Konten dari Pengguna

Labubu Mulai Mendingin, Tapi Perang Lawan Lafufu Belum Selesai

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Faiz Al Ahsan D Zikri tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi boneka plush. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi boneka plush. Foto: Unsplash

Kalau kamu pernah lihat tas atau ransel orang bergelantungan boneka kecil bergigi tajam dan telinga lancip, itu Labubu. Boneka yang awalnya cuma karakter ilustrasi buatan seniman kelahiran Hong Kong, Kasing Lung, ini sempat nangkring di tas Rihanna, Dua Lipa, sampai Lisa Blackpink, dan jadi rebutan di banyak negara.

Setahun kemudian, ceritanya berubah. Laporan semester pertama 2026 yang diumumkan Pop Mart pada 20 Agustus menunjukkan pendapatan seri The Monsters, rumah bagi Labubu, justru turun. Tapi tiruan Labubu yang dijuluki Lafufu belum ikut menghilang.

Dari Ilustrasi Kecil Jadi Mesin Uang Raksasa

Labubu lahir pada 2015. Pop Mart, perusahaan mainan asal China, mulai memproduksinya sebagai mainan lewat kontrak dengan Kasing Lung pada 2019, dalam format "blind box", yaitu kotak tertutup yang isinya baru diketahui setelah dibuka. Strategi inilah yang bikin orang rela membeli berkali-kali demi melengkapi koleksi.

Ledakan globalnya baru terjadi bertahun-tahun kemudian. Pendapatan seri The Monsters pada semester pertama 2024 baru sekitar 627 juta yuan, lalu melonjak menjadi 4,81 miliar yuan setahun berikutnya. Pada semester pertama 2025, pendapatan Pop Mart naik 204 persen menjadi 13,88 miliar yuan, dan laba bersihnya naik hampir 400 persen. Patung Labubu setinggi 131 cm bahkan laku sekitar 150 ribu dolar AS dalam lelang di Beijing pada Juni 2025.

Ketika Hype Mulai Mendingin

Pada semester pertama 2026, pendapatan Pop Mart masih naik 23,8 persen menjadi 17,17 miliar yuan. Tapi di dalamnya, pendapatan seri The Monsters turun menjadi 4,45 miliar yuan, dan porsinya terhadap total pendapatan menyusut dari 34,7 persen menjadi 26 persen. Pendapatan di Asia Pasifik di luar China turun 9,7 persen, dan di Amerika turun 16,5 persen. Manajemen sendiri menilai target pertumbuhan pendapatan 20 persen untuk 2026 sulit dicapai.

Ketika yang Asli Susah Dicari, yang Palsu Mengisi Celah

Di masa puncaknya, permintaan jauh melampaui pasokan. Pop Mart sempat menghentikan penjualan Labubu di semua tokonya di London pada Mei 2025 setelah muncul laporan pembeli berkelahi memperebutkan boneka itu. Celah inilah yang diisi tiruan yang dijuluki Lafufu, dari kata "fufu" yang dalam slang Mandarin berarti palsu. Lafufu sering dijual jauh di bawah harga asli, bahkan menurut CNN hanya sekitar sepersepuluhnya.

Di Indonesia, selisih harga serupa terlihat jelas di marketplace. Per awal Oktober 2026, pencarian "labubu" di Shopee menampilkan blind box dan gantungan tas bertajuk Labubu yang dibanderol mulai Rp17.000 hingga sekitar Rp38 ribu. Sebagai pembanding, satu kotak blind box seri Exciting Macaron dijual resmi seharga US$27,99 di Amerika Serikat, sekitar Rp500 ribu dengan kurs sekarang. Penjual-penjual itu tidak menyebut barangnya tiruan, dan keasliannya tidak bisa dipastikan dari tampilan pencarian, tapi selisih harganya cukup mencolok untuk membuat pembeli bertanya.

Skala peredaran tiruan secara global jauh lebih besar. Pop Mart menyebut bea cukai di berbagai negara menyita hampir 8 juta produk tiruan sepanjang Januari hingga pertengahan Agustus 2025, termasuk 1,83 juta yang dicegat bea cukai China sebelum diekspor. Pop Mart juga mengajukan pendaftaran merek dagang "Lafufu" sebagai langkah defensif.

Bahayanya bukan cuma soal keaslian. Pada Agustus 2025, otoritas keamanan produk konsumen Amerika Serikat (CPSC) memperingatkan bahwa Labubu palsu mudah pecah dan bagian kecilnya bisa membuat anak tersedak. "Boneka Labubu palsu ini berbahaya, ilegal, dan tidak punya tempat di rumah warga Amerika," kata Pelaksana Tugas Ketua CPSC, Peter A. Feldman.

Bukan Cuma Soal Boneka, Tapi Soal Siapa yang Untung

Fenomena Labubu dan Lafufu ini cermin kecil dari persoalan yang jauh lebih besar dalam perdagangan global: bagaimana kesuksesan satu produk budaya memicu industri bayangan yang menumpang popularitasnya tanpa membayar hak kekayaan intelektual sepeser pun. Pola ini sama dengan yang sering kita lihat di produk fesyen atau elektronik bermerek.

Perlawanannya juga belum berhenti, bahkan ketika hype-nya mereda. Pop Mart menggugat jaringan 7-Eleven di Amerika Serikat pada 2025 karena dugaan menjual Labubu palsu, dan pada awal Oktober 2026 dilaporkan pengadilan Belanda melarang seorang pemasok terus menjual boneka Labubu palsu ke jaringan supermarket setempat karena melanggar merek dagang Pop Mart.

Jadi lain kali kamu lihat ada yang pamer boneka Labubu di tasnya, mungkin pertanyaan iseng yang layak ditanyakan bukan cuma "itu asli bukan", tapi juga "setelah hype-nya mereda, siapa yang masih menanggung ongkos dari barang tirunya".