kumplus cover story lipsus faisal irfani 2

Bubur Babi Kecap Asin (3)

Jurnalis. Menulis seputar isu politik, sosial-budaya, serta HAM.
24 September 2021 20:02
·
waktu baca 4 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Stefanie mengingat ibunya sebagai orang yang gemar dan pandai memasak. Nyaris setiap hari, masakan beraneka rupa tersaji di meja makan mereka. Kadang mie keriting lengkap dengan bakso dan udang yang digoreng setengah matang, di lain waktu babi panggang siap disantap bersama nasi hangat dan kecap manis.
Namun, di antara sekian banyak menu, ada satu yang paling dinanti-nanti oleh Stefanie: bubur babi kecap asin. Masakan ini hanya muncul di waktu-waktu istimewa. “Seperti acara tunangan, pernikahan, atau ketika kami lulus SMP dan SMA,” katanya memberi contoh.
Saking istimewanya, kata Stefanie, setiap kali mengingat bubur babi kecap asin buatan ibunya, yang terkenang bukan hanya rasanya, melainkan juga rangkaian proses pembuatannya. Pada pagi-pagi buta, ibu Stefanie sudah berada di pasar untuk berbelanja bahan-bahan baku. Kemudian, sebelum pukul enam pagi, dia masuk dapur dan tak boleh diganggu.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparan+
23 tahun setelah Kekerasan Rasial 1998, banyak orang Tionghoa masih ketakutan, bahkan ketika berada di dalam rumah. Jurnalis pemenang penghargaan Faisal Irfani menuturkan kisah-kisah mereka. Klik artikel di bawah ini untuk membaca selengkapnya.