuhan, tetapi tetap mengendalikan keinginan. Menikmati dunia, tetapi tidak melupakan akhirat.

Pada akhirnya, self-love bukan berarti “aku harus mendapatkan semua yang aku inginkan”, tetapi “aku harus memberikan kepada diriku apa yang benar-benar baik untukku”.

Sebab, terkadang bentuk cinta kepada diri sendiri bukanlah memanjakan diri, melainkan berani mengatakan “tidak” kepada hawa nafsu. Karena mencintai diri dalam Islam bukan hanya tentang membuat hidup nyaman hari ini, tetapi juga tentang menjaga diri agar menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah SWT.

Penulis : Muhammad Fahmi Shidiq (Mahasiswa Ekonomi syariah S1)