kumplus cover story lipsus faisal irfani 1

Trauma dalam Rumah (2)

Jurnalis. Menulis seputar isu politik, sosial-budaya, serta HAM.
24 September 2021 20:02
·
waktu baca 11 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Mulanya Roni antusias menyambut saya yang memperkenalkan diri sebagai wartawan. Kami berbasa-basi sebentar. Namun, ketika saya bilang ingin tahu pendapatnya soal Peristiwa 1998, raut wajah pria yang sudah tinggal di Glodok selama lebih dari empat dekade ini berubah.
"Kenapa nyinggung-nyinggung soal itu?!" katanya. Nada suaranya meninggi.
Saya terkejut dan buru-buru minta maaf. Tak ingin menambah ketidaknyamanan, saya pamit undur diri dan menambahkan bahwa seorang perempuan penjual es di kawasan itu memberitahu saya bahwa Roni merupakan saksi hidup tragedi tersebut, dan saya pikir ada hal-hal yang perlu tetapi belum sempat dinyatakannya meski puluhan tahun sudah berlalu.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparanplus
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparanplus
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparanplus
23 tahun setelah Kekerasan Rasial 1998, banyak orang Tionghoa masih ketakutan, bahkan ketika berada di dalam rumah. Jurnalis pemenang penghargaan Faisal Irfani menuturkan kisah-kisah mereka. Klik artikel di bawah ini untuk membaca selengkapnya.
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten
Sedang memuat...0 Konten