Konten dari Pengguna

Untuk Timnas: Kami Rindu Piala, Bukan Nestapa

Senja Malam

Senja Malamverified-green

Senja Malam

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Senja Malam tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Untuk Timnas: Kami Rindu Piala, Bukan Nestapa
zoom-in-whitePerbesar

Selangkah demi selangkah, Saudara.

Tak hanya karena rindu piala, tapi demi wibawa sebagai bangsa. Garuda yang lama tak di udara, bersua gajah dan harimau malaya yang lama berkuasa.

Untuk itu semua, tanah air berterima kasih pada pemuda-pemuda yang di antaranya, seorang pria Papua bernama Boaz Solossa. Nasionalisme-nya diragukan karena tak pernah bernyanyi Indonesia Raya, padahal keringat serta gol-golnya adalah cinta bangsa yang lebih nyata.

Ada pula Stefano Lilipaly, bule Belanda berdarah Nusantara. Tak pernah merasa dirinya beda, tapi kiprahnya di lapangan selalu jadi pembeda.

Termasuk di sana, Andik Vermansyah, sang arek Surabaya. Pria kecil yang dulu berjualan es di Stadion 10 November saat Persebaya berlaga. Tangisnya yang pecah saat cedera beriringan dengan kelapangan hati dan doa untuk juara.

Yang tak terlupa, Nusantara berterima kasih kepada mereka, yang terbiasa mengumpat dan mencaci saat kita kalah dalam laga, sementara saat menang sok ikut-ikutan bahagia.

Insya Allah Indonesia bisa. Kalaupun hasilnya beda, tunjukkanlah jiwa sang juara. Kami akan tetap berdiri bangga. Memberikan tepuk tangan setia seraya bersuara: "Yo ayo... ayo Indonesia... ku yakin kita pasti menang" sembari mata berkaca-kaca.