Konten dari Pengguna

Ketika Menghilang dari Masyarakat Menjadi Pilihan di Jepang

Faiz Al Ahsan D Zikri

Faiz Al Ahsan D Zikri

Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Sriwijaya. Menulis tentang politik global, isu sosial, dan fenomena masyarakat modern. Percaya bahwa hal kompleks bisa dijelaskan dengan sederhana.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Al Ahsan D Zikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kesepian dan isolasi sosial menjadi salah satu persoalan yang semakin mendapat perhatian di Jepang. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Kesepian dan isolasi sosial menjadi salah satu persoalan yang semakin mendapat perhatian di Jepang. Foto: Unsplash

Di Jepang, ada orang-orang yang memilih mengisolasi diri di rumah selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa bekerja, bersekolah, atau berinteraksi dengan dunia luar. Fenomena ini dikenal dengan istilah hikikomori, yang secara harfiah berarti menarik diri dari kehidupan sosial.

Pemerintah Jepang mendefinisikan hikikomori sebagai kondisi seseorang yang terus mengisolasi diri di rumah selama lebih dari enam bulan tanpa keterlibatan sosial yang berarti. Survei pemerintah Jepang pada 2025 memperkirakan lebih dari 1,5 juta orang mengalami kondisi tersebut. Jumlah itu setara dengan sekitar 1,2 persen populasi Jepang.

Fenomena ini tidak lagi dipandang sebagai kasus individual semata. Dalam beberapa tahun terakhir, hikikomori mulai dilihat sebagai bagian dari persoalan sosial yang lebih luas, mulai dari tekanan budaya, kompetisi pendidikan dan pekerjaan, hingga stigma terhadap kegagalan dan kesehatan mental.

Pertanyaan yang kemudian muncul bukan hanya "Mengapa mereka memilih menghilang dari kehidupan sosial?" melainkan juga "Apa yang membuat mengasingkan diri terasa lebih aman dibandingkan terus menghadapi tuntutan masyarakat modern?"

Ketika Gagal Menjadi Hal yang Paling Ditakuti

Untuk memahami fenomena hikikomori, penting melihat tekanan sosial yang membentuk kehidupan sehari-hari di Jepang. Masyarakat Jepang selama ini dikenal sangat menekankan harmoni sosial, kedisiplinan, dan kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Ilustrasi masyarakat Jepang sedang antre menunggu bus. Foto: Cristi Croitoru/Shutterstock

Nilai-nilai tersebut memang membantu menciptakan keteraturan sosial, tetapi pada saat yang sama juga melahirkan tekanan yang besar untuk selalu memenuhi ekspektasi. Kegagalan dalam pendidikan, pekerjaan, atau kehidupan sosial sering kali tidak dipandang sekadar sebagai kesulitan pribadi, tetapi juga sebagai sumber rasa malu yang dapat memengaruhi hubungan dengan lingkungan sekitar.

Tekanan tersebut juga terlihat dalam budaya kerja Jepang yang memiliki reputasi sangat kompetitif. Jepang bahkan memiliki istilah karoshi, yaitu kematian akibat terlalu banyak bekerja. Pada tahun fiskal 2024, jumlah kasus gangguan kesehatan mental terkait pekerjaan yang diakui pemerintah Jepang mencapai rekor tertinggi dan melampaui seribu kasus untuk pertama kalinya.

Dalam situasi seperti itu, sebagian orang memilih menarik diri sepenuhnya dari kehidupan sosial. Bagi mereka, mengisolasi diri terkadang terasa lebih aman dibandingkan terus menghadapi tekanan yang dianggap terlalu berat secara mental maupun emosional.

Hikikomori Tidak Lagi Hanya Dialami Anak Muda

Selama bertahun-tahun, hikikomori sering dipahami sebagai persoalan remaja atau anak muda yang menolak sekolah dan menghabiskan waktu di kamar tanpa interaksi sosial. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa fenomena ini telah berkembang jauh lebih kompleks.

Survei pemerintah Jepang pada 2025 menunjukkan bahwa kelompok usia 40 hingga 64 tahun justru menjadi kelompok dengan jumlah hikikomori terbesar. Banyak dari mereka telah hidup dalam isolasi sosial selama puluhan tahun, terutama sejak krisis ekonomi Jepang pada era 1990-an yang mempersempit peluang kerja dan meningkatkan ketidakpastian sosial bagi generasi muda saat itu.

Fenomena ini kemudian melahirkan istilah “masalah 8050”, yaitu kondisi ketika orang tua berusia 80-an tahun masih harus merawat anak mereka yang telah berusia 50-an tahun dan belum mampu kembali menjalani kehidupan sosial secara mandiri.

Ilustrasi masyarakat Jepang. Foto: Richard A. Brooks/AFP

Situasi tersebut membuat hikikomori tidak lagi dipandang hanya sebagai persoalan individu atau generasi muda. Dalam banyak kasus, ia telah berkembang menjadi persoalan sosial lintas generasi yang berkaitan dengan penuaan penduduk, ketergantungan keluarga, dan lemahnya dukungan sosial jangka panjang.

Stigma Membuat Banyak Orang Memilih Diam

Salah satu tantangan terbesar dalam menangani hikikomori adalah stigma terhadap kesehatan mental yang masih kuat di Jepang. Mengakui bahwa seseorang mengalami tekanan psikologis atau kesulitan sosial sering kali dianggap memalukan, baik bagi individu maupun keluarganya.

Akibatnya, banyak orang memilih menyembunyikan kondisi tersebut daripada mencari bantuan profesional. Sebuah kajian oleh Japan Association of Mental Health menunjukkan bahwa sebagian besar individu dengan masalah kesehatan mental di Jepang enggan mencari pertolongan karena takut dinilai negatif oleh lingkungan sosial.

Dalam situasi seperti itu, keluarga yang memiliki anggota hikikomori juga sering memilih untuk diam. Bukan semata-mata karena tidak peduli, melainkan juga karena khawatir terhadap stigma sosial yang dapat muncul jika kondisi tersebut diketahui orang lain.

Kondisi ini membuat banyak kasus hikikomori tidak terdeteksi selama bertahun-tahun. Mereka yang membutuhkan bantuan justru semakin terisolasi karena lingkungan sekitar tidak memiliki ruang yang cukup aman untuk membicarakan persoalan kesehatan mental secara terbuka.

Upaya Pemerintah Jepang dan Tantangan yang Masih Tersisa

Ilustrasi bendera Jepang. Foto: Issei Kato/REUTERS

Pemerintah Jepang dalam beberapa tahun terakhir mulai mengakui hikikomori sebagai persoalan sosial yang memerlukan penanganan lebih serius. Berbagai kebijakan dan program mulai dibentuk untuk membantu individu yang mengalami isolasi sosial berkepanjangan.

Pada 2021, Jepang menunjuk menteri khusus untuk menangani kesepian dan isolasi sosial. Kemudian pada 2024, pemerintah mengesahkan undang-undang yang mengakui kesepian dan isolasi sosial sebagai isu nasional serta mendorong pemerintah daerah menyediakan layanan dukungan yang lebih luas.

Sejumlah pusat konsultasi dan layanan pendampingan juga mulai dibentuk untuk membantu individu hikikomori kembali berinteraksi dengan masyarakat. Selain itu, pemerintah dan organisasi sosial menjalankan kampanye publik untuk mengurangi stigma terhadap kesehatan mental dan isolasi sosial.

Meski demikian, banyak pengamat menilai bahwa perubahan kebijakan saja belum cukup. Selama budaya perfeksionisme, tekanan sosial, dan stigma terhadap kegagalan masih kuat, sebagian orang akan tetap merasa bahwa mengasingkan diri adalah pilihan yang lebih aman.

Dalam konteks itu, hikikomori bukan hanya persoalan individu yang menutup diri dari masyarakat, melainkan juga cerminan dari tekanan sosial modern yang membuat sebagian orang merasa semakin sulit dalam menemukan ruang yang aman dalam kehidupannya sendiri.